Pengkotbah

Kotbahkan Kotbah Alkitabiah!

1. Memahami Khotbah Alkitabiah

Banyak khotbah telah disampaikan dari mimbar, tetapi seberapa banyak yang benar-benar Alkitabiah?
Banyak pengajaran tentang Yesus Kristus telah diberikan, tetapi apakah benar-benar pengajaran seperti yang diberitakan Alkitab?
Sebagai pengkhotbah pertama-tama kita harus memahami arti khotbah, tepatnya artinya yang Alkitabiah.
Mengapa harus khotbah Alkitabiah, memangnya ada khotbah yang tidak Alkitabiah?
Menurut beberapa pengajar dan penulis buku tentang khotbah terdapat cara berkhotbah yang harus kita hindari karena tidak Alkitabiah. Khotbah yang tidak Alkitabiah antara lain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
-    Menggunakan sedikit firman Tuhan. Ayat(-ayat) hanya dipakai sebagai pendahuluan dan kemudian pengkhotbah berbicara “ngalor-ngidul.”
-    Menyampaikan pendapat dan filsafat manusia. Bicara “ini-itu,” lalu mengutip ayat(-ayat) untuk membenarkan pendapatnya.
-    Menyampaikan ilustrasi, kemudian garis besar khotbah disesuaikan dengan jalan cerita ilustrasi tersebut.
-    Menyampaikan kesaksian tentang dirinya sendiri. Menjadikan dirinya sebagai pusat pemberitaan.
-    Mempromosikan pandangan dunia tentang sukses yang diukur dengan angka, ukuran dan penampilan.
-    Menyajikan Injil Kristus yang tidak akurat dan komplit.
-    Menyarankan solusi tidak Alkitabiah.
-    Memanipulasi tanggapan pendengar melalui daya tarik, kecakapan dan kepandaian berbicara.
-    Kurang menekankan pertobatan dan kelahiran baru, hanya menekankan penyesalan dan perbaikan karakter.
-    Kurang menekankan anugerah dan lebih menekankan usaha-usaha manusia dalam memperoleh keselamatan dan keharusan mempertahankannya.
Untuk dapat menghindarkan diri dari khotbah yang tidak Alkitabiah pengkhotbah harus memahami pengertian khotbah Alkitabiah.
Sebelum pengkhotbah menyiapkan khotbahnya tentu saja ia harus menyiapkan dirinya terlebih dulu dengan memahami hal-hal yang berhubungan dengan khotbah Alkitabiah, supaya ia tahu dengan pasti apa yang harus dilakukannya.

Mengapa harus berkhotbah?

Kita harus melakukan pekerjaan kita dengan dasar atau alasan yang kuat dan jelas, yaitu alasan yang diberikan oleh Alkitab. Berikut ini alasan-alasan mengapa kita harus berkhotbah.
Karena kita diperintahkan untuk berkhotbah
Alasan pertama kita berkhotbah karena Tuhan memerintahkannya kepada kita.
2Tim.4:2 – Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakan apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Allah memberi perintah kepada kita seperti Paulus memberi tugas  kepada Timotius: “Jadilah bentara Raja, sampaikan segala sesuatu yang telah, sedang dan akan diperbuat-Nya bagi rakyat-Nya. Lakukan itu apa pun keadaannya. Lakukan apa pun tanggapan mereka. Lakukan apa pun resikonya.”
Berkhotbah adalah sebuah amanah, tugas yang sangat besar. Alangkah ajaibnya dan tentu saja membuat kita rendah hati dan berlimpah dengan syukur menyadari bahwa Allah memilih debu tanah seperti kita untuk membawa kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya.
Khotbah adalah bagian penting dari ibadah, bahkan yang terpenting, karena melaluinya Allah berbicara kepada umat-Nya. Jantung ibadah atau inti penyembahan Kristiani adalah khotbah. Tak ada yang dapat disebut ibadah tanpa pemberitaan Firman.
Karena manusia berdosa perlu mendengar firman Kristus
Rm.10:17 – Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Karena semua orang telah berdosa dan perlu keselamatan dan keselamatan hanya dapat diperoleh melalui beriman kepada Tuhan Yesus. Dan untuk dapat beriman mereka harus mendengar firman Kristus.
Rm.10:13-14 – Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Inilah logika iman yang terkandung dari ayat-ayat di atas: untuk dapat diselamatkan harus berseru, untuk dapat berseru harus percaya, untuk dapat percaya harus mendengar, untuk dapat mendengar harus ada yang memberitakan.
Kalau kita balik urutannya menjadi: Saya mendengar Injil – saya percaya kepada Kristus – saya berseru kepada-Nya – saya diselamatkan oleh anugerah-Nya – saya memberitakan Injil supaya orang lain mendengar! Lalu mereka percaya, diselamatkan dan kemudian memberitakan Injil…! Demikian seterusnya!
Untuk itulah kita dipanggil, untuk memberitakan Injil-Nya! Untuk berkhotbah!
Karena perlu untuk memperlengkapi orang-orang kudus.
1Ptr.2:2 – Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
Berkhotbah adalah menyampaikan firman Allah sebagai makanan rohani jemaat agar mereka bertumbuh sesuai kehendak-Nya.
Pengkhotbah harus benar-benar memperhatikan bahwa yang disampaikannya adalah firman Allah, bukan kata-kata atau pikirannya sendiri. Setiap gembala mempunyai tanggung jawab mengkhotbahkan isi Alkitab. Artinya, ia harus menggali, meneliti dan menikmati kebenaran Alkitab untuk pertumbuhan rohani dirinya sendiri terlebih dulu, baru menyampaikannya kepada jemaat.
Setiap gembala harus benar-benar memperhatikan menu rohani yang akan dia sajikan demi kesehatan dan pertumbuhan rohani jemaat yang dilayaninya.
Mat. 28:19-20 – Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Penginjilan bertujuan untuk memperkenalkan Kristus sebagai Juruselamat. Mereka yang mendengar dan menanggapi Injil dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus disebut murid-murid Tuhan. Mereka harus terus belajar agar semakin memahami kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang diyakininya itu.
Tujuan pengajaran atau khotbah Alktabiah bukan melulu menyampaikan informasi tentang firman Tuhan, tetapi agar jemaat melakukan segala perintah-Nya. Tujuan pengajaran Alkitabiah berhubungan dengan penggenapan Amanat Agung agar semua bangsa menjadi murid Kristus.
Penginjilan memanggil orang berdosa untuk bertobat. Pemuridan membentuk orang percaya menjadi murid Tuhan, yakni orang percaya yang rela diajar, yang bertumbuh imannya dan berkomitmen mengabdikan hidup untuk melayani-Nya.
Ef.4:11-12 – Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.
Arti berkhotbah adalah menyampaikan firman Tuhan agar jemaat bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan melayani sesuai karunia yang diterimanya dari Dia.
Tanpa khotbah atau pengajaran jemaat tidak mungkin bertumbuh. Untuk dapat bertumbuh mereka harus mengenali karunia mereka masing-masing dan mengembangkannya dalam pelayanan. Tujuannya agar melalui pengembangan karunia-karunia yang dimilikinya mereka secara pribadi bertumbuh dan berdampak pada pertumbuhan jemaat.
Pengkhotbah harus menyadari perannya untuk memperlengkapi dan mengembangkan jemaat sesuai karunia masing-masing.

Mengapa harus khotbah Alkitabiah?

Jantung dari penyembahan atau ibadah Alkitabiah adalah khotbah Alkitabiah. Jika khotbahnya tidak Alktabiah, maka ibadahnya pun tidak Alktabiah.
Mengapa khotbah Alkitabiah perlu? Karena jemaat perlu mendengar dan diajar dengan Injil murni, bukan injil yang lain. Inilah keprihatinan Paulus terhadap jemaat di Galatia yang mulai terpengaruh oleh khotbah tidak Alkitabiah:
Gal.1:6-9 – Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
Injil adalah berita keselamatan melalui anugerah Kristus. Menerima Injil berarti menerima keselamatan, memperoleh pembenaran dan pendamaian, berdasarkan anugerah dan bukan berdasarkan perbuatan. Injil lain yang dimaksud Paulus dalam ayat-ayat ini adalah pengajaran yang disampaikan oleh guru-guru Yahudi yang mengajarkan keselamatan melalui perbuatan, yang menambahkan kebenaran Kristus dengan keharusan melakukan hukum Taurat.
Orang-orang dari jemaat di Galatia telah mulai berpaling kepada injil lain itu dan Paulus merasakan dukacita luar biasa dan menganggap perlu untuk mengembalikan mereka kepada kebenaran Kristus. Bagi Paulus penganjur injil lain itu adalah orang-orang yang terkutuk dan pantas dimurkai Tuhan.
Seorang pengkhotbah harus benar-benar memahami berita yang disampaikannya. Berkhotbah secara Alkitabiah adalah menyampaikan Injil Kristus dan bukan injil lain. Injil lain itu mengajarkan bahwa keselamatan diterima melalui anugerah dan perbuatan. Sedangkan Injil murni memberitakan keselamatan melalui anugerah semata.
Berkhotbah secara Alkitabiah, menyampaikan Injil sejati, tidak berarti mengabaikan “perbuatan.” Sebab, Injil berarti pembaruan, termasuk pembaruan pola pikir (Rm.12:2, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna). Juga pembaruan karakter (Gal.5:22-23, Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu). Dan secara lebih luas, pembaruan gaya hidup (1Kor.6:20, Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu).
Kebenarannya di sini adalah “perbuatan” tidak menjadi syarat untuk memperoleh keselamatan, karena keselamatan diterima melalui anugerah, tetapi sebagai buah atau akibat dari keselamatan.

Apa arti khotbah Alkitabiah?

Khotbah Alkitabiah adalah Yesus Kristus sendiri sebagai Pengkhotbah berbicara melalui pengkhotbah.
2Kor.4:5 – Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu.
Berkhotbah adalah memberitakan Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja. Berkhotbah secara Alkitabiah adalah menawarkan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus.
Khotbah Alkitabiah adalah khotbah tentang Kristus; tentang Dia dan panggilan-Nya kepada orang-orang berdosa agar berpaling pada-Nya untuk memperoleh kesalamatan dari-Nya. Berkhotbah yang Alkitabiah adalah menyampaikan Injil untuk memanggil orang berdosa agar datang dan menyerahkan hidup kepada-Nya.
Berkhotbah secara Alkitabiah berarti memberitakan Kristus. Memproklamirkan Dia. Pengkhotbah memfokuskan pemberitaannya  pada Dia. Tugas pengkhotbah adalah menunjukkan bagaimana Kristus dinyatakan melalui seluruh Kitab Suci, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Setiap kitab atau bagian dari Alkitab berbicara tentang Kristus. Pengkhotbah harus menemukan benang merah yang menghubungkan nas yang dipilih dan disampaikannya dalam khotbah dengan Salib Kristus.
Kol.1:28 – Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
Hidup Paulus seluruhnya dipersembahkan untuk Tuhan dengan memberitakan Kristus, menasihati dan mengajar orang kepada kesempurnaan dalam Dia.
Ketika kita memberitakan Injil yang kita beritakan adalah anugerah keselamatan dalam Kristus. Ketika kita menasihati yang kita sampaikan adalah jalan keluar yang diajarkan oleh anugerah Yesus. Ketika kita mengajar yang kita ajarkan adalah keagungan kasih karunia-Nya yang terus dilimpahkan-Nya kepada umat-Nya.
Berkhotbah secara Alkitabiah berarti menyampaikan Kristus seperti dinubuatkan atau digambarkan dalam Perjanjian Lama, yang dilahirkan oleh perawan Maria, yang melayani dan mati disalib seperti diberitakan oleh Injil-Injil, yang bangkit, menampakkan diri kepada banyak orang dan naik ke surga dan kelak akan datang kembali menjemput umat-Nya seperti diberitakan oleh seluruh Perjanjian Baru.

Siapa yang harus berkhotbah?

Ada panggilan khusus dan pangilan umum. Ada orang-orang percaya tertentu yang dipanggil secara khusus untuk berkhotbah (bernubuat) atau mengajar. Tetapi dalam taraf tertentu setiap orang percaya dikaruniai pemahaman firman Tuhan yang harus diajarkannya kepada orang lain terutama orang-orang dekatnya.
Lalu, siapakah mereka yang harus berkhotbah atau mengajar?
Kepala keluarga
Kepala keluarga adalah imam bagi keluarga. Selain berdoa untuk kesejahteraan anggota-anggota keluarganya, kepala keluarga juga harus mengkhotbahkan atau mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Ini tugas yang tak bisa diabaikan oleh setiap kepala keluarga.
Kej.48:15-16 – Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.”
Yakub, sebagai kepala keluarga, berkhotbah atau mengajar atau memberi kesaksian kepada anak-anak dan cucu-cucunya tentang Allah yang menjadi gembalanya. Ia berbicara tentang kakeknya dan ayahnya, Abraham dan Ishak, yang hidup beriman kepada Allah. Iman itu juga yang dihidupi oleh Yakub sendiri dengan menyebut Allah sebagai penjaga dan pemeliharanya. Dengan perkataannya Yakub menularkan iman dan keyakinannya kepada anak-cucunya, agar mereka hidup dalam iman kepada Allah yang sama dengan yang dipercayainya.
Di sini Yakub memberkati anak-cucunya dengan mengajarkan tentang kasih Allah yang senantiasa memeliharanya, bahkan memelihara ayah dan kakeknya. Yakub memberkati, artinya menyalurkan berkat Allah, kepada keluarga besarnya. Waktu itu Yakub tidak punya apa-apa, karena ia telah meninggalkan Kanaan untuk pergi ke Mesir dan hidup sebagai orang asing di sana. Tetapi ia tetap beriman kepada Allah yang mewariskan Tanah Perjanjian kepadanya, kepada anak cucunya. Harta yang paling berharga yang dapat diwariskan kepada anak cucu adalah iman kepada Allah yang disembah oleh ayah dan neneknya.
Kesuksesan atau daya tahan keluarga terhadap tantangan dunia bergantung pada iman serta pengajaran iman dari kepala keluarga. Dan kepala keluarga bertangung jawab atas kehidupan rohani anggota keluarganya. Ia harus menjaga keluarganya dengan mengajarkan keyakinan yang dipercayainya kepada mereka. Berkat yang paling berharga dari seorang kepala keluarga adalah pengajaran firman Tuhan.
Pemimpin rohani
Demikian juga para pemimpin rohani. Sudah menjadi tugasnya untuk berbicara kepada orang-orang yang dipimpinnya mengenai kehendak Allah bagi mereka.
Yos.24:13-15 – “Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Di akhir hidupnya Yosua berbicara kepada umat Israel tentang beribadah kepada Allah Yahweh yang telah melepaskan bangsa Israel dari Mesir dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian. Isi khotbahnya adalah bahwa negeri yang baik itu diberikan kepada mereka bukan atas jerih lelah mereka, bukan atas perjuangan mereka, melainkan oleh anugerah Allah. Untuk itu bangsa Israel diingatkan untuk tetap takut dan beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dan setia.
Sementara itu Yosua sendiri berkomitmen bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan. Sejak awal kepemimpinannya membawa bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian kepadanya dipesankan agar terus merenungkan dan memperkatakan (mengkhotbahkan atau mengajarkan) Taurat Tuhan siang dan malam (lihat Yos.1:8).
Ezr.7:10 – Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
Bangsa Israel memerlukan tuntunan setelah keluar dari Mesir dan di padang gurun melalui Musa Allah memberikan hukum Taurat kepada mereka. Tujuannya, agar mereka mengerti kehendak Allah dalam hidup mereka.
Sepulang dari pembuangan mereka memerlukan tuntunan Tuhan. Maka Allah menetapkan Ezra, sebagai pemimpin rohani, mengajarkan tentang ketetapan dan peraturan Tuhan yang mereka butuhkan.
Pemberita Injil
Injil adalah berita baik yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia. Tangung jawab ini diberikan kepada pemberita Injil.
Kis.2:36 – “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Petrus berkomitmen untuk terus berkhotbah terhadap bangsa Israel sampai mereka semua mengenal dengan sungguh-sungguh Yesus Juruselamat mereka.
Tugas pemberita Injil bukan sekadar menyampaikan berita keselamatan, tetapi mengusahakannya sedemikian rupa agar keselamatan dalam nama Yesus dimengerti dengan pasti oleh orang-orang yang mendengar pemberitaannya. Jelas ini tidak terjadi dalam sekali kunjungan atau sekali khotbah, tapi merupakan pekerjaan yang bersinambungan.
Kis.4:12 – “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Petrus berkhotbah bahwa hanya ada satu Juruselamat yaitu Kristus yang telah mati di salib. Tidak ada nama lain yang melaluinya manusia dapat diselamatkan.
Khotbah Alkitabiah berpusat pada Kristus dan karya-Nya di kayu salib untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa.
Setiap orang percaya
Tetapi tugas memberitakan Injil tidak secara khusus diberikan kepada para penginjil. Setiap orang percaya sesuai dengan tingkat pemahamannya tentang Injil dipanggil untuk memberitakan atau bersaksi tentang keselamatan yang telah diterimanya kepada orang-orang lain. Petrus menyampaikan tugas pelayanan ini melalui surat yang ditulisnya kepada orang percaya yang tersebar di berbagai daerah.
1Ptr.3:15 – Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.
Maksud Petrus adalah agar tiap orang percaya bersiap sedia menjelaskan tentang imannya kepada setiap orang yang memintanya. Untuk dapat melakukannya diperlukan pemahaman yang benar tentang iman atau keselamatannya.
Ini berhubungan dengan dasar-dasar yang menjelaskan kepastian keselamatan kita didalam Kristus. Bukan sekadar pernyataan iman “aku percaya Yesus” atau “percaya Yesus, selamat,” tetapi pemahaman yang lebih dalam tentang “pribadi Yesus,” “bagaimana Dia menyelamatkan kita,” “apa yang dikerjakan-Nya dalam hidup kita masa kini” dan “apa yang kita harapkan akan kita terima dari Dia di masa kekekalan nanti” atau “bagaimana Ia memelihara kita agar kita tetap mengarahkan pengharapan kita pada-Nya.”
Setiap orang percaya harus terus mendalami imannya dan setiap pengkhotbah atau pengajar bertanggung jawab terhadap peningkatan pemahaman mereka tentang pribadi Kristus yang mereka percayai.
1Ptr.4:11 – Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah.
Petrus mengajarkan agar setiap orang berbicara tentang firman Allah, artinya bahwa setiap orang percaya mempunyai tugas untuk memberitakan Injil dan mengajar tentang iman yang mereka miliki. Bagi kita orang percaya, pembicaraan tentang firman Allah adalah prioritas utama dalam hidup kita sehari-hari.
Menurut Petrus setiap pengkhotbah hendaklah berbicara tentang firman Allah. Bukan tentang dirinya sendiri, meskipun pengkhotbah memiliki pengalaman hidup yang luar biasa. Jangan berlagak menjadi pahlawan dengan menceritakan diri sendiri. Pengalaman pribadi bisa ditambahkan ke dalam khotbah dengan tujuan meninggikan Kristus, bukan meninggikan diri sendiri.

Kepada siapa berkhotbah?

Mungkin timbul pertanyaan, kepada siapa kita berkhotbah? Yang pasti, kita harus berkhotbah kepada “semua orang.” Tidak ada pengecualian! Dan, siapa saja mereka?
Kepada keluarga.
Mengajarkan firman Tuhan kepada keluarga adalah tugas utama kepala keluarga.
Kepala keluarga wajib memikirkan kebutuhan rohani anggota keluarganya. Keluarga memerlukan pengajaran firman Tuhan secara teratur dan terencana. Kita harus secara teratur mengajar anak kita tentang iman kita dan merencanakan pengajaran sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan iman mereka.
Contohnya adalah Yakub seperti telah dikutip di atas.
Rasul Paulus berkata kepada Timotius mengenai penilik jemaat. Mereka haruslah “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya” (1Tim.3:4). Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa sebelum seseorang menjadi pengkhotbah, berkhotbah di hadapan jemaat, di hadapan orang-orang lain, terlebih dulu ia harus menjadi pengajar bagi keluarganya. Sebab, lanjut Paulus, “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (ayat 5).
Kepada Jemaat.
Contohnya Yosua, Ezra, Petrus, Paulus dan lain-lain.
Di dalam jemaat setempat tugas ini diserahkan kepada gembala, pengajar, termasuk majelis yang memperoleh karunia mengajar.
Kepada saudara seiman untuk saling menguatkan.
Setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mengajar saudaranya, khususnya yang baru percaya, tentang iman yang dipeluknya. Cara sederhana dari ini adalah bersaksi tentang satu ayat atau nas atau perikop yang memberkatinya, supaya saudaranya yang mendengar juga menikmati berkat yang telah diterimanya itu.
Kepada orang belum percaya.
Agar mereka mendengar Injil dan diselamatkan. Pelayanan ini dilakukan oleh Petrus, Paulus dan Penginjil lainnya. Dan semestinya dilakukan oleh semua orang percaya.

Apa tujuan berkhotbah?

Tujuan utama berkhotbah adalah memuliakan Tuhan dan firman-Nya. Peringatan sekali lagi, bukan memuliakan diri pengkhotbah, atau mencari popularitas bagi diri sendiri.
2Tes.3:1 – Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu.
“Beroleh kemajuan” artinya berkembang dengan pesat. Bukan sekadar maju, tetapi maju dengan cepat. Sebagai jalan keselamatan firman Tuhan diharapkan bahkan diusahakan agar bertumbuh makin meluas.
Kitab Kisah Para Rasul memberitakan tentang penyebaran dan perluasan firman Allah melalui para rasul. Hal itu diharapkan terjadi juga pada masa kini. Setiap pengkhotbah hendaknya menyadari tugasnya untuk menyebar-luaskan firman Tuhan dan memperbesar pengaruh Firman itu di jemaat dan kemudian di masyarakat.
“Dimuliakan” artinya firman-Nya dikuduskan dan dihormati, kerajaan-Nya semakin memperoleh tempat di hati manusia dan kehendak-Nya terjadi secara luas di antara umat-Nya.
Itulah yang menjadi kerinduan Paulus dan semestinya menjadi tujuan utama pelayanan kita. Pengkhotbah memuliakan firman Tuhan dengan memberitakannya dan pendengar memuliakan firman-Nya dengan menerimanya.
Alangkah tingginya hak istimewa yang kita miliki sebagai pengkhotbah Injil Yesus Kristus. Tuhan telah memberi kita kehormatan, panggilan, pelayanan dan mandat untuk mengkhotbahkan Injil pada dunia yang sedang menderita dan membutuhkan keselamatan. Dan semuanya itu dengan tujuan bahwa Yesus akan disembah sebagai Juruselamat oleh setiap lidah dari segala suku dan bangsa.
Tujuan termulia dari khotbah adalah memuliakan Allah dan menyatakan cahaya kemuliaan-Nya pada ciptaan-Nya.
Hal penting yang perlu dimengerti oleh pengkhotbah adalah Allah memanggil dia bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan jemaat. Panggilan untuk berkhotbah adalah panggilan untuk melayani orang lain.
Lalu, bagaimana seharusnya kita berkhotbah demi memenuhi panggilan melayani jemaat?
Memberi informasi kepada pikiran.
1Yoh.5:20 – Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
Kata ”pengertian” mempunyai persamaan arti dengan “akal budi,” yang mengandung arti “meditasi,” “refleksi,” atau “kontemplasi.” Artinya, Allah mempergunakan akal budi kita agar kita memahami kebenaran. Akal budi adalah alat atau tempat penerima informasi. Allah menaruh kebenaran-Nya ke dalam diri manusia melalui akal budinya, melalui pikirannya.
Kristuslah, melalui Roh Kudus, yang mengaruniakan pengertian kepada kita, tetapi itu dapat terlaksana melalui pengkhotbah yang memberitakan firman-Nya.
Rm.12:2 – Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Dari aspek akal budi, pemberitaan atau pengajaran firman Tuhan bertujuan untuk membangun pola pikir Alkitabiah. Artinya, mengubah orang yang tadinya memiliki pola pikir duniawi menjadi berpola pikir surgawi. Dalam arti ini khotbah juga berarti mengkonfrontasikan kebenaran Injil dengan pola pikir duniawi yang dimiliki oleh jemaat. Khotbah harus menyatakan kesalahan pola pikir duniawi.
Jadi khotbah pertama-tama harus bersifat informatif, menyampaikan kebenaran-kebenaran Alkitabiah, dengan penjelasan-penjelasan yang dapat dimengerti atau ditangkap oleh akal budi pendengar. Tetapi, itu saja tidak cukup!
Menggerakkan hati untuk bertindak.
Akan tetapi, khotbah tidak berhenti pada menyampaikan informasi kepada akal budi. Khotbah harus menyentuh hati pendengar, menggerakkannya untuk bertindak sesuai dengan kebenaran yang telah diterimanya.
Kis.2:37 – Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
Khotbah seharusnya ditujukan untuk memimpin orang-orang pada komitmen untuk berjalan dalam firman Tuhan. Setelah orang-orang Yahudi mendengar khotbah Petrus, mereka memperoleh pemahaman baru dan diyakinkan terhadap kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan, dan lalu mereka bertanya tentang apa yang mereka harus perbuat untuk dapat memperoleh keselamatan.
Gerakan hati pertama yang diperlukan bagi orang belum percaya adalah pertobatan. Pertobatan berarti menyadari perbuatan masa lalu yang memberontak terhadap Tuhan dan diganti dengan kehendak untuk berjalan dalam rancangan-Nya.
Gerakan hati bagi orang-orang yang sudah mengikut-Nya adalah kembali pada tujuan atau rancangan-Nya memanggil mereka. Mereka yang sudah percaya, tapi tidak hidup dalam kebenaran, kita dorong mereka untuk mentaati firman-Nya.
Setelah dua orang murid yang pergi ke Emaus bertemu Yesus yang telah bangkit dan mendengar pengajaran atau khotbah-Nya dengan hati berkobar-kobar, mereka mengambil keputusan kembali ke Yerusalem untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya yang lain (Luk.24:13-35). Mereka kembali pada rancangan yang telah ditetapkan-Nya.
Mengubah perilaku.
Tidak cukup hanya memberi informasi pada pikiran dan menggerakkan hati untuk bertindak, tetapi khotbah juga memiliki tujuan puncak yakni mengubah perilaku.
2Tim.3:16-17 – Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Khotbah bermanfaat untuk mendorong jemaat menerapkan firman Tuhan, karena pemahaman tanpa ketaatan adalah sia-sia.
Observasi dan interpretasi tanpa aplikasi adalah aborsi.
Pengamatan dan penafsiran tanpa penerapan adalah kesia-siaan.
Tujuan berkhotbah adalah menyampaikan firman Allah untuk mengoreksi kesalahan dan mengubah kelakuan, yang jahat berubah menjadi baik.
Khotbah pada tingkat ini hanya berlaku bagi orang yang sudah percaya kepada Kristus, agar mereka hidup di dalam kebenaran-Nya. Khotbah ini tidak dapat disampaikan kepada orang yang belum percaya. Khotbah yang perlu bagi orang belum percaya adalah penginjilan, pemberitaan tentang Kristus sebagai Juruselamat manusia.
Khotbah ini bukan mengajar orang untuk berbuat baik agar diselamatkan, tetapi mengajar orang percaya agar hidup berpadanan dengan jatidirinya sebagai pengikut Kristus.
Mari perhatikan, bukan perubahan karakter yang menyelamatkan kita, tetapi keselamatanlah yang memungkinkan kita mengalami pembaruan karakter kita.

Apa syarat-syarat bagi pengkhotbah?

Pengkhotbah harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dapat berkhotbah secara Alkitabiah. Syarat-syarat itu harus dipenuhi secara mutlak, tak dapat ditawar-tawar lagi.
Lahir baru
Pengkhotbah haruslah seorang yang telah lahir baru. Artinya, ia adalah seorang yang telah mengerti dan mempercayai bahwa Kristus telah mati untuk dia, Ia dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga, telah menampakkan diri kepada banyak orang, telah naik ke sorga dan kelak akan datang kembali untuk menjemput dirinya.
Pengkhotbah haruslah seorang yang telah mengalami kasih Allah dan kini hidupnya dikuasai oleh kasih-Nya untuk hidup bagi Dia dan bagi orang lain yang juga dikasihi-Nya.
1Kor.15:10 – Tetapi karena kasih karunia Allah aku ada sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
Berkhotbah adalah memberitakan kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada manusia melalui karya penebusan dengan kematian Yesus di kayu salib.
Pengkhotbah haruslah seorang percaya yang memahami betapa luasnya, dalamnya dan tingginya kasih karunia Allah. Ia haruslah seorang yang telah menerima dan mengalami kasih-Nya. Ia haruslah seorang yang meyakini kepastian keselamatannya. Ia berkhotbah karena digerakkan oleh anugerah keselamatan yang telah dialaminya
Ia menyampaikan berita pendamaian karena telah berdamai dengan Allah. Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).
Pelayanan pendamaian dipercayakan hanya kepada orang-orang yang telah berdamai dengan-Nya.
Meyakini panggilan untuk berkhotbah
Pelayanan berkhotbah bukanlah profesi yang bisa dipilih dari beberapa profesi yang tersedia, melainkan panggilan yang harus ditanggapi. Ia berkhotbah oleh anugerah panggilan yang telah diterimanya.
Berkhotbah bukanlah pekerjaan ringan. Mereka yang dipanggil berkhotbah memikul tugas berat. Berkhotbah juga mengandung resiko mematikan.
Petrus dan Yohanes mengalaminya. Mereka ditangkap dan disesah oleh Mahkamah Agama. Tetapi Alkitab mencatat: Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama-Nya (Kis.5:41). Bagi mereka penderitaan adalah kehormatan!
Seperti dikatakan Paulus kepada Agripa: “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat” (Kis.26:19). Di sini Paulus berbicara tentang ketaatannya menanggapi panggilannya berkhotbah yang disertai penderitaan yang harus dialaminya. Keyakinan panggilan berkhotbah yang teguh dimilikinya membuatnya tak surut sedikitpun pelayanannya memberitakan Injil Yesus Kristus.
Di tempat lain Paulus berkata: Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim.1:11-12).
Memahami Alkitab
Tentu saja, pengkhotbah haruslah seorang yang memahami Alkitab yang ia khotbahkan. Inilah hal-hal yang perlu ia pahami:
Otoritas Alkitab.
2Tim.3:16 – Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Semua tulisan dalam Alkitab diilhamkan Allah untuk menjadi penuntun bagi hidup umat manusia. Artinya, Alkitab memiliki otoritas penuh atas kehidupan manusia. Di luar Alkitab tidak ada otoritas.
Pengkhotbah haruslah seorang yang percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas tertinggi dan satu-satunya pedoman hidup umat-Nya. Dengan keyakinan ini pengkhotbah terhindar dari mengkhotbahkan filsafat atau pengetahuan manusia.
Otoritas yang ada di balik khotbah bukanlah terletak pada pengkhotbahnya, tetapi ada di nas Alkitab itu sendiri. Karena tugas utama pengkhotbah berkait dengan penjelasan firman Tuhan, maka ia mengarahkan perhatian pendengarnya pada nas Alkitab. Sekali lagi, bukan pada dirinya sendiri!
Kesederhanaan dan kejelasan Alkitab.
Alkitab ditulis dalam bahasa sederhana dan dapat dipahami oleh orang sederhana. Masalahnya adalah bagaimana memahami arti nas pada saat ditulis untuk dapat diterapkan pada manusia masa kini.
Melalui Firman tertulis (Alkitab) Tuhan berkenan dikenali oleh umat-Nya. Ia tidak ingin membuat umat-Nya bingung dengan memberi Kitab Suci yang bahasanya sulit dimengerti. Jadi, pengkhotbah tidak perlu membuat penafsiran yang justru membingungkan orang.
Pengkhotbah hendaknya berkhotbah dengan bahasa sederhana agar dapat dimengerti oleh jemaatnya, sesederhana apa pun pemikiran mereka, serendah apa pun pendidikan mereka.
Kesatuan Alkitab.
Kitab-kitab Kejadian sampai Wahyu merupakan satu kesatuan, tidak berdiri sendiri atau bertentangan satu sama lain.
Pengkhotbah hendaknya mengenali prinsip “Alkitab menafsirkan Alkitab.” Artinya, bagian Alkitab yang sulit dimengerti akan dapat dijelaskan melalui bagian Alkitab yang lain.
Ambil contoh, tentang “pembenaran.” Paulus berkata antara lain di Rm.3:23-24 – Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Juga dalam ayat 26 – Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada-Nya.
Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa pembenaran terjadi melalui percaya kepada Kristus dan diperoleh secara cuma-cuma, bukan karena perbuatan kita. Tetapi Yakobus berkata: Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (Yak.2:21). Dan di ayat 24, Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Apakah Paulus bertentangan dengan Yakobus. Atau, ayat-ayat Alkitab saling pertentangan? Jawabnya: tidak! Ayat-ayat Alkitab tidak saling bertentangan. Para penulis Alkitab tidak saling bertentangan.
Pengertiannya seperti ini: Pembenaran diterima sebagai anugerah, oleh iman, bukan oleh perbuatan. Tetapi iman yang sejati adalah iman yang membuahkan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Yohanes berkata: Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1Yoh.5:4-5). Beriman kepada Kristus membuahkan kemenangan atas dunia. Artinya beriman terlebih dulu, baru dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Dilihat dari sisi posisi: pembenaran dulu baru perbuatan-perbuatan kebenaran. Dilihat dari sisi pengalaman: perbuatan membuktikan adanya pembenaran. Sekali lagi, bukan perbuatan menghasilkan pembenaran, tapi perbuatan membuktikan pembenaran!
Selain memahami prinsip “Alkitab menafsirkan Alkitab,” kita harus meletakkan setiap nas yang kita khotbahkan erat-erat dengan kisah yang agung, besar dan luas dari Alkitab, yakni kisah tentang Yesus Kristus, Pencipta dan Juruselamat dunia.
Ketika kita berkhotbah, kita harus mengingat bahwa kita memberitakan bukan sekadar kisah kecil, dan bukan sekadar seri dari kisah-kisah kecil, tetapi kita mengkhotbahkan sebuah kisah besar. Bukan tentang hal-hal sepele, tetapi kisah besar tentang karya penyelamatan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab.
Ketercukupan Alkitab
Alkitab itu sempurna. Allah yang menulis Alkitab adalah Allah yang sempurna. Isinya mencukupi kebutuhan manusia untuk hidupnya baik di masa kini maupun yang akan datang.
Mzm.19:8-12 – Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
Keunggulan, kegunaan dan ketersediaan firman Allah menunjukkan ketercukupannya memenuhi hidup kita.
Dengan semakin sering mendengar Firman kita akan semakin memahami ketersediaan kebutuhan hidup kita. Kita akan semakin mengerti bahwa semua permasalahan manusia dapat diperoleh jawabannya dalam Alkitab.
Kegunaan dan manfaat Firman Allah jauh lebih besar dari keberadaan siang dan malam, dari udara yang kita hirup, dari sinar matahari yang kita nikmati, dari semua harta benda yang dapat kita miliki dan inginkan. Firman Allah itu sempurna; sempurna tanpa setitik pun cela, sempurna dipenuhi dengan segala kebaikan, sempurna ketepatannya untuk mencapai kegenapan rancangan-Nya, dan sempurna kesanggupannya untuk menjadikan umat-Nya bertumbuh menuju kesempurnaan. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2Tim.3:17).
Jika ada gembala jemaat yang sedang kebingungan mengenai apa yang mau dikhotbahkannya di hari Minggu, hendaknya ia memperhatikan kebenaran ini: Jemaat mempunyai kebutuhan dan Alkitab mempunyai jawabannya! Ini sarannya: Berdoalah lebih banyak lagi! Bacalah Alkitab lebih banyak lagi!
Wahyu yang bersinambungan.
Pengkhotbah harus memahami bahwa Allah memberikan firman-Nya secara bertahap dan bersinambungan. Itulah yang disebut dengan “progressive revelation.” Allah melakukannya mengingat kelemahan manusia untuk memahami kebenaran-Nya yang sempurna.
Mari kita melihat dua contoh alur kesinambungan penyataan Allah yang mengalir dalam seluruh Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu:
Contoh 1:
Alur Alkitab dengan tema “penyelamatan.”
-    Penciptaan (Kej.1-2)
-    Kejatuhan (Kej.3)
-    Program penyelamatan (Kej.3:15 – Mal)
-    Pelaksanaan penyelamatan (Injil-Injil)
-    Penggenapan (Kis – Why.20)
-    Pemenuhan (Why.21-22).
Contoh 2:
Dispensasionalisme memandang bahwa Allah berbicara kepada manusia melalui orang-orang tertentu, pada masa-masa tertentu, dalam situasi-situasi tertentu dan tentang hal-hal tertentu.
Dispensasi dimengerti sebagai cara Allah mengatur manusia menurut ketetapan-ketetapan-Nya. Pengkhotbah harus memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam dispensasi yang satu dan lainnya sesuai dengan waktu, situasi dan orang yang secara langsung berhubungan dengan aturan atau perintah tertentu.
Tujuh (atau delapan) dispensasi tersebut adalah:
-    Kesucian (Kej.1-2, masa tanpa dosa)
-    Keinsafan atau kesadaran hati nurani (Kej.3-6, sejak Adam dan Hawa diusir dari Eden sampai air bah)
-    Pemerintahan Manusiawi (Kej.6-11, sejak keluarga Nuh keluar dari bahtera sampai Menara Babel)
-    Perjanjian (Kej.12-Kel.19, sejak panggilan Abraham sampai pembebasan Israel dari Mesir)
-    Hukum Taurat (Kel.20-Kis.1, sejak pemberian Hukum Taurat sampai Kematian Kristus)
-    Kasih Karunia (Kis.2-Why.20, sejak berdirinya Gereja sampai pengangkatan Gereja)
-    Kerajaan (Kerajaan Seribu Tahun  Kerajaan Kekal).
Dengan memahami kesinambungan penyataan Alkitab pengkhotbah dapat menafsirkan dengan benar dengan cara melihat letak nas dalam bagian tertentu Alkitab.
Memiliki gairah dalam mempelajari Alkitab
Untuk dapat memahami Alkitab pengkhotbah harus memiliki gairah dalam mempelajarinya.
Pemahaman diperoleh melalui belajar, dan bukan sekadar belajar tetapi dalam kegairahan yang menyala-nyala.
Ezr.7:10 – Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
“Bertekad,” artinya menetapkan, memaksudkan, menujukan, dengan segala kekuatan dan kasih sayang. Seorang pengkhotbah seharusnya menetapkan, menujukan hatinya dengan segala tenaga untuk menyelidiki Alkitab.
Kis.17:11 – Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.
Pengkhotbah haruslah seorang yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci. Pengajar haruslah seorang yang tekun belajar. Mereka harus memiliki gairah dan ketekunan belajar lebih tinggi dari yang dimiliki oleh orang-orang lain.
Paulus adalah seorang terpelajar. Ia seorang ahli Taurat didikan guru besar Gamaliel. Tetapi ia tidak pernah berhenti belajar. Ia berkata pada Timotius dalam 2Tim.4:13 – Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
Paulus sudah tua waktu menulis surat itu dan menyadari hidupnya segera berakhir, tetapi semangatnya untuk membaca atau belajar tak pernah kendor. Jika Paulus, seorang yang dituntun kuasa Ilahi yang luar biasa itu, menganggap perlu terus-menerus belajar, apalagi kita. Kita memerlukan gairah dan semangat yang lebih besar dari yang kita miliki sekarang untuk menyelami kedalaman firman-Nya.
Itulah yang dimaksud mengasihi Allah dengan segenap akal budi!
Itulah, gairah yang meluap-luap dalam mempelajari Alkitab!
Memiliki karakter yang diperbarui
Dalam Ezr.7:10 di atas dikatakan bahwa Ezra tidak hanya bertekad untuk meneliti firman Tuhan, tetapi juga melakukannya. Firman Tuhan harus bekerja terlebih dulu dalam diri pengkhotbah sebelum ia menyampaikannya kepada orang lain.
Yes.6:6-8 – Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
Dari ayat-ayat di atas dapat dilihat bahwa Yesaya terlebih dahulu disucikan lidahnya, kenajisan bibirnya atau hidupnya, diperbarui karakternya, dan kemudian barulah ia diutus. Pengampunan yang telah diterimanya, anugerah keselamatan yang telah diperolehnya, pembaruan karakter yang telah dialaminya, yang membuat dia memiliki kerelaan untuk pergi, diutus menjadi pengkhotbah.
Dalam 1Tim.4:11-12 Paulus menasihati Timotius bahwa pelayanan mengajar dan keteladanan karakter tak dapat dipisahkan. Menurut Paulus, selain mengajar Timotius harus menjadi teladan dalam integritas, dalam segala sisi kehidupannya.
Tetapi tak seorang pun pengkhotbah boleh merasa telah memenuhi syarat dari sisi ini. Karakter kita tak pernah cukup untuk memenuhi syarat sebagai penyampai Firman yang kudus. Kita berkhotbah bukan karena karakter kita. Kita berkhotbah oleh kasih karunia-Nya.
Memiliki gairah untuk menyampaikan firman Tuhan.
Bukan hanya gairah untuk giat belajar dan komitmen untuk melakukan firman-Nya serta karakter yang terus-menerus diperbarui, tetapi yang juga diperlukan bagi seorang pengkhotbah adalah semangat yang berkobar-kobar untuk membagikan berita keselamatan.
Yer.20:9 – Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
Yeremia pernah merasa gagal dalam pelayanannya. Bangsa Israel tidak mau mendengar khotbahnya bahkan berbuat sedapat-dapatnya untuk membungkamnya, dan ia dicobai untuk berhenti berkhotbah. Tetapi ia merasakan bahwa ada “api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya.” Ia tak sanggup menahannya. Inilah gairah yang harus dimiliki oleh para pengkhotbah.
Rm.1:15 – Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
“Ingin” menunjuk pada kesiapan yang besar dari hati dan pikiran, dan itu selalu menjadi semangat Paulus dalam memberitakan Injil. Bagi Paulus merupakan hal istimewa untuk siap sedia menjumpai setiap kesempatan untuk memberitakan Injil Kristus.
Seberapa besar gairah kita untuk berkhotbah, untuk mencari kesempatan menyampaikan kebenaran firman-Nya? Dengarlah nasihat Paulus lagi: Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Rm.12:11).
Jangan melempem seperti kerupuk terkena air! Jangan seret seperti mesin kurang pelumas! Bersungguh-sungguhlah mengikuti Roh, eagerly follow the Holy Spirit (CEV). Bergairahlah mengikuti pimpinan-Nya! Layanilah Tuhan! Beritakanlah Firman! Proklamasikanlah Injil-Nya!
Memiliki keyakinan akan hasil pemberitaan Injil
Tak akan ada pengkhotbah yang berkhotbah dengan bergairah tanpa mempercayai adanya hasil yang akan diperoleh melalui pelayanannya.
Rm.1:16-17 –  Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Meskipun Injil menurut pandangan dunia adalah remeh, menurut orang pandai merupakan kebodohan dan menurut orang yang tidak percaya sebagai kekejian atau kenajisan, tetapi rasul Paulus tidak merasa malu memberitakannya. Ia mempunyai keyakinan yang kokoh bahwa hanya Injil yang sanggup menyelamatkan dan mengubah dunia.
Marilah kita memiliki keyakinan terhadap Injil seperti rasul Paulus dan memiliki gairah berkhotbah seperti dia.
Mengandalkan Roh Kudus
Pengkhotbah berdiri di hadapan jemaat sebagai pelayan luar dari firman Allah, tetapi Roh Kudus bekerja di dalam atau bersama firman yang disampaikan itu. Hanya oleh kesaksian dari dalam oleh Roh Kudus yang membuat mereka dapat memahami kebenaran.
Roh Kudus berkarya melalui menginsyafkan, mendiami, melahir-barukan dan menyucikan sebagai pelayan dalam dari Firman. Tanpa kesadaran akan kebergantungan terhadap Roh Kudus menandakan bahwa pengkhotbah tidak mengerti tugasnya.
1Tes.1:5-6 – Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Injil memang harus disampaikan dengan kata-kata, tetapi keberhasilan pemberitaan Injil sepenuhnya merupakan karya Roh Kudus. Firman dan Roh Kudus bekerja bersama-sama.
Hukum dua saksi berlaku di sini. Saksi pertama adalah pemberita Injil yang memberitakan keselamatan dalam Yesus Kristus. Saksi kedua adalah Roh Kudus yang bekerja dalam diri pemberita dan penerima. Atau bahkan sebaliknya, Roh Kuduslah saksi pertama, karena Ia telah bekerja terlebih dulu sebelum kedatangan pemberita Injil.
Pemberita tidak dapat mengandalkan kefasihannya berbicara, tetapi juga tidak boleh menjadi lemah karena merasa tidak mampu berbicara tentang Injil. Sampaikan saja Kabar Baik itu dan serahkan hasilnya pada kuasa Roh Kudus. Yakini bahwa Roh Kudus sedang bekerja dalam diri pendengar khotbah kita.
Kis.6:4 – Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.
Bagi Petrus, pelayanan doa dan pelayanan khotbah merupakan dua pelayanan yang tak terpisahkan.
Berdoa adalah setengah pelayanan kita. Tidak ada kuasa khotbah tanpa doa. Kuasa khotbah berakar dari doa. Berdoa merupakan pelayanan yang berat, tapi tak dapat diabaikan manfaatnya.
Berkhotbah adalah pelayanan publik, banyak orang mendengar. Berdoa adalah pelayanan pribadi, Tuhan saja yang mendengar. Kita cenderung lebih suka berkhotbah daripada berdoa, tetapi Tuhan mengajarkan keseimbangan dari keduanya.
Setiap pengkhotbah hendaknya mengandalkan Roh Kudus melalui kesungguhan berdoa. Tuhan dapat memakai kita jika kita percaya bahwa oleh anugerah-Nya, kita memliki keyakinan yang kuat akan kemampuan Roh Kudus untuk mengubah manusia.

Kesimpulan
Telah banyak disampaikan khotbah yang tidak Alkitabiah, yang tidak memberitakan Kristus, melainkan menyampaikan pikiran dan filsafat manusia. Kita harus memahami khotbah Alkitabiah agar dapat berkhotbah seperti yang difirmankan-Nya.
Kita harus berkhotbah karena Allah memerintahkannya kepada kita, karena manusia berdosa perlu mendengar Injil supaya dapat diselamatkan dan karena perlu untuk memperlengkapi orang-orang kudus.
Kita harus berkhotbah secara Alkitabiah agar dapat menyampaikan Injil murni, yakni keselamatan adalah anugerah melalui percaya kepada Yesus dan bukan karena perbuatan.
Kepala keluarga harus berkhotbah atau mengajar anggota-anggota keluarganya. Pemimpin rohani harus berkhotbah kepada jemaat yang bersamanya untuk mendewasakan mereka. Pemberita Injil harus menyampaikan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus kepada semua orang belum percaya. Setiap orang percaya harus bersaksi tentang keselamatan yang telah memperbarui hidupnya.
Khotbah bertujuan untuk memuliakan Allah dan firman-Nya, bukan memuliakan pengkhotbah. Berkhotbah berarti memberi informasi kepada pikiran pendengar agar memahami kehendak-Nya. Bukan sekadar memahami, tetapi supaya pendengar digerakan hatiya untuk melakukan kebenaran yang telah diketahuinya. Bukan sekedar menggerakkan hati, tetapi juga mendorong tindakan pendengar untuk melakukan firman-Nya.
Pengkhotbah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Ia haruslah seorang yang telah lahir baru. Ia harus meyakini panggilannya untuk berkhotbah dan siap sedia menderita dalam menunaikan tugas pelayanannya tersebut.
Ia harus memahami Alkitab, otoritasnya atas umat-Nya, kesederhanaan dan kejelasannya, kesatuannya, ketercukupannya memenuhi kebutuhan manusia serta kesinambungan wahyunya.
Pengkhotbah juga haruslah seorang yang bergairah dalam mempelajari Alkitab, agar ia dapat berkhotbah memberi makanan rohani kepada jemaatnya dengan mantap. Ia harus memiliki karakter yang telah diperbarui. Ia harus memiliki gairah luar biasa dalam menyampaikan firman Tuhan. Ia harus memilki pengharapan akan keselamatan yang dikerjakan oleh firman Tuhan dan ia haruslah seorang yang mengandalkan Roh Kudus melalui penyerahan dalam doa yang tak putus-putusnya.

Penerapan
Mari kita tanggapi panggilan-Nya berkhotbah dengan memahami hal-hal yang berkenaan dengan khotbah Alkitabiah.
Mari bergairah dalam menyelidiki firman-Nya. Mari belajar juga dari hamba-hamba Tuhan lain yang telah berdoa dan bertekun mempelajari Alkitab dan menuliskannya untuk kita.
Mari bertekun dalam panggilan ini. Keluarga kita memerlukan kita. Jemaat memerlukan kita. Dunia menanti kehadiran kita untuk memberitakan Injil-Nya.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | , | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.