Pengkotbah

Kotbahkan Kotbah Alkitabiah!

2. Menyiapkan Khotbah Alkitabiah

Jangan pernah berkhotbah tanpa persiapan! Pengkhotbah yang tidak melakukan persiapan menghasilkan khotbah setengah matang dan menghasilkan jemaat yang setengah hidup.
Ada tiga persiapan yang harus dilakukan pengkhotbah sebelum berkhotbah, yakni:
-    menyiapkan pengkhotbah
-    menyiapkan alat-alat
-    menyiapkan khotbah

Menyiapkan pengkhotbah

Sebelum menyiapkan khotbah, pengkhotbah hendaknya menyiapkan dirinya terlebih dulu. Memahami khotbah Alkitabiah, seperti diuraikan sebelumnya, merupakan bagian persiapan yang tak boleh dilewatkan. Tetapi ada persiapan khusus yang tak boleh diabaikan.
Ketekunan berdoa.
Pengkhotbah haruslah seorang yang senantiasa hidup dalam doa. Secara khusus seorang pengkhotbah harus tetap bersikap doa dalam seluruh rangkaian persiapan khotbah.
Rasul Petrus telah mengkhususkan dirinya untuk pelayanan doa dan firman Tuhan  (Kis.6:4). Rasul Paulus juga seorang pendoa (Kol.1:9).
Pengkhotbah, semua yang melayani dalam pemberitaan Firman, juga memerlukan dukungan doa dari jemaat dan rekan-rekan kerjanya.
Ef.6:18-20 – Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
Kis.4:39, 41 – Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu… Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
Doa meningkatkan kepekaan kita terhadap kehendak Roh Kudus yang berkarya dalam hidup kita. Roh Kudus yang membuat para murid berkhotbah dengan berani. Roh Kudus juga yang membuat keberhasilan pemberitaan Firman. Dari sisi ini dipenuhi Roh Kudus berarti memperoleh keberanian luar biasa dalam memberitakan Injil.
Tekad untuk belajar
Pengkhotbah harus memiliki tekad mempelajari Firman Tuhan dengan bersungguh-sungguh. Ingat Ezra! (Ezr.7:10). Ingat Paulus! (2Tim.4:13). Petrus juga belajar, ia membaca tulisan Paulus (2Ptr.3:15-16).
Pengkhotbah tidak boleh berhenti belajar selama mempersiapkan khotbah. Dalam proses mempersiapkan khotbah itulah Roh Kudus mengajar pengkhotbah. Hal ini penting karena pengkhotbah cenderung untuk menafsirkan nas yang hendak dikhotbahkannya menurut kehendaknya sendiri. Sedangkan menurut rasul Petrus Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Ptr.1:20-21).
Dalam proses ini pengkhotbah harus meningkatkan kepekaannya terhadap pimpinan dan pengajaran Roh Kudus. “…yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh.14:26).
Ia juga harus memiliki kesiapan untuk diubah pengertiannya sendiri, diganti pengertian yang diberikan oleh-Nya.

Menyiapkan peralatan

Peralatan yang  kita perukan untuk berkhotbah sebenarnya Alkitab saja. Kita berkhotbah dari Alkitab, bukan sumber lain.
Prinsipnya kita harus bersungguh-sungguh merenungkan Firman Tuhan dengan kerendahan hati dan mengandalkan pimpinan Roh Kudus. Tetapi kita harus mengakui bahwa ada hal-hal yang sukar dipahami dari Alkitab. Rasul Petrus sendiri mengakui hal ini. Perhatikan ia berbicara tentang surat-surat rasul Paulus dalam 2Ptr.3:16 – Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
Maka untuk membantu kita memahami Alkitab kita memerlukan alat bantu. Inilah alat-alat yang dimaksud:
-    Alkitab lebih dari satu versi terjemahan: Terjemahan Lama, Terjemahan Baru, Bahasa Indonesia Sehari-hari, Bahasa Daerah, Bahasa Inggeris.
-    Konkordansi Alkitab.
Untuk melihat penggunaan kata-kata yang sama dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab.
-    Kamus Alkitab.
Untuk melihat kata-kata yang tidak kita ketahui artinya, misalnya: burung nazar, narwastu, firdaus, talenta, orang Filistin… Di halaman belakang Alkitab kita terdapat kamus ringkas. Cukup membantu, tetapi kita perlu memiliki yang lebih lengkap.
-    Atlas Alkitab.
Untuk melihat letak dan jarak tempat-tempat yang disebut dalam Alkitab.
-    Kamus istilah teologi.
Untuk melihat kata-kata atau istilah-istilah teologi seperti kelahiran baru, adopsi, pembenaran dan sebagainya.
-    Buku Tafsiran.
Ada Alkitab yang dilengkapi dengan survei dan garis besar kitab-kitab serta penafsiran secukupnya.
Ada buku tafsiran lengkap dari Kejadian sampai Wahyu.
Ada buku tafsiran satu kitab saja, misalnya Tafsiran Kitab Matius.
Panggilan berkhotbah akan membuat kita berani menyisihkan dana untuk membeli buku-buku yang berguna demi memperluas pemahaman Alkitab dan meningkatkan kemampuan menyampaikan firman Tuhan.
Selain itu kita juga perlu menyiapkan alat tulis: kertas dan pena. Kita perlu mencatat semua yang kita pelajari. (Ingat: kita pelupa!) Ide-ide yang muncul saat mempelajari firman Tuhan harus kita catat. Kita juga perlu menulis bagan atau skema khotbah.

Menyiapkan khotbah

Sebelum menyiapkan khotbah kita harus memeriksa dahulu definisi kerjanya. Yang dimaksud definisi kerja adalah batasan yang terdiri dari urutan tahap-tahap yang harus kita lakukan.
Definisi kerja khotbah Alkitabiah:
Memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya, menyusun bagannya, menghayatinya dan menyampaikannya kepada jemaat.
Dari definisi tersebut dapat dikerjakan bagian-bagian dari khotbah Alkitabiah seperti berikut:
-    Memilih nas
-    Menggali arti dari dalamnya
-    Menemukan temanya
-    Menyusun garis besarnya
-    Menghayatinya
-    Menyampaikannya kepada jemaat
Memilih nas sampai dengan menyusun bagan khotbah kita pelajari pada bab ini, sedangkan menghayati dan menyampaikannya, pada bab berikutnya.
Mari kita mempelajari tahap-tahapnya.

MEMILIH NAS

Memilih nas adalah pekerjaan awal dari menyiapkan khotbah. Banyak pengkhotbah yang merasakan kesulitan dalam hal ini, baik pemula maupun mereka yang telah berpengalaman berkhotbah bertahun-tahun. Tetapi jika kita setiap hari bergaul dengan Alkitab, kesulitan tersebut pasti segera dapat diatasi.
Bagaimana memilih nas?
Memilih kitab
Memilih nas khotbah bisa kita lakukan dengan memilih kitab dan mengkhotbahkan bagian-bagiannya secara berseri.
Berkhotbah dengan cara ini akan membuat kita memiliki pemahaman yang dalam terhadap suatu kitab dan tentu saja akan membuat kita memiliki pemahaman Alkitab secara luas dan dalam. Kita menjadi penuh percaya diri karena sudah menguasai atau mempelajari khotbah dengan baik. Dan jemaat pun akan menjadi terpelajar atau memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci.
Dengan memilih kitab dan mengkhotbahkannya secara berseri, kita pun terhindar dari kecenderungan mengarahkan khotbah pada seseorang atau sekelompok orang dan melindungi diri kita dari akibatnya jika kita berkhotbah seperti itu.
Bersaat teduh.
Ketika bersaat teduh kita dapat menemukan nas yang akan kita khotbahkan. Kita biasanya bersaat teduh dengan membaca bagian Alkitab berurutan atau membaca buku renungan harian. Pengkhotbah haruslah seorang yang membiasakan diri dengan bersaat teduh.
Pembacaan Alkitab harian berurutan akan memperluas pemahaman kita tentang firman Tuhan secara menyeluruh. Dengan membaca Alkitab secara berurutan kita akan menikmati berkat firman-Nya tiap hari. Pada hari-hari tertentu kita akan menikmati berkat yang luar biasa yang membangkitkan gejolak dalam hati kita untuk membagikannya kepada orang lain.
Buku renungan dapat menolong kita untuk menemukan nas yang akan kita khotbahkan. Beberapa orang tertentu menyampaikan renungan dengan memegang buku renungan harian dan membacakannya. Meskipun kita sangat diberkati dengan renungan harian tersebut sebaiknya kita mendalami lagi ayat atau nasnya agar kita dapat menyampaikannya sebagai hasil kebersamaan kita dengan Tuhan secara pribadi.
Memperhatikan kebutuhan jemaat.
Jika kita seorang gembala jemaat atau pengerja gereja Roh Kudus akan memimpin kita menemukan nas yang akan kita khotbahkan sementara kita memperhatikan kebutuhan orang-orang yang kita layani. Tetapi kita harus memahami bahwa kebutuhan mereka tidak selalu bersifat jasmani atau materi. Kebutuhan terpenting manusia adalah kerohaniannya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat.6:33).
Berapa panjang nas?
-    Bisa 1 (satu) ayat (Ezr.7:10; Yoh.3:16; 1Kor.15:58).
-    Bisa 1 (satu) bagian dari paragrap (Ef.4:11-16)
-    Bisa 1 (satu) paragrap (Ibr.4:12-13).
-    Bisa 1 (satu) perikop (Kis.3:1-10; Rm.5:1-11)
-    Bisa 1 (satu) pasal (Yoh.6; 21)
-    Bisa 1 (satu) kitab (Filemon, 2-3 Yohanes, Yudas)
Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan memilih nas:
Nas harus merupakan satu gagasan utuh, bukan sepotong. Hati-hati jika kita memilih nas yang berakhir dengan koma. Jika nas terdiri dari lebih dari satu gagasan, sebaiknya kita penggal.
Nas harus merupakan informasi penting. Semua bagian Alkitab penting, tetapi ada yang sangat penting untuk kita sampaikan pada waktu dan kondisi tertentu.
Nas merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak. Alkitab adalah jawaban bagi semua kebutuhan umat manusia, tetapi ada ayat-ayat yang sangat mendesak untuk disampaikan sebagai jawaban atas pergumulan jemaat.
Nas terjangkau oleh kemampuan kita menafsirkannya.
Terakhir, kita memilih nas dengan memperhatikan ketersediaan waktu kita untuk menyelidikinya.

MENGGALI ARTI DARI DALAM NAS

Berkhotbah berarti memahami melalui mempelajari nas dan menjelaskannya kepada pendengar. Tidak mungkin kita menjelaskan kebenaran Alkitab tanpa mempelajari sebelumnya.
Jika kita tidak mempelajarinya, apa yang dapat kita sampaikan?

Tiga tahap mempelajari nas
Mengamati:    berurusan dengan semua rincian yang dapat dilihat dalam nas
Mencari:    mempelajari nas dengan mengajukan  pertanyaan-pertanyaan pada bagian-bagian rinci dari nas dan menyimpulkannya.
Menerapkan:     membuat penerapan

1.    Mengamati Bagian-bagian Rinci Nas
Mengamati nas adalah memperhatikan informasi yang Allah taruh dalam nas Alkitab. Semua bagian nas adalah penting karena kita percaya sepenuhnya pengilhaman Alkitab.
Allah telah memilih kata-kata untuk ditulisnya pada Kitab Suci, jadi kita perlu mempelajarinya.

Mengamati kata-kata
Pada tahap ini kita mencatat kata-kata kunci dari nas. Penting mengamati kata-kata karena menentukan isi nas dan mempengaruhi arti atau makna secara keseluruhan.
Kata-kata yang harus diamati:
-    Kata-kata panjang atau ungkapan
-    Kata-kata istimewa
-    Kata-kata yang diulang
-    Kata-kata yang pengkhotbah sendiri kurang mengerti artinya
Contoh: Rm.5:1-11
Kata-kata panjang atau ungkapan:
dibenarkan karena iman;
hidup dalam damai sejahtera;
bermegah dalam pengharapan;
masih lemah;
pasti akan diselamatkan.
Kata-kata istimewa:
dibenarkan,
bermegah,
ketekunan,
tahan uji,
pengharapan,
dicurahkan.
Kata-kata yang diulang:
dibenarkan (ay 1,9),
kasih karunia (ay 2, 2x),
bermegah (ay 2,3,11),
pengharapan (ay 2,4,5)
Ungkapan yang diulang:
pasti akan diselamatkan (ayat 9 dan 10).
Dan bukan hanya itu saja (ayat 3); Dan bukan hanya itu saja! (ayat 11). Perhatikan: pada ayat 3 tanpa tanda seru, tapi pada ayat 11 dengan tanda seru. Ada maksud tertentu dari penulis surat itu!

Mengamati hubungan-hubungan
Kata- kata berhubungan satu dengan yang lain. Ayat-ayat berhubungan satu dengan yang lain. Demikian juga paragrap dan perikop, saling berhubungan satu dengan yang lain. Jenis hubungan tentu saja berbeda-beda. Kita harus memperhatikan semuanya dengan teliti.
Beberapa jenis hubungan yang perlu diamati:
Hubungan tata bahasa
Apakah kegiatan atau peristiwa berlangsung pada masa lalu (telah, sudah, yang lalu).
Rm.5:5 – Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Yoh.5:24 – Aku berkata kepadamu: Sesunguhnya barangsiapa mendengar perkaaan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Apakah kegiatan berlangsung pada masa kini (sedang, kini).
Rm.5:10 – Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan…
Apakah kegiatan berlangsung pada masa akan datang (akan, kelak).
Rm.5:10 – …pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Ef.2:7 – supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah
Hubungan logis
Sebab-akibat: karena
Rm.5:9 – Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
1Yoh.4:19 – Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Kita sanggup mengasihi Allah dan sesama sebagai akibat kasih-Nya yang telah kita terima.
Alasan: karena itu
Kol.3:1 – Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Kis.26:19 – Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat.
Hasil: menimbulkan, menerima
Rm.5:3-4 – Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Rm.5:11 – Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima  pendamaian itu.
Kontras: tetapi
Rm.5:7-8 – Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. – Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Ef.2:4 – Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan…
Ef.2:8 – Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.
Perbandingan: lebih besar
Yoh.15:14 – Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya.
1Yoh.4:4 – Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
Persyaratan: jikalau; jika … maka
Why.3:20 – Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
2Taw.7:14 – …dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
Tujuan: supaya, untuk
Ef.1:6 – supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
Ef.2:7 – Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah…
Ef.4:12 – Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.
Hubungan kronologis atau geografis
Kronologis berhubungan dengan perpindahan waktu.
Geografis berhubungan dengan perpindahan tempat.
Kis.3:7-10 – Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu  berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
Yoh.4:4 –  Ia harus melintasi daerah Samaria.
Hubungan psikologis
Hubungan yang lembut antara gembala dan domba (Mzm.23; Yoh.10). Memahami perasaan gembala terhadap dombanya membantu kita memahami perasaan gembala rohani terhadap jemaat.
Hubungan kontekstual
Konteks paragrap atau pasal.
Unit dasar dari mempelajari Alkitab bukanlah ayat atau kalimat, tetapi paragrap. Kita tidak bisa mempelajari kata terlepas dari kalimatnya, kalimat terlepas dari ayatnya, dan ayat terlepas dari paragrapnya. Kita tidak dapat mempelajari paragrap tanpa mempelajari perikop atau pasalnya.
Konteks kitab.
Mempelajari nas harus mempelajari kitab di mana nas tersebut tercantum.
Setiap kitab dalam Alkitab ditulis oleh pengarang yang cerdas di bawah pimpinan Roh Kudus. Mengetahui latar belakang kitab menolong kita untuk dapat memahami lebih benar tentang nas yang akan kita khotbahkan.
Mengetahui keseluruhan kitab menolong kita bergumul serius dari apa yang pengarang maksudkan dengan tulisannya. Memahami maksud pengarang adalah sasaran dari semua penafsiran.
Mempelajari kitab berarti mencari tahu tahun berapa ditulisnya, siapa pengarangnya, kepada siapa dialamatkan, apa latarbelakangnya, apa tujuan penulis, prinsip-prinsip kebenaran apa yang dikemukakannya dan sebagainya. Untuk memperoleh semua keterangan yang dimaksud pengkhotbah perlu membuka buku survey kitab-kitab Alkitab.
Konteks Perjanjian.
Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Nas kita terletak di mana? Hal ini penting kita perhatikan, karena Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki bukan pertentangan, tapi perbedaan-perbedaan tertentu.
Konteks Alkitab.
Keseluruhan Alkitab adalah sebuah kisah besar. Yakni pandangan Allah mengenai sejarah (history) sejarah-Nya (His Story).
Asal mula manusia dan alam semesta, tindakan Allah dalam memilih orang-orang dalam Perjanjian Lama, kedatangan pertama Kristus, penyataan rahasia bahwa seluruh bangsa dapat menjadi ahli waris yang sama pada keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, serta kejadian-kejadian akhir dari dunia kita berputar seputar Yesus Kristus sebagai Penebus atau Juruselamat umat manusia. Isi seluruh Alkitab adalah penciptaan bumi sampai penciptaan bumi baru.
Pengkhotbah harus mengerti posisi nas dalam Alkitab, agar dapat memahami hubungannya dengan Alkitab sebagai keseluruhan. Misalkan kita mengadakan perjalanan dari Denpasar ke Jakarta melalui jalur darat. Peta yang kita pegang akan menunjukkan antara lain jarak Denpasar-Jakarta; kota-kota apa saja yang akan kita lalui dan mungkin makanan favorit apa yang terdapat di kota-kota tersebut. Andaikan kita sudah tiba di Probolinggo, melalui peta kita akan mengetahui sudah sejauh mana perjalanan dan masih berapa sisa jarak yang harus ditempuh.
Konteks historis.
Alkitab adalah catatan sejarah Kristus yang dinyatakan dalam umat-Nya Israel dan Gereja. Kita harus memahami konteks sejarah dari nas yang akan kita khotbahkan. Harus kita pelajari dan perhatikan apakah nas terletak di zaman Musa, zaman Yosua, zaman Hakim-hakim, zaman Raja-raja, zaman pembuangan, zaman pemulangan, zaman pelayanan Tuhan Yesus, zaman pelayanan para rasul dan seterusnya…
Misalnya kita memilih nas dari kitab Daniel. Kita harus tahu pada zaman apa Daniel hidup, bagaimana kisah hidupnya, apa saja yang dikerjakannya, bagaimana Allah memakai dia untuk kemuliaan nama-Nya…
Hubungan Gaya Sastra
Apakah nas berbentuk cerita, puisi, hikmat, nubuatan, perumpamaan, surat atau pewahyuan?
Pendekatan penafsiran kita pada nas akan dipengaruhi oleh gaya tulisan. Sebagai contoh, kita melihat nas yang ditulis dalam gaya narasi berbeda dari yang kita lihat dari sebuah surat.
Peringatan penting dalam hal ini adalah kita tidak dapat mencomot bagian nas yang berbentuk narasi apalagi perumpamaan dan mengkhotbahkannya terlepas dari keseluruhan kisahnya.
Mengamati dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Kita dapat mengamati nas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kata bantu tanya yang dapat diajukan adalah Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Mengapa dan Bagaimana.
“Apa” mencari jawaban mengenai benda (pedang, roti), peristiwa (kehabisan anggur, dirampok habis-habisan) dan definisi atau pengertian (kebenaran, pembenaran, dibenarkan).
“Siapa” mencari jawaban mengenai nama orang (Yudas, Petrus), atau pribadi (Raja, Roh Kudus, penguasa kerajaan angkasa, malaikat, Iblis, roh jahat).
“Dimana” mencari jawaban mengenai tempat baik secara geografis (Betlehem, Bait Allah), anatomis (kepala, pundak, punggung) atau rohani (surga, neraka, kegelapan).
“Kapan” mencari jawaban mengenai waktu (pagi, malam, yang lalu, kini, yang akan datang).
“Mengapa” mencari jawaban mengenai alasan, sebab-akibat dan lain-lain. Mengapa Petrus menyangkal Yesus? Mengapa Paulus menangkap dan membunuh orang Kristen? Mengapa Paulus menjadi pelayan yang bekerja keras? Mengapa orang tidak percaya dihukum? Mengapa ia bersukacita? Mengapa Allah murka terhadap Israel?
“Bagaimana” mencari jawaban tentang suatu proses. Bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir? Bagaimana orang berdosa diselamatkan? Bagaimana Tuhan memberi makan lima ribu orang? Bagaimana Tuhan menyembuhkan orang buta? Bagaimana Roh Kudus membimbing umat-Nya?
Mari kita menerapkannya pada Kis.3:1-10.
Apa yang terjadi? Petrus dan Yohanes ke Bait Allah (ayat 1). Orang lumpuh meminta-minta sedekah (ayat 2). Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu (ayat 6-7). Orang lumpuh itu berdiri, berjalan kian kemari dan melompat-lompat sambil memuji Allah (ayat 7-9).
Apa yang diminta pengemis itu? Sedekah! (ayat 2-3).
Apa yang diperolehnya? Kesembuhan! (ayat 6-8).
Apa yang terjadi setelah orang lumpuh disembuhkan? Ia melonjak, berjalan, melompat-lompat serta memuji Allah (ayat 8). Seluruh rakyat melihat, takjub dan tercengang (ayat 9-10)
Siapa tokoh-tokoh dalam kisah ini? Petrus, Yohanes, orang lumpuh, para pengusung orang lumpuh, orang banyak.
Siapa tokoh utamanya? Yesus! (ayat 6).
Dimana peristiwanya terjadi? Di Bait Allah, di pintu Gerbang Indah (ayat 1-2).
Kapan terjadi? Pukul tiga petang (ayat 1). Jawaban yang berkaitan dengan konteks: Setelah pencurahan Roh Kudus dan pertobatan tiga ribu jiwa melalui khotbah Petrus (pasal 2).
Mengapa orang lumpuh diusung?
Mengapa orang lumpuh meminta sedekah?
Mengapa Petrus ke Bait Allah?
Mengapa Petrus tidak memberi uang kepada pengemis itu?
Mengapa Petrus menyembuhkan?
Mengapa orang lumpuh itu bisa sembuh?
Mengapa orang banyak tercengang?
Bagaimana Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu? “Demi nama Yesus Kristus…” (ayat 6). Ia memegang tangan dan membantu orang itu berdiri (ayat 7).
Bagaimana proses penyembuhan itu terjadi? Lumpuh – dipegang tangannya – dibantu berdiri – kuat kaki dan mata kakinya – melonjak berdiri – berjalan kian kemari – mengikuti ke dalam Bait Allah – melompat-melompat – memuji Allah.
Bagaimana sikap orang terhadap peristiwa itu?
Bagaimana Petrus menyikapi peristiwa itu?
Lebih banyak pertanyaan dapat diajukan sesuai dengan kejelian kita dalam mengamati. Sebanyak-banyaknya pertanyaan dapat kita kemukanan. Jawaban-jawaban juga bisa lebih rinci diberikan sesuai ketelitian pengamatan kita.

2. Menafsirkan atau Mencari Arti
Langkah berikut setelah mengamati adalah menafsirkan. Menafsirkan berarti mencari atau menemukan arti dari nas. Di sini kita tiba pada kerja keras penafsiran yang sebenarnya.
Penafsiran natural atau literal adalah penafsir mencari arti. Pada dasarnya, bagian paling penting menafsirkan teks adalah memahami artinya, menemukan prinsip atau kebenarannya.
Dalam melakukan pekerjaan ini kita harus berhati-hati bahwa kita tidak akan memanipulasi atau menguasainya.
Perhatikan adanya tiga bahaya dalam penafsiran:
-    Misinterpretasi – memberi arti salah pada nas
-    Subinterpretasi – kegagalan mengetahui dengan pasti arti sepenuhnya dari nas
-    Superinterpretasi – menambahkan arti pada nas lebih dari yang sebenarnya
Kita juga harus berhati-hati dalam menafsirkan nas dengan mengajukan tes kejujuran dalam penafsiran: Tidakkah kita menafsirkan berdasar prasangka terhadap nas?
Seringkali pengkhotbah sudah memiliki pemahaman tertentu dan memilih nas untuk mendukung pemahamannya tersebut. Sikap seperti ini keliru! Yang benar adalah pengkhotbah meletakkan pemikirannya di bawah otoritas Alkitab dengan menguji pemahamannya untuk diteguhkan atau dikoreksi oleh firman Tuhan.
Ingat 2Ptr.1:20-21, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.
Kita harus bersikap rendah hati dalam menafsirkan. Penafsiran kita tidak sempurna, maka kita harus terbuka pada kemungkinan perubahan. Ketika kita mempelajari nas, Roh Kudus meneguhkan kebenaran yang telah kita miliki atau mengajarkan kebenaran-kebenaran baru.
Dari hasil pengamatan yang telah kita lakukan kita memperoleh banyak informasi. Kini kita mempelajarinya untuk memperoleh kebenaran-kebenaran Alkitabiah dari nas yang kita pelajari.
Mari perhatikan lagi Kis.3:1-10. Inilah kebenaran-kebenaran yang dapat kita temukan:
-    Orang yang tak berdaya mengandalkan bantuan orang lain untuk hidupnya.
-    Emas dan perak, harta benda atau uang tidak dapat mengubah hidup seseorang
-    Hamba Tuhan harus mengarahkan pengharapan orang yang menderita kepada Kristus.
-    Nama Kristus berkuasa membarui hidup manusia.
-    Kristus mengubah hidup dari tak berdaya menjadi berdaya.
-    Kristus mengubah orang untuk memuji nama-Nya.
-    Karya Kristus mengakibatkan orang-orang di sekitar orang yang diperbarui melihat dan kagum atas kuasa-Nya.
-    Orang yang telah diperbarui hidupnya akan membuat banyak orang berkumpul di sekitarnya.
-    Orang yang telah dibarui hidupnya menjadi kesaksian bagi banyak orang lain.
Menetapkan penerapan
Sebelum menunjukkan pada jemaat bagaimana menyatukan kebenaran Alkitab ke dalam hidup mereka, pertama kita harus dan mau menerapkan firman Allah dalam hidup kita.
Pada tahap ini kita berpikir apa yang Alkitab katakan kepada saya, pengkhotbah. Pada tahap berikutnya kita berpikir apa yang dikatakan Allah pada jemaat yang kita layani berdasarkan pada arti nas Alkitab.
Penerapan bisa berorientasi pada isi, berhubungan dengan apa yang pendengar harus percayai atau hargai.
Atau bisa berorientasi pada perilaku, berhubungan dengan apa yang mereka harus lakukan atau taati.
Sering dua orientasi ini bercampur, karena orang akan melakukan yang mereka hargai.
Kita tidak boleh membuat penerapan yang semberono, artinya tidak sesuai dengan nas, karena akan membuat sia-sia khotbah kita. Maka, untuk dapat membuat penerapan yang layak kita harus mengajukan pertanyaan keras berikut:
Apa jenis penerapan yang harus digambarkan dari nas? Isi, tindakan, atau tindakan berdasarkan isi?
Benarkan penerapan kita berdasar pada nas? Adakah ia mempunyai kebenaran yang berasal dari nas?
Apakah akan meyakinkan pendengar bahwa ini penerapan dari nas?
Bagaimana kita dapat yakin bahwa jemaat akan mengerti penerapan nas? Kita tidak dapat merasa pasti bawa mereka menangkap penerapan itu. Penerapan tidak otomatis. Sesungguhnya, orang tidak senang menerapkan kebenaran bagi diri sendiri. Orang lebih senang menerapkan kebenaran pada orang lain.
Untuk menetapkan penerapan kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
-    Apakah ada perintah untuk ditaati?
-    Apakah ada janji untuk dimiliki?
-    Apakah ada bahaya untuk dijadikan peringatan?
-    Apakah ada kebenaran yang perlu direnungkan?
-    Apakah ada kebenaran yang perlu dibagikan?
-    Apakah ada dorongan untuk masa depan?
-    Apakah ada dosa yang perlu diakui di hadapan Tuhan?
-    Apakah ada doa atau ucapan syukur kepada Tuhan?
-    Apakah ada teladan hidup untuk diikuti?
-    Apakah ada kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan?
Mari mencari penerapan dari Kis.3:1-10
-    Perintah untuk ditaati:
Beritakan Kristus!
Nyatakan kuasanya dengan memberdayakan orang-orang tak berdaya. Bantu mereka agar mandiri.
-    Janji untuk dimiliki:
Pembaruan hidup melalui kuasa Nama Yesus.
-    Kebenaran yang perlu direnungkan:
Apakah pola pikirku sudah diperbarui? Dari memikirkan perkara-perkara lahiriah pada memikirkan perkara-perkara rohani.
Apakah perilakuku sudah diubahkan?
Apakah tutur kataku memuliakan Tuhan?
Apakah hidupku menjadi kesaksian?
-    Doa atau ucapan syukur:
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memperbarui hidupku.
-    Teladan hidup yang harus diikuti:
Dari rasul Petrus: memberi perhatian dan menolong orang demi nama Yesus Kristus.
Dari orang lumpuh yang disembuhkan: memuliakan Tuhan melalui perilaku, tutur kata dan hidup kita.
-    Kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan: orang yang telah diperbarui hidupnya harus menjadi kesaksian.

MENEMUKAN TEMA

Kesimpulan atau hasil akhir dari pengamatan dan pencarian arti dari nas disimpulkan dalam sebuah kalimat tema. Artinya, tema keluar dari nas. Tema disarikan dari ayat-ayat nas.
Alkitab memiliki tema besar, yakni “Sejarah penyelamatan dalam Yesus Kristus.” Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mempunyai tema tersendiri, tapi tetap searah dengan tema Alkitab. Tiap-tiap kitab memiliki tema khas sesuai dengan pimpinan Roh Kudus yang diberikan kepada penulis kitab. Tiap-tiap pasal, perikop atau paragrap, memiliki temanya masing-masing, tetapi masih berhubungan dengan tema sentral Alkitab. Demikian pula nas yang kita pilih memiliki tema yang telah diilhamkan. Jadi, mari kita temukan tema dengan menggali sedalam-dalamnya nas yang kita akan khotbahkan.
Menemukan tema merupakan pekerjaan sangat sulit, tetapi banyak berkat rohani diperoleh melaluinya. Pengkhotbah harus melewati proses ini.
Tema adalah gagasan utama dari nas yang tersusun dalam sebuah kalimat lengkap.
Tema terdiri dari pokok (topik atau subjek) ditambah pelengkap (penekanan).
Setelah mempelajari nas dengan mengajukan banyak pertanyaan, kini kita akan menemukan tema dengan mengajukan dua pertanyaan yang akan membantu kita menentukan tema.
Pokok menjawab pertanyaan:
Apa yang dibicarakan dalam nas.
Atau, nas berbicara tentang apa?
Pelengkap menjawab pertanyaan:
Apa yang dikatakan tentang pokok dalam nas.
Mari melihat tema: Kis.3:1-10
Nas ini berbicara tentang apa?
Pembaruan oleh Nama Yesus Kristus
Pembaruan dalam hal apa?
Dalam pola pikir (ay 1-6)
Dalam perilaku (ay 7-8)
Dalam tutur kata (ay 8-9, memuji Allah)
Dalam kesaksian (ay 9-10)
Rumusan tema:
Nama Yesus Kristus berkuasa memperbarui hidup kita dalam pola pikir, perilaku, tutur kata dan kesaksian.

Mari kita perhatikan lagi: Rm.5:1-11
Nas ini berbicara tentang apa?
Bermegah di dalam kasih karunia.
Atau: Di dalam kasih karunia kita bermegah.
Kita dapat bermegah dalam hal apa?
Dalam pengharapan (ay 2)
Dalam kesengsaraan (ay 3)
Dalam Allah oleh Yesus Kristus (ay 11)
Rumusan tema:
Di dalam kasih karunia kita dapat bermegah dalam pengharapan, dalam kesengsaraan dan dalam Allah oleh Yesus Kristus.

MENYUSUN BAGAN KHOTBAH

Bagan, struktur atau skema adalah rancangan susunan khotbah yang dibuat untuk menjadi penuntun khotbah kita.
Menyusun bagan khotbah merupakan bagian penting dalam menyiapkan khotbah.
Alkitab telah ditulis Allah dengan struktur atau garis besar yang indah. Tiap-tiap kitab memiliki struktur yang menakjubkan. Bagan khotbah dapat kita temukan dalam nas yang akan kita khotbahkan. Tidak perlu kita mereka-rekanya.
Bagan khotbah harus keluar dari nas, bukan dari pikiran atau kehendak pengkhotbah. Isi khotbah haruslah serasi dengan tema nas. Sesungguhnya, tema yang sudah digali dari nas yang menuntun pengkhotbah menyusun bagan khotbahnya.
Bagan khotbah seharusnya menunjukkan ciri-ciri berikut:
Kesatuan.
Seluruh rangkaian khotbah merupakan satu kesatuan yang kait-mengait. Khotbah terdiri dari sebuah ide atau gagasan besar yang dijelaskan sepanjang khotbah.
Keteraturan.
Bagian-bagian khotbah harus berhubungan secara teratur dengan keseluruhan khotbah. Ini menolong kita agar dapat menyampaikan khotbah secara teratur dan jelas. Cara ini menghindarkan kita dari berbicara berputar-putar.
Keterukuran.
Tiap-tiap bagian khotbah harus memiliki ukuran panjang yang serasi.
Kemajuan.
Atau perkembangan. Menunjukkan agaimana setiap bagian bergerak maju, sehingga khotbah mencapai puncaknya tanpa lompatan-lompatan yang membingungkan pendengar.
Unsur-unsur dalam Bagan Khotbah
Unsur-unsur penting yang harus terdapat dalam bagan khotbah, yang tak boleh diabaikan, adalah sebagai berikut:

1.    Judul

Khotbah memerlukan judul.
Judul khotbah akan muncul atau disebut beberapa kali dalam khotbah.
Jika kita sudah bekerja keras menemukan tema, kita dapat mempergunakan bagian tema sebagai judul.
Judul harus menjadi sebuah “iklan” dengan dampak memperoleh perhatian pendengar.
Judul adalah identitas khotbah.
Judul adalah intisari khotbah. Ia harus mewakili seluruh isi khotbah. Ia adalah mahkota khotbah.
Ia menarik karena unik, akurat, jelas dan pendek. Ia harus menarik perhatian pendengar agar terarah kepada khotbah. Unik artinya khas, berbeda dengan yang lain, tetapi tidak perlu nyentrik atau nyeleneh. Akurat artinya benar-benar mewakili isi khotbah. Jelas artinya terdiri satu gagasan sederhana.
2.    Nas
Nas yang akan kita khotbahkan diambil dari satu bagian Alkitab dan harus ditulis secara jelas. Nas khotbah tidak terdiri dari ayat-ayat yang terpencar-pencar.
Mungkin kita memerlukan ayat-ayat lain, tetapi itu akan kita gunakan sebagai referensi.
3.    Tema
Tema adalah intisari khotbah dalam satu kalimat lengkap. Tema khotbah ditentukan setelah mengadakan penelitian terhadap nas.
Pendengar tidak akan mengingat semua khotbah kita, tetapi mereka harus mengingat temanya. Jika mereka tidak dapat mengingat temanya, maka kita gagal berkhotbah.
Tema khotbah ibarat sekrup yang harus diulirkan beberapa kali putaran supaya menancap lebih dalam. Tema harus diungkapkan beberapa kali, dalam pendahuluan, garis-garis besar, kesimpulan dan mungkin penerapan.

4.    Pendahuluan

Pendahuluan menentukan keefektifan khotbah. Jika kita tidak memperoleh hasrat pendengar (dalam beberapa menit awal) sebagai sandaran khotbah, mereka mungkin segera tertidur.
Pendahuluan harus menarik perhatian pendengar. Mereka sudah tertarik pada khotbah melalui penyampaian judul, kini mereka semakin tertarik melalui mendengar pendahuluan khotbah.
Pendahuluan harus membangkitkan kebutuhan pendengar. Melalui pendahuluannya pengkhotbah membuat pendengar merasakan kebutuhan akan firman Tuhan yang dikhotbahkan. Ketika pendahuluan disampaikan mereka akan berkata dalam hatinya: “Aku perlu mendengar khotbah ini! Aku perlu mengerti kebenaran yang disampaikan!”
Pendahuluan memperkenalkan tema. Pendahuluan berfungsi untuk mengarahkan pendengar pada tema. Dalam pendahuluan tema dikemukakan sehingga pendengar mengetahui arah khotbah.
Dalam pendahuluan kita mengumumkan nas dan latar belakangnya.
Pendahuluan juga menyatakan tujuan khotbah. Pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan atas pendengar.
5.    Tujuan

Tujuan ditentukan oleh tema yang telah ditemukan dari nas.
Tujuan juga harus sesuai dengan isi khotbah.
Tujuan ditempatkan di bagian akhir pendahuluan. Disampaikan kepada jemaat agar mereka mengetahui sasaran apa yang hendak dicapai oleh pengkhotbah.
Dari sisi akal budi pengkhotbah memiliki tujuan agar jemaat memahami kebenaran yang dikhotbahkan.
Dari sisi kehendak pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan agar jemaat menghendaki untuk hidup dalam kebenaran yang disampaikan.
Dari sisi tindakan pengkhotbah berharap agar jemaat menerapkan kebenaran yang diterimanya.

6.    Isi/ Tubuh

Isi khotbah terdiri dari dua atau lebih bagian atau garis besar. Banyaknya garis besar ditentukan oleh nas. Bagian-bagian ini ditentukan oleh penekanan-penekanan pada kalimat tema. (Bukan kita yang menentukannya!).

ISI GARIS BESAR KHOTBAH:

KALIMAT TRANSISI: Kalimat transisi menghubungkan tema dengan tubuh khotbah, atau menghubungkan garis besar sebelumnya dengan sesudahnya, atau menghubungkan garis besar dengan kesimpulan.
PERNYATAAN KEBENARAN: Garis besar merupakan pernyatan kebenaran dalam sebuah kalimat lengkap.
BAGIAN NAS yang dijelaskan. Garis besar harus mencantunkan bagian nas yang dijelaskan.
PENJELASAN:
Bisa berupa definisi kata seperti “kebenaran,” “pembenaran,” “dosa” dan sebagainya.
Bisa berupa keterangan suatu proses seperti penyangkalan Petrus atau pertobatan Paulus.
REFERENSI (jika memerlukan peneguhan ayat-ayat lain).
ILUSTRASI
Pengaruh khotbah selalu berhubungan dengan ilustrasi di dalamnya. Komunikasi yang baik mempergunakan banyak ilustrasi yang efektif. Ilustrasi membawa pendengar dari yang diketahui (ilustrasi tersebut) pada yang tak diketahui (kebenaran Alkitab).
Nilai ilusrasi
Adalah salah menggunakan ilustrasi dengan tujuan memperpanjang khotbah. Ilustrasi dipergunakan untuk menambah kejelasan, bukan menambah panjangnya.
Ilustrasi membuat halnya dapat dimengerti. Ilustrasi dipergunakan untuk menolong pendengar memahami isi atau materi atau bagian khotbah yang diilustrasikan.
Ketika menemukan ilustrasi yang kuat kita kadang-kadang tergoda untuk membuat khotbah cocok dengannya. Khotbah kemudian diarahkan pada ilustrasi, dan pendengar akhirnya mengingat ilustrasinya ketimbang gagasan yang sebenarnya mau diperjelas dengan ilustrasi tersebut.
Kita tidak boleh mengkhotbahkan ilustrasi. Ilustrasi harus digunakan pada tempat yang tepat, waktu yang tepat serta alasan yang tepat.
Keuntungan mempergunakan ilustrasi
Menghindarkan kesalahmengertian. Ilustrasi menerangi. Ia menambah terang pada konsep dan arah khotbah. Ia menolong pendengar mengerti dan menolong pengkhotbah menjelaskan khotbahnya. Ilustrasi menolong rincian khotbah dalam pikiran pendengar.
Menghindarkan kesalahan dan kekacauan. Tugas kita adalah untuk meringankan apa yang terasa berat dari khotbah kita dengan mengilustrasikan semua rincian yang memerlukan ilustrasi. Ilustrasi kita dapat membangkitkan dan memelihara atau mempertahankan ketertarikan hadirin selama khotbah.
Menghindarkan kelalaian. Ilustrasi juga membangkitkan imaginasi ketika pendengar menghubungkan kebenaran dengan apa yang telah diketahuinya. Dalam cara seperti ini mereka tetap mendengar khotbah dalam pikiran mereka, bahkan sesudah khotbah berakhir.
Menghindarkan kedataran isi dan argumen. Kita harus kreatif. Kita harus berkhotbah dengan cara yang menarik. Kita harus menaburi khotbah dengan berbagai ilustrasi. Ini diperlukan dalam memperluas gaya berbicara.
Menghindarkan kelesuan. Sering dalam penerapan kita menggunakan ilustrasi untuk menantang orang agar bertindak. Ilustrasi dalam penerapan atau pada kesimpulan benar-benar mempertunjukkan khotbah yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata, sehingga jemaat tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak mentaati.
Menemukan ilustrasi
Menemukan ilustrasi yang tepat merupakan bagian dari pembimbingan Roh Kudus atas pengkhotbah sementara menyiapkan khotbah. Kita harus mencari dan mendoakannya.
Hanya ada satu jalan untuk memperoleh ilustrasi. Kita harus mengamati kehidupan. Amati, amati dan amati! Maka, kita akan menemukan ilustrasi-ilustrasi yang cocok untuk khotbah kita.
Sumber ilustrasi
Kehidupan pribadi kita merupakan ilustrasi yang baik, dan sering menjadi yang terbaik, sebab kita mengenalnya dengan baik. Tapi jangan berlagak menjadi pahlawan!
Kita dapat mengilustrasikan dari pengalaman seseorang – jemaat, tokoh Alkitab, tokoh sejarah atau kesusasteraan. Hati-hatilah agar tidak membeberkan keburukan orang.
Pikirkan seluruh khotbah dan bertanyalah dimana ilustrasi diperlukan.
Ilustrasi apa yang dibutuhkan untuk menambahkan penjelasan pada bagian tertentu?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melihat dan menerima kebenaran yang kita kemukakan?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melatih implikasi dan aplikasi dari kebenarannya?

7.    Kesimpulan

Kesimpulan melengkapi khotbah. Kesimpulan menyatukan berbagai hal, mengungkapkan kembali tema, mengatasi keraguan atau kebingungan, dan menantang pendengar untuk mentaati.
Kesimpulan berisi penerapan.
Kesimpulan adalah kesempatan terakhir untuk mengulirkan sekrup, menancapkan firman Tuhan ke pikiran dan hati jemaat.
Kesimpulan adalah puncak khotbah, maka ia mendaki menuju klimaks. Pengkhotbah mengulang atau menyatakan kembali tema untuk memfokuskan kembali pikiran pendengar pada kehendak Allah bagi mereka.
Dalam kesimpulan, pendengar kini mendengar pernyataan-pernyataan pendek tapi penuh makna mengenai seluruh kebenaran yang disampaikan oleh pengkhotbah.
Juga melalui kesimpulan pendengar merasakan bahwa tujuan yang dinyatakan dalam pendahuluan akan menjadi kebenaran yang dapat diterapkan.
Kesimpulan yang salah
Kesimpulan yang salah adalah yang tidak mendorong atau tidak bersemangat. Inilah cara untuk menghindarinya:
-    Jangan berhenti begitu saja.
-    Jangan menutup Alkitab sebelum khotbah berakhir. Jangan berkata “akhirnya,” tetapi masih berbicara panjang lebar.
-    Jangan memberi kesimpulan ganda. Kelihatannya mau mendarat tetapi naik lagi. Kelihatannya mau selesai, ternyata nyambung lagi.
-    Jangan menyampaikan gagasan baru.
-    Jangan menyampaikan kesimpulan lebih panjang dari khotbah.
-    Jangan menyampaikan kesimpulan sebelum tiba pada kesimpulan.
-    Jangan lemah, bersemangatlah! Kesimpulan bukanlah bagian tidak penting dari khotbah. Jika kesimpulan nampak tidak penting, pendengar tidak akan memberi perhatian.
Kesimpulan yang tepat
Beberapa gagasan cara membuat kesimpulan yang cerdas:
-    Pernyataan yang jelas dari tema dengan ringkasan garis-garis besar.
-    Pengertian ditenun dengan komitmen pribadi untuk menerapkan menjadi kesimpulan yang efektif.
-    Sebuah kalimat yang meneguhkan kebenaran. Ungkapan tema dalam kata-kata lain akan menjadi kesimpulan yang sangat bagus.
-    Suatu cerita yang mengilustrasikan tema (atau garis besar akhir) akan dapat digunakan untuk mendorong kemauan pendengar.

8.    Penerapan

Berkhotbah bukan hanya memindahkan informasi. Berkhotbah mentransfer informasi yang mentransformasi manusia. Apa yang kita khotbahkan haruslah mengubah hidup. Itu harus menantang jemaat untuk menerapkan kebenaran Alkitab dalam hidup mereka. Tanggung jawab pengkhotbah adalah melukiskan tidak hanya prinsip-prinsip untuk diterapkan tetapi juga petunjuk-petunjuk untuk menerapkannya.
Penerapan harus dipikirkan dengan serius. Jangan biarkan jemaat memahami kebenaran tanpa tantangan untuk menerapkannya. Penjelasan Alkitabiah tanpa penerapan menghasilkan kerohanian kosong. Tidak ada faedahnya menjadi akurat secara akademis jika kebenarannya tidak ditransformasikan pada hadirin. Penerapannya adalah jika kita menggerakkan pendengar dari menerima kebenaran kepada dorongan yang kuat untuk menerapkan kebenaran Allah.
Penerapan haruslah khusus dan kongkret. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa Tuhan menghendaki jemaat menjadi kudus. Kita harus mengkomunikasikan apa arti menjadi kudus. Kita harus memberi contoh spesifik dari kekudusan yang akan menjadi relevan pada situasi masa kini.
Penerapan dipergunakan untuk menantang pendengar agar berkomitmen menaati Firman Tuhan.
Menempatkan penerapan.
Kita harus membuat penerapan dalam khotbah. Kita dapat menempatkannya kapan dan dimana kita memerlukan. Penerapan tidak boleh menjadi sekadar “tambahan” pada khotbah. Ia harus diberi tempat dan waktu yang semestinya.
Membangun penerapan.
Pada akhir khotbah pendengar harus mempunyai jawaban atas tiga pertanyaan penting:
Tentang apa pengkhotbah berbicara?
Lalu, apa yang harus saya lakukan atau perbuat?
Sekarang, apa yang akan saya lakukan?

Kesimpulan Bab Ini
Sebelum menyiapkan khotbah pengkhotbah harus mempersiapkan dirinya terlebih dulu dengan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dalam sikap doa dan komitmen untuk diajar oleh Roh Kudus selama proses menyiapkan khotbahnya.
Pengkhotbah juga harus menyiapkan peralatan seperti Alkitab dalam beberapa versi terjemahan, konkordansi, kamus Alkitab, kamus teologi, atlas Alkitab dan buku-buku tafsiran.
Menyiapkan khotbah berarti memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya, menyusun bagannya, menghayatinya dan menyampaikannya kepada pendengar.
Memilih nas bisa dilakukan melalui saat teduh. Juga bisa dilakukan dengan memilih kitab untuk dikhotbahkan secara berseri dan memperhatikan kebutuhan jemaat. Menggali arti dari dalam nas adalah mengamati atau mempelajari dengan melihat hubungan-hubungan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menafsirkan artinya dan menetapkan penerapan darinya.
Menemukan tema adalah menyarikan (memadatkan) nas menjadi sebuah kalimat tema. Tema harus muncul dari nas dan bukan dari pengkhotbah. Setelah tema ditemukan bagan khotbah dapat disusun.

Penerapan Bab Ini
Mari bersungguh-sungguh menyiapkan khotbah kita dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam sikap doa dan komitmen untuk bersedia diajar oleh Roh Kudus.
Milikilah peralatan yang diperlukan untuk menyiapkan khotbah, sisihkanlah dana untuk membelinya.
Pilihlah nas yang terdiri dari ayat-ayat yang berdekatan, atau dalam satu paragrap atau perikop. Amatilah dengan sebaik-baiknya dan temukanlah kebenaran dari dalamnya.
Jangan malas untuk menemukan kalimat tema, karena itu proses yang paling penting dalam menyiapkan khotbah.
Susunlah bagan berdasarkan tema dan hasil penelitian terhadap nas. Jangan lupa memperlengkapinya dengan ilustrasi, kesimpulan dan penerapan.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.