Pengkotbah

Kotbahkan Kotbah Alkitabiah!

Penutup: Tulang-tulang Kering pun Hidup Kembali !

Berkhotbah bukanlah pekerjaan mudah dan aman, tetapi sulit dan penuh resiko. Dari Perjanjian Lama kita melihat contoh-contoh seperti Musa, Yosua, Kaleb, dan para nabi. Musa menghadapi tantangan dari bangsa Israel yang tegar tengkuk sepanjang kepemimpinannya membawa mereka keluar dari Mesir dan hidup di padang gurun. Yosua dan Kaleb diancam akan dilempari batu ketika berbicara tentang tanah Palestina yang hendak mereka duduki. Nabi-nabi mengalami penganiayaan dari para pemimpin bangsa ini.
Penulis kitab Ibrani bersaksi bahwa para nabi itu ada yang diejek dan dilempari, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan (Ibr.11:36-37).
Yohanes Pembaptis juga mengalami penderitaan, dipenjarakan dan kemudian dipenggal kepalanya karena tugasnya sebagai nabi penyampai kebenaran. Tuhan Yesus sendiri dibunuh, padahal Dialah kebenaran. Lalu dalam Kisah Para Rasul, setelah kenaikan Tuhan, hamba-hamba-Nya para pengkhotbah juga mengalami penderitaan, bahkan kematian baik dengan pedang maupun dirajam batu.
Secara khusus belajar dari Yehezkiel, kita melihat tantangan yang harus dihadapi seorang nabi atau pengkhotbah.
Pertama, pengkhotbah adalah wakil Allah, atau bentara Allah, yang diutus untuk berbicara kepada umat-Nya. Tugas itu harus dilaksanakan tidak peduli apakah umat-Nya mendengarkan atau tidak. Hal terpenting berkenaan dengan tugas ini adalah bahwa kehendak Allah dinyatakan melalui utusan-Nya. Melalui pengkhotbah Allah menyatakan bahwa Ia tidak “berdiam diri” terhadap pemberontakan umat-Nya. Melaluinya Ia menyatakan hukuman bagi manusia yang terus memberontak terhadap kebenaran-Nya.
Yehezkiel mencatat panggilannya sebagai pengkhotbah dan kepada bangsa seperti apa ia berkhotbah. Ia menulis dalam Yeh.2:3-6 – Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan Allah. Dan baik mereka mendengarkan atau tidak – sebab mereka adalah kaum pemberontak – mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.
Pada masa kini pengkhotbah juga berhadapan dengan orang-orang keras kepala dan tegar hati, pendurhaka yang memberontak terhadap Allah. Tetapi baik mereka mendengar atau tidak, khotbah harus disampaikan karena Ia memerintahkannya. Ia menghendaki agar berita keselamatan bagi mereka yang percaya dan berita penghukuman bagi yang tidak percaya disampaikan kepada umat manusia.
Kedua, apa pun resikonya, pengkhotbah harus melakukan tugasnya dengan penuh keberanian. Yehezkiel mendapat perintah dari Allah untuk berkhotbah terhadap bangsa Israel tanpa takut dan gentar.
Melayani sebagai pengkhotbah bukanlah pekerjaan yang dilakukan dalam wilayah nyaman. Menyerahkan diri untuk pelayanan khotbah berarti membawa diri ke tengah-tengah onak dan duri yang dapat melukai kita. Bahkan seperti tinggal dekat kalajengking yang sengatnya beracun dan mematikan.
Yeh.2:6-7  – Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberonak. Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.
Ayat-ayat tersebut mengajar kita bahwa apapun resikonya, kita tidak boleh takut dan gentar, dan harus terus menyampaikan firman Allah. Ini senada dengan perintah Allah melalui Paulus kepada Timotius: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran (2Tim.4:2).
Tetapi meskipun penuh resiko dan bahkan mematikan, berkhotbah adalah pelayanan yang sangat mulia karena melaluinya Allah berkenan menyatakan kemuliaan-Nya.
Dalam Yeh.37 bangsa Israel diibaratkan sebagai “tulang-tulang kering,” tanpa pengharapan, tanpa masa depan. Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang (ayat 11).
Bangsa Israel tidak memiliki hidup karena mereka memberontak terhadap Allah. Mereka telah dibuang dari hadirat-Nya sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka. Dalam kondisi terhilang, mengenaskan bahkan mengerikan seperti itu Allah berkenan membangkitkan mereka demi kemuliaan-Nya.
Dalam ayat 1-14 beberapa kali tertulis ungkapan-ungkapan “supaya kamu hidup kembali” dan “kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.” Sepanjang kitab Yehezkiel ungkapan “kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan” dinyatakan sebanyak 65 kali dengan aneka variasi. Artinya, Allah berkenan menghidupkan mereka kembali agar nama-Nya dikenali dan dimuliakan. Itulah tujuan Allah yang dinyatakan dalam seluruh kitab Yehezkiel. Bahkan dalam seluruh Alkitab.
Sangat menarik, kita memahami bahwa Allahlah yang berkenan menghidupkan kembali bangsa Israel dan Ia jugalah yang melaksanakan niat-Nya itu. Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali… Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman Tuhan (ayat 14).
Tetapi, sebagai pengkhotbah, yang sangat menarik perhatian kita dari nas ini adalah bahwa Ia berkenan memakai seorang manusia seperti Yehezkiel. Sebagaimana Allah melaksanakan kehendak-Nya untuk memulihkan Israel melalui orang-orang yang diutus-Nya, demikian pula pada masa kini Ia berkenan memulihkan umat manusia melalui pengkhotbah-pengkhotbah, orang-orang biasa seperti kita.
Allah yang berfirman untuk menyelamatkan umat manusia. Ia juga yang melakukannya. Akan tetapi, Ia memakai kita yang penuh kekurangan dan kelemahan untuk menyampaikan kehendak-Nya.
Lalu bagaimana cara Allah memakai pengkhotbah-pengkhotbah-Nya untuk menghidupkan kembali orang-orang mati?
Inilah cara-Nya:
1.    Ia memberi visi kepada pengkhotbah (ayat 1-3)
Lalu kekuasaan Tuhan meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab: “Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui!”
Yehezkiel dibawa oleh Roh ke sebuah lembah untuk melihat pemandangan yang luar biasa mengerikan, lembah yang penuh tulang-tulang. Ke arah mana pun ia memandang hanya tulang-tulang kering berserakan yang terlihat.
Amat banyak tulang dalam keadaan amat kering! Keadaan yang menyatakan kehinaan total, kehancuran total, kematian total, ketakberdayaan total, kebinasaan total… sama sekali tak ada pengharapan!
Kita berada dalam lingkungan yang sama dengan Yehezkiel. Kita hidup di era kematian rohani. Kita juga berada di tengah-tengah tulang-tulang kering yang berserakan. Pemberontakan terhadap kebenaran Allah, kejahatan yang merajalela, keadilan yang semakin musnah, krisis di segala bidang kehidupan… merupakan tanda-tanda dari kematian rohani yang nyata terjadi di lingkungan kita. Ke arah mana pun mata kita memandang “orang-orang mati” yang kita lihat.
Seperti penglihatan tentang lembah kersang yang berisi penuh tulang-tulang kering menggetarkan hati Yehezkiel, demikian hati kita pun tergetar oleh penglihatan tentang kematian rohani di sekitar kita. Seperti Tuhan memberi visi kepada Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang kembali hidup, Ia pun memberi visi kepada kita tentang jiwa-jiwa yang diselamatkan oleh anugerah-Nya.
Lalu apa yang dilakukan Allah setelah memberi penglihatan itu terhadap Yehezkiel?
Apa yang dilakukan-Nya kepada kita yang telah melihat visi tentang kematian kekal itu?
2.    Ia memberi perintah untuk berkhotbah (4-6)
Lalu firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarkanlah firman Tuhan! Beginilah firman Tuhan Allah kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan.”
Tuhan memanggil Yehezkiel untuk berdiri di hadapan tulang-tulang kering yang bertaburan di sekelilingnya dan berkhotbah pada mereka. Sebuah panggilan yang tidak masuk akal! Berkhotbah pada tulang-tulang kering yang berserakan? Gila! Apakah tulang-tulang kering bisa mendengar? Apakah tulang-tulang kering bisa hidup kembali?
Ini pulalah yang menjadi kecemasan pengkhotbah masa kini. Kematian rohani yang mengerikan! Wajah sinis! Sunggingan bibir yang mengejek! Tatapan mata yang kosong! Sikap yang tidak bersahabat!
Dan kita harus berkhotbah pada mereka? Ya!
Panggilan yang menakutkan, sekaligus menggetarkan. Yehezkiel dipanggil untuk berkhotbah agar tulang-tulang kering hidup kembali. Kita dipanggil untuk berkhotbah agar orang-orang mati rohani memperoleh hidupnya kembali.
Tuhan menghendaki agar tulang-tulang kering itu dihidupkan kembali. Pekerjaan yang mustahil dilakukan, tetapi Yehezkiel beriman sepenuhnya bahwa Tuhan yang mahakuasa sanggup melakukannya.
Kita juga harus memiliki iman seperti Yehezkiel bahwa Tuhan sanggup melakukan kehendak-Nya untuk menghidupkan kembali orang-orang mati di sekitar kita! Ia yang telah bangkit, yang telah mengalahkan maut, juga akan membangkitkan orang-orang mati dan memberi hidup kepada mereka supaya nama-Nya dimuliakan di tengah-tengah masyarakat kita, di antara bangsa-bangsa.
Lalu, bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan-Nya untuk berkhotbah?
Inilah seharusnya tanggapan kita:
1.    Berkhotbah seperti diperintahkan Tuhan (ayat 7-8)
Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.
Meskipun perintah itu sangat tidak rasional, tetapi Yehezkiel melakukannya, berkhotbah seperti yang diperintahkan kepadanya. Dan segera sesudah ia berkhotbah, bahkan sebelum ia mengakhiri khotbahnya, atau sementara ia berkhotbah, sesuatu terjadi, yaitu sesuatu yang tak pernah diperkirakan, sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang ajaib! Tulang-tulang bertemu satu sama lain. Suara gemerutuk, berderak-derak. Yehezkiel memperhatikannya! Dan urat-urat ada, daging tumbuh dan kulit menutupinya.
Meskipun rasanya mustahil, tidak rasional, tidak masuk akal, gila… kita harus berkhotbah seperti yang difirmankan-Nya. Dan percayailah bahwa sesuatu, yang tak pernah kita perkirakan, yang luar biasa, yang ajaib akan terjadi sementara kita berkhotbah.
Tetapi pekerjaan pemulihan, menghidupkan kembali orang mati rohani, tidak dapat selesai dalam satu kali khotbah. Tulang-tulang sudah bersatu dan dilekati urat-urat dan ditutup daging dan dibungkus kulit, tetapi belum ada nafasnya. Tanda-tanda kehidupan sudah ada, tetapi kehidupan sejati belum terjadi.
Dalam Injil Yohanes pasal 6 diberitakan bahwa Tuhan membuat banyak mujizat dan banyak orang berbondong-bondong mengikut Dia (ayat 2). Kemudian Tuhan memberi makan lima ribu orang, dan mereka hendak memaksa Tuhan untuk menjadi raja atas mereka, dan Tuhan menyingkir dari mereka (ayat 15). Lalu Tuhan mengajar tentang roti hidup dan mengatakan bahwa diri-Nya adalah roti hidup yang diperlukan umat-Nya (ayat 35), dan mereka mulai bersungut-sungut (ayat 41), lalu bertengkar antara sesama mereka (ayat 52), dan mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia (ayat 66).
Mereka itu bukan pengikut dalam arti sebenarnya. Mereka bukanlah orang percaya sejati. Mereka bukan orang-orang yang telah diselamatkan. Mereka adalah orang-orang mati, bukan “orang-orang hidup.” Puncak dari pasal ini adalah pengakuan Simon Petrus: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (ayat 68-69).
Inilah yang Tuhan lakukan waktu itu: Melayani dengan berfokus pada kebutuhan rohani, yakni hidup yang kekal. Pengakuan Petrus adalah tanda suatu kehidupan rohani sejati. Tak akan meninggalkan Tuhan, apa pun yang terjadi! Tak ada seorang pun yang lain kemana ia dapat pergi!
Kebaktian kebanguan rohani (KKR) berlabel “kesembuhan ilahi” tidak berguna jika tidak menyentuh kehidupan rohani mereka, yaitu keselamatan kekal yang lebih mereka perlukan.
Kembali ke khotbahnya Yehezkiel. Telah ada isyarat atau petunjuk kehidupan, tetapi tidak ada hidup. Dan Allah memerintahkan Yehezkiel untuk bernubuat lagi, berkhotbah lagi.
Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pekerjaan berikutnya adalah berkhotbah. Berkhotbah dan berkhotbah lagi! Berkhotbah terus!
2.    Berkhotbah lagi seperti diperintahkan Tuhan (ayat 9-10)
Maka firman-Nya kepadaku: “Bernubuatlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan Allah: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali. Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.
Demikianlah kita melihat suatu pemberian atau pemulihan hidup, dianugerahkan oleh Allah melalui kuasa firman-Nya yang disampaikan oleh pengkhotbah.
Allahlah yang memberi visi tentang pemulihan atau kebangkitan rohani. Ialah yang melakukannya. Tetapi Ia memakai hamba-Nya untuk berkhotbah menyampaikan firman-Nya.
Inilah pengharapan bagi kita, para pengkhotbah: Pemulihan dan pembangkitan Jemaat melalui khotbah Injil Yesus Kristus.
Berkhotbah! Inilah panggilan kita. Mengkhotbahkan Injil baik atau tidak baik waktunya, bahkan berkhotbah pada tulang-tulang kering.
Kita berkhotbah karena rindu mendengar bunyi gemerutuknya tulang-tulang kering yang menyatu satu dengan yang lain dan melihat tulang-tulang itu dilekati urat-urat, ditempeli daging dan diselimuti kulit. Lalu Roh Tuhan dihembuskan dan terciptalah manusia baru, ciptaan baru.
Kita berkhotbah karena percaya bahwa Kristus mau dan sanggup menyelamatkan orang-orang berdosa!
Kita berkhotbah karena hati kita remuk oleh kematian rohani yang mengerikan di sekitar kita!
Kita berkhotbah karena meyakini bahwa Ia memanggil dan memberi kita kuasa untuk melakukannya!
Bukan hanya satu atau dua orang akan dipulihkan Tuhan melalui khotbah kita. Tetapi, suatu tentara yang banyak jumlahnya! Inilah yang disebut dengan penuaian!
Mari kita tanggapi panggilan-Nya untuk berkhotbah!
Mari berkhotbah, berkhotbah dan berkhotbah…!
Mari, berkhotbah supaya tulang-tulang kering hidup kembali…!
Mari kita tuai jiwa-jiwa, demi kemuliaan nama-Nya!

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | , | Tinggalkan komentar

2. Menyiapkan Khotbah Alkitabiah

Jangan pernah berkhotbah tanpa persiapan! Pengkhotbah yang tidak melakukan persiapan menghasilkan khotbah setengah matang dan menghasilkan jemaat yang setengah hidup.
Ada tiga persiapan yang harus dilakukan pengkhotbah sebelum berkhotbah, yakni:
–    menyiapkan pengkhotbah
–    menyiapkan alat-alat
–    menyiapkan khotbah

Menyiapkan pengkhotbah

Sebelum menyiapkan khotbah, pengkhotbah hendaknya menyiapkan dirinya terlebih dulu. Memahami khotbah Alkitabiah, seperti diuraikan sebelumnya, merupakan bagian persiapan yang tak boleh dilewatkan. Tetapi ada persiapan khusus yang tak boleh diabaikan.
Ketekunan berdoa.
Pengkhotbah haruslah seorang yang senantiasa hidup dalam doa. Secara khusus seorang pengkhotbah harus tetap bersikap doa dalam seluruh rangkaian persiapan khotbah.
Rasul Petrus telah mengkhususkan dirinya untuk pelayanan doa dan firman Tuhan  (Kis.6:4). Rasul Paulus juga seorang pendoa (Kol.1:9).
Pengkhotbah, semua yang melayani dalam pemberitaan Firman, juga memerlukan dukungan doa dari jemaat dan rekan-rekan kerjanya.
Ef.6:18-20 – Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.
Kis.4:39, 41 – Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu… Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
Doa meningkatkan kepekaan kita terhadap kehendak Roh Kudus yang berkarya dalam hidup kita. Roh Kudus yang membuat para murid berkhotbah dengan berani. Roh Kudus juga yang membuat keberhasilan pemberitaan Firman. Dari sisi ini dipenuhi Roh Kudus berarti memperoleh keberanian luar biasa dalam memberitakan Injil.
Tekad untuk belajar
Pengkhotbah harus memiliki tekad mempelajari Firman Tuhan dengan bersungguh-sungguh. Ingat Ezra! (Ezr.7:10). Ingat Paulus! (2Tim.4:13). Petrus juga belajar, ia membaca tulisan Paulus (2Ptr.3:15-16).
Pengkhotbah tidak boleh berhenti belajar selama mempersiapkan khotbah. Dalam proses mempersiapkan khotbah itulah Roh Kudus mengajar pengkhotbah. Hal ini penting karena pengkhotbah cenderung untuk menafsirkan nas yang hendak dikhotbahkannya menurut kehendaknya sendiri. Sedangkan menurut rasul Petrus Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Ptr.1:20-21).
Dalam proses ini pengkhotbah harus meningkatkan kepekaannya terhadap pimpinan dan pengajaran Roh Kudus. “…yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh.14:26).
Ia juga harus memiliki kesiapan untuk diubah pengertiannya sendiri, diganti pengertian yang diberikan oleh-Nya.

Menyiapkan peralatan

Peralatan yang  kita perukan untuk berkhotbah sebenarnya Alkitab saja. Kita berkhotbah dari Alkitab, bukan sumber lain.
Prinsipnya kita harus bersungguh-sungguh merenungkan Firman Tuhan dengan kerendahan hati dan mengandalkan pimpinan Roh Kudus. Tetapi kita harus mengakui bahwa ada hal-hal yang sukar dipahami dari Alkitab. Rasul Petrus sendiri mengakui hal ini. Perhatikan ia berbicara tentang surat-surat rasul Paulus dalam 2Ptr.3:16 – Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.
Maka untuk membantu kita memahami Alkitab kita memerlukan alat bantu. Inilah alat-alat yang dimaksud:
–    Alkitab lebih dari satu versi terjemahan: Terjemahan Lama, Terjemahan Baru, Bahasa Indonesia Sehari-hari, Bahasa Daerah, Bahasa Inggeris.
–    Konkordansi Alkitab.
Untuk melihat penggunaan kata-kata yang sama dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab.
–    Kamus Alkitab.
Untuk melihat kata-kata yang tidak kita ketahui artinya, misalnya: burung nazar, narwastu, firdaus, talenta, orang Filistin… Di halaman belakang Alkitab kita terdapat kamus ringkas. Cukup membantu, tetapi kita perlu memiliki yang lebih lengkap.
–    Atlas Alkitab.
Untuk melihat letak dan jarak tempat-tempat yang disebut dalam Alkitab.
–    Kamus istilah teologi.
Untuk melihat kata-kata atau istilah-istilah teologi seperti kelahiran baru, adopsi, pembenaran dan sebagainya.
–    Buku Tafsiran.
Ada Alkitab yang dilengkapi dengan survei dan garis besar kitab-kitab serta penafsiran secukupnya.
Ada buku tafsiran lengkap dari Kejadian sampai Wahyu.
Ada buku tafsiran satu kitab saja, misalnya Tafsiran Kitab Matius.
Panggilan berkhotbah akan membuat kita berani menyisihkan dana untuk membeli buku-buku yang berguna demi memperluas pemahaman Alkitab dan meningkatkan kemampuan menyampaikan firman Tuhan.
Selain itu kita juga perlu menyiapkan alat tulis: kertas dan pena. Kita perlu mencatat semua yang kita pelajari. (Ingat: kita pelupa!) Ide-ide yang muncul saat mempelajari firman Tuhan harus kita catat. Kita juga perlu menulis bagan atau skema khotbah.

Menyiapkan khotbah

Sebelum menyiapkan khotbah kita harus memeriksa dahulu definisi kerjanya. Yang dimaksud definisi kerja adalah batasan yang terdiri dari urutan tahap-tahap yang harus kita lakukan.
Definisi kerja khotbah Alkitabiah:
Memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya, menyusun bagannya, menghayatinya dan menyampaikannya kepada jemaat.
Dari definisi tersebut dapat dikerjakan bagian-bagian dari khotbah Alkitabiah seperti berikut:
–    Memilih nas
–    Menggali arti dari dalamnya
–    Menemukan temanya
–    Menyusun garis besarnya
–    Menghayatinya
–    Menyampaikannya kepada jemaat
Memilih nas sampai dengan menyusun bagan khotbah kita pelajari pada bab ini, sedangkan menghayati dan menyampaikannya, pada bab berikutnya.
Mari kita mempelajari tahap-tahapnya.

MEMILIH NAS

Memilih nas adalah pekerjaan awal dari menyiapkan khotbah. Banyak pengkhotbah yang merasakan kesulitan dalam hal ini, baik pemula maupun mereka yang telah berpengalaman berkhotbah bertahun-tahun. Tetapi jika kita setiap hari bergaul dengan Alkitab, kesulitan tersebut pasti segera dapat diatasi.
Bagaimana memilih nas?
Memilih kitab
Memilih nas khotbah bisa kita lakukan dengan memilih kitab dan mengkhotbahkan bagian-bagiannya secara berseri.
Berkhotbah dengan cara ini akan membuat kita memiliki pemahaman yang dalam terhadap suatu kitab dan tentu saja akan membuat kita memiliki pemahaman Alkitab secara luas dan dalam. Kita menjadi penuh percaya diri karena sudah menguasai atau mempelajari khotbah dengan baik. Dan jemaat pun akan menjadi terpelajar atau memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci.
Dengan memilih kitab dan mengkhotbahkannya secara berseri, kita pun terhindar dari kecenderungan mengarahkan khotbah pada seseorang atau sekelompok orang dan melindungi diri kita dari akibatnya jika kita berkhotbah seperti itu.
Bersaat teduh.
Ketika bersaat teduh kita dapat menemukan nas yang akan kita khotbahkan. Kita biasanya bersaat teduh dengan membaca bagian Alkitab berurutan atau membaca buku renungan harian. Pengkhotbah haruslah seorang yang membiasakan diri dengan bersaat teduh.
Pembacaan Alkitab harian berurutan akan memperluas pemahaman kita tentang firman Tuhan secara menyeluruh. Dengan membaca Alkitab secara berurutan kita akan menikmati berkat firman-Nya tiap hari. Pada hari-hari tertentu kita akan menikmati berkat yang luar biasa yang membangkitkan gejolak dalam hati kita untuk membagikannya kepada orang lain.
Buku renungan dapat menolong kita untuk menemukan nas yang akan kita khotbahkan. Beberapa orang tertentu menyampaikan renungan dengan memegang buku renungan harian dan membacakannya. Meskipun kita sangat diberkati dengan renungan harian tersebut sebaiknya kita mendalami lagi ayat atau nasnya agar kita dapat menyampaikannya sebagai hasil kebersamaan kita dengan Tuhan secara pribadi.
Memperhatikan kebutuhan jemaat.
Jika kita seorang gembala jemaat atau pengerja gereja Roh Kudus akan memimpin kita menemukan nas yang akan kita khotbahkan sementara kita memperhatikan kebutuhan orang-orang yang kita layani. Tetapi kita harus memahami bahwa kebutuhan mereka tidak selalu bersifat jasmani atau materi. Kebutuhan terpenting manusia adalah kerohaniannya. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat.6:33).
Berapa panjang nas?
–    Bisa 1 (satu) ayat (Ezr.7:10; Yoh.3:16; 1Kor.15:58).
–    Bisa 1 (satu) bagian dari paragrap (Ef.4:11-16)
–    Bisa 1 (satu) paragrap (Ibr.4:12-13).
–    Bisa 1 (satu) perikop (Kis.3:1-10; Rm.5:1-11)
–    Bisa 1 (satu) pasal (Yoh.6; 21)
–    Bisa 1 (satu) kitab (Filemon, 2-3 Yohanes, Yudas)
Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan memilih nas:
Nas harus merupakan satu gagasan utuh, bukan sepotong. Hati-hati jika kita memilih nas yang berakhir dengan koma. Jika nas terdiri dari lebih dari satu gagasan, sebaiknya kita penggal.
Nas harus merupakan informasi penting. Semua bagian Alkitab penting, tetapi ada yang sangat penting untuk kita sampaikan pada waktu dan kondisi tertentu.
Nas merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak. Alkitab adalah jawaban bagi semua kebutuhan umat manusia, tetapi ada ayat-ayat yang sangat mendesak untuk disampaikan sebagai jawaban atas pergumulan jemaat.
Nas terjangkau oleh kemampuan kita menafsirkannya.
Terakhir, kita memilih nas dengan memperhatikan ketersediaan waktu kita untuk menyelidikinya.

MENGGALI ARTI DARI DALAM NAS

Berkhotbah berarti memahami melalui mempelajari nas dan menjelaskannya kepada pendengar. Tidak mungkin kita menjelaskan kebenaran Alkitab tanpa mempelajari sebelumnya.
Jika kita tidak mempelajarinya, apa yang dapat kita sampaikan?

Tiga tahap mempelajari nas
Mengamati:    berurusan dengan semua rincian yang dapat dilihat dalam nas
Mencari:    mempelajari nas dengan mengajukan  pertanyaan-pertanyaan pada bagian-bagian rinci dari nas dan menyimpulkannya.
Menerapkan:     membuat penerapan

1.    Mengamati Bagian-bagian Rinci Nas
Mengamati nas adalah memperhatikan informasi yang Allah taruh dalam nas Alkitab. Semua bagian nas adalah penting karena kita percaya sepenuhnya pengilhaman Alkitab.
Allah telah memilih kata-kata untuk ditulisnya pada Kitab Suci, jadi kita perlu mempelajarinya.

Mengamati kata-kata
Pada tahap ini kita mencatat kata-kata kunci dari nas. Penting mengamati kata-kata karena menentukan isi nas dan mempengaruhi arti atau makna secara keseluruhan.
Kata-kata yang harus diamati:
–    Kata-kata panjang atau ungkapan
–    Kata-kata istimewa
–    Kata-kata yang diulang
–    Kata-kata yang pengkhotbah sendiri kurang mengerti artinya
Contoh: Rm.5:1-11
Kata-kata panjang atau ungkapan:
dibenarkan karena iman;
hidup dalam damai sejahtera;
bermegah dalam pengharapan;
masih lemah;
pasti akan diselamatkan.
Kata-kata istimewa:
dibenarkan,
bermegah,
ketekunan,
tahan uji,
pengharapan,
dicurahkan.
Kata-kata yang diulang:
dibenarkan (ay 1,9),
kasih karunia (ay 2, 2x),
bermegah (ay 2,3,11),
pengharapan (ay 2,4,5)
Ungkapan yang diulang:
pasti akan diselamatkan (ayat 9 dan 10).
Dan bukan hanya itu saja (ayat 3); Dan bukan hanya itu saja! (ayat 11). Perhatikan: pada ayat 3 tanpa tanda seru, tapi pada ayat 11 dengan tanda seru. Ada maksud tertentu dari penulis surat itu!

Mengamati hubungan-hubungan
Kata- kata berhubungan satu dengan yang lain. Ayat-ayat berhubungan satu dengan yang lain. Demikian juga paragrap dan perikop, saling berhubungan satu dengan yang lain. Jenis hubungan tentu saja berbeda-beda. Kita harus memperhatikan semuanya dengan teliti.
Beberapa jenis hubungan yang perlu diamati:
Hubungan tata bahasa
Apakah kegiatan atau peristiwa berlangsung pada masa lalu (telah, sudah, yang lalu).
Rm.5:5 – Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Yoh.5:24 – Aku berkata kepadamu: Sesunguhnya barangsiapa mendengar perkaaan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Apakah kegiatan berlangsung pada masa kini (sedang, kini).
Rm.5:10 – Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan…
Apakah kegiatan berlangsung pada masa akan datang (akan, kelak).
Rm.5:10 – …pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Ef.2:7 – supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah
Hubungan logis
Sebab-akibat: karena
Rm.5:9 – Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
1Yoh.4:19 – Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Kita sanggup mengasihi Allah dan sesama sebagai akibat kasih-Nya yang telah kita terima.
Alasan: karena itu
Kol.3:1 – Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Kis.26:19 – Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat.
Hasil: menimbulkan, menerima
Rm.5:3-4 – Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Rm.5:11 – Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima  pendamaian itu.
Kontras: tetapi
Rm.5:7-8 – Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. – Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Ef.2:4 – Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan…
Ef.2:8 – Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.
Perbandingan: lebih besar
Yoh.15:14 – Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya.
1Yoh.4:4 – Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
Persyaratan: jikalau; jika … maka
Why.3:20 – Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
2Taw.7:14 – …dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
Tujuan: supaya, untuk
Ef.1:6 – supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
Ef.2:7 – Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah…
Ef.4:12 – Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.
Hubungan kronologis atau geografis
Kronologis berhubungan dengan perpindahan waktu.
Geografis berhubungan dengan perpindahan tempat.
Kis.3:7-10 – Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu  berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
Yoh.4:4 –  Ia harus melintasi daerah Samaria.
Hubungan psikologis
Hubungan yang lembut antara gembala dan domba (Mzm.23; Yoh.10). Memahami perasaan gembala terhadap dombanya membantu kita memahami perasaan gembala rohani terhadap jemaat.
Hubungan kontekstual
Konteks paragrap atau pasal.
Unit dasar dari mempelajari Alkitab bukanlah ayat atau kalimat, tetapi paragrap. Kita tidak bisa mempelajari kata terlepas dari kalimatnya, kalimat terlepas dari ayatnya, dan ayat terlepas dari paragrapnya. Kita tidak dapat mempelajari paragrap tanpa mempelajari perikop atau pasalnya.
Konteks kitab.
Mempelajari nas harus mempelajari kitab di mana nas tersebut tercantum.
Setiap kitab dalam Alkitab ditulis oleh pengarang yang cerdas di bawah pimpinan Roh Kudus. Mengetahui latar belakang kitab menolong kita untuk dapat memahami lebih benar tentang nas yang akan kita khotbahkan.
Mengetahui keseluruhan kitab menolong kita bergumul serius dari apa yang pengarang maksudkan dengan tulisannya. Memahami maksud pengarang adalah sasaran dari semua penafsiran.
Mempelajari kitab berarti mencari tahu tahun berapa ditulisnya, siapa pengarangnya, kepada siapa dialamatkan, apa latarbelakangnya, apa tujuan penulis, prinsip-prinsip kebenaran apa yang dikemukakannya dan sebagainya. Untuk memperoleh semua keterangan yang dimaksud pengkhotbah perlu membuka buku survey kitab-kitab Alkitab.
Konteks Perjanjian.
Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Nas kita terletak di mana? Hal ini penting kita perhatikan, karena Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki bukan pertentangan, tapi perbedaan-perbedaan tertentu.
Konteks Alkitab.
Keseluruhan Alkitab adalah sebuah kisah besar. Yakni pandangan Allah mengenai sejarah (history) sejarah-Nya (His Story).
Asal mula manusia dan alam semesta, tindakan Allah dalam memilih orang-orang dalam Perjanjian Lama, kedatangan pertama Kristus, penyataan rahasia bahwa seluruh bangsa dapat menjadi ahli waris yang sama pada keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, serta kejadian-kejadian akhir dari dunia kita berputar seputar Yesus Kristus sebagai Penebus atau Juruselamat umat manusia. Isi seluruh Alkitab adalah penciptaan bumi sampai penciptaan bumi baru.
Pengkhotbah harus mengerti posisi nas dalam Alkitab, agar dapat memahami hubungannya dengan Alkitab sebagai keseluruhan. Misalkan kita mengadakan perjalanan dari Denpasar ke Jakarta melalui jalur darat. Peta yang kita pegang akan menunjukkan antara lain jarak Denpasar-Jakarta; kota-kota apa saja yang akan kita lalui dan mungkin makanan favorit apa yang terdapat di kota-kota tersebut. Andaikan kita sudah tiba di Probolinggo, melalui peta kita akan mengetahui sudah sejauh mana perjalanan dan masih berapa sisa jarak yang harus ditempuh.
Konteks historis.
Alkitab adalah catatan sejarah Kristus yang dinyatakan dalam umat-Nya Israel dan Gereja. Kita harus memahami konteks sejarah dari nas yang akan kita khotbahkan. Harus kita pelajari dan perhatikan apakah nas terletak di zaman Musa, zaman Yosua, zaman Hakim-hakim, zaman Raja-raja, zaman pembuangan, zaman pemulangan, zaman pelayanan Tuhan Yesus, zaman pelayanan para rasul dan seterusnya…
Misalnya kita memilih nas dari kitab Daniel. Kita harus tahu pada zaman apa Daniel hidup, bagaimana kisah hidupnya, apa saja yang dikerjakannya, bagaimana Allah memakai dia untuk kemuliaan nama-Nya…
Hubungan Gaya Sastra
Apakah nas berbentuk cerita, puisi, hikmat, nubuatan, perumpamaan, surat atau pewahyuan?
Pendekatan penafsiran kita pada nas akan dipengaruhi oleh gaya tulisan. Sebagai contoh, kita melihat nas yang ditulis dalam gaya narasi berbeda dari yang kita lihat dari sebuah surat.
Peringatan penting dalam hal ini adalah kita tidak dapat mencomot bagian nas yang berbentuk narasi apalagi perumpamaan dan mengkhotbahkannya terlepas dari keseluruhan kisahnya.
Mengamati dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Kita dapat mengamati nas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kata bantu tanya yang dapat diajukan adalah Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Mengapa dan Bagaimana.
“Apa” mencari jawaban mengenai benda (pedang, roti), peristiwa (kehabisan anggur, dirampok habis-habisan) dan definisi atau pengertian (kebenaran, pembenaran, dibenarkan).
“Siapa” mencari jawaban mengenai nama orang (Yudas, Petrus), atau pribadi (Raja, Roh Kudus, penguasa kerajaan angkasa, malaikat, Iblis, roh jahat).
“Dimana” mencari jawaban mengenai tempat baik secara geografis (Betlehem, Bait Allah), anatomis (kepala, pundak, punggung) atau rohani (surga, neraka, kegelapan).
“Kapan” mencari jawaban mengenai waktu (pagi, malam, yang lalu, kini, yang akan datang).
“Mengapa” mencari jawaban mengenai alasan, sebab-akibat dan lain-lain. Mengapa Petrus menyangkal Yesus? Mengapa Paulus menangkap dan membunuh orang Kristen? Mengapa Paulus menjadi pelayan yang bekerja keras? Mengapa orang tidak percaya dihukum? Mengapa ia bersukacita? Mengapa Allah murka terhadap Israel?
“Bagaimana” mencari jawaban tentang suatu proses. Bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir? Bagaimana orang berdosa diselamatkan? Bagaimana Tuhan memberi makan lima ribu orang? Bagaimana Tuhan menyembuhkan orang buta? Bagaimana Roh Kudus membimbing umat-Nya?
Mari kita menerapkannya pada Kis.3:1-10.
Apa yang terjadi? Petrus dan Yohanes ke Bait Allah (ayat 1). Orang lumpuh meminta-minta sedekah (ayat 2). Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu (ayat 6-7). Orang lumpuh itu berdiri, berjalan kian kemari dan melompat-lompat sambil memuji Allah (ayat 7-9).
Apa yang diminta pengemis itu? Sedekah! (ayat 2-3).
Apa yang diperolehnya? Kesembuhan! (ayat 6-8).
Apa yang terjadi setelah orang lumpuh disembuhkan? Ia melonjak, berjalan, melompat-lompat serta memuji Allah (ayat 8). Seluruh rakyat melihat, takjub dan tercengang (ayat 9-10)
Siapa tokoh-tokoh dalam kisah ini? Petrus, Yohanes, orang lumpuh, para pengusung orang lumpuh, orang banyak.
Siapa tokoh utamanya? Yesus! (ayat 6).
Dimana peristiwanya terjadi? Di Bait Allah, di pintu Gerbang Indah (ayat 1-2).
Kapan terjadi? Pukul tiga petang (ayat 1). Jawaban yang berkaitan dengan konteks: Setelah pencurahan Roh Kudus dan pertobatan tiga ribu jiwa melalui khotbah Petrus (pasal 2).
Mengapa orang lumpuh diusung?
Mengapa orang lumpuh meminta sedekah?
Mengapa Petrus ke Bait Allah?
Mengapa Petrus tidak memberi uang kepada pengemis itu?
Mengapa Petrus menyembuhkan?
Mengapa orang lumpuh itu bisa sembuh?
Mengapa orang banyak tercengang?
Bagaimana Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu? “Demi nama Yesus Kristus…” (ayat 6). Ia memegang tangan dan membantu orang itu berdiri (ayat 7).
Bagaimana proses penyembuhan itu terjadi? Lumpuh – dipegang tangannya – dibantu berdiri – kuat kaki dan mata kakinya – melonjak berdiri – berjalan kian kemari – mengikuti ke dalam Bait Allah – melompat-melompat – memuji Allah.
Bagaimana sikap orang terhadap peristiwa itu?
Bagaimana Petrus menyikapi peristiwa itu?
Lebih banyak pertanyaan dapat diajukan sesuai dengan kejelian kita dalam mengamati. Sebanyak-banyaknya pertanyaan dapat kita kemukanan. Jawaban-jawaban juga bisa lebih rinci diberikan sesuai ketelitian pengamatan kita.

2. Menafsirkan atau Mencari Arti
Langkah berikut setelah mengamati adalah menafsirkan. Menafsirkan berarti mencari atau menemukan arti dari nas. Di sini kita tiba pada kerja keras penafsiran yang sebenarnya.
Penafsiran natural atau literal adalah penafsir mencari arti. Pada dasarnya, bagian paling penting menafsirkan teks adalah memahami artinya, menemukan prinsip atau kebenarannya.
Dalam melakukan pekerjaan ini kita harus berhati-hati bahwa kita tidak akan memanipulasi atau menguasainya.
Perhatikan adanya tiga bahaya dalam penafsiran:
–    Misinterpretasi – memberi arti salah pada nas
–    Subinterpretasi – kegagalan mengetahui dengan pasti arti sepenuhnya dari nas
–    Superinterpretasi – menambahkan arti pada nas lebih dari yang sebenarnya
Kita juga harus berhati-hati dalam menafsirkan nas dengan mengajukan tes kejujuran dalam penafsiran: Tidakkah kita menafsirkan berdasar prasangka terhadap nas?
Seringkali pengkhotbah sudah memiliki pemahaman tertentu dan memilih nas untuk mendukung pemahamannya tersebut. Sikap seperti ini keliru! Yang benar adalah pengkhotbah meletakkan pemikirannya di bawah otoritas Alkitab dengan menguji pemahamannya untuk diteguhkan atau dikoreksi oleh firman Tuhan.
Ingat 2Ptr.1:20-21, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.
Kita harus bersikap rendah hati dalam menafsirkan. Penafsiran kita tidak sempurna, maka kita harus terbuka pada kemungkinan perubahan. Ketika kita mempelajari nas, Roh Kudus meneguhkan kebenaran yang telah kita miliki atau mengajarkan kebenaran-kebenaran baru.
Dari hasil pengamatan yang telah kita lakukan kita memperoleh banyak informasi. Kini kita mempelajarinya untuk memperoleh kebenaran-kebenaran Alkitabiah dari nas yang kita pelajari.
Mari perhatikan lagi Kis.3:1-10. Inilah kebenaran-kebenaran yang dapat kita temukan:
–    Orang yang tak berdaya mengandalkan bantuan orang lain untuk hidupnya.
–    Emas dan perak, harta benda atau uang tidak dapat mengubah hidup seseorang
–    Hamba Tuhan harus mengarahkan pengharapan orang yang menderita kepada Kristus.
–    Nama Kristus berkuasa membarui hidup manusia.
–    Kristus mengubah hidup dari tak berdaya menjadi berdaya.
–    Kristus mengubah orang untuk memuji nama-Nya.
–    Karya Kristus mengakibatkan orang-orang di sekitar orang yang diperbarui melihat dan kagum atas kuasa-Nya.
–    Orang yang telah diperbarui hidupnya akan membuat banyak orang berkumpul di sekitarnya.
–    Orang yang telah dibarui hidupnya menjadi kesaksian bagi banyak orang lain.
Menetapkan penerapan
Sebelum menunjukkan pada jemaat bagaimana menyatukan kebenaran Alkitab ke dalam hidup mereka, pertama kita harus dan mau menerapkan firman Allah dalam hidup kita.
Pada tahap ini kita berpikir apa yang Alkitab katakan kepada saya, pengkhotbah. Pada tahap berikutnya kita berpikir apa yang dikatakan Allah pada jemaat yang kita layani berdasarkan pada arti nas Alkitab.
Penerapan bisa berorientasi pada isi, berhubungan dengan apa yang pendengar harus percayai atau hargai.
Atau bisa berorientasi pada perilaku, berhubungan dengan apa yang mereka harus lakukan atau taati.
Sering dua orientasi ini bercampur, karena orang akan melakukan yang mereka hargai.
Kita tidak boleh membuat penerapan yang semberono, artinya tidak sesuai dengan nas, karena akan membuat sia-sia khotbah kita. Maka, untuk dapat membuat penerapan yang layak kita harus mengajukan pertanyaan keras berikut:
Apa jenis penerapan yang harus digambarkan dari nas? Isi, tindakan, atau tindakan berdasarkan isi?
Benarkan penerapan kita berdasar pada nas? Adakah ia mempunyai kebenaran yang berasal dari nas?
Apakah akan meyakinkan pendengar bahwa ini penerapan dari nas?
Bagaimana kita dapat yakin bahwa jemaat akan mengerti penerapan nas? Kita tidak dapat merasa pasti bawa mereka menangkap penerapan itu. Penerapan tidak otomatis. Sesungguhnya, orang tidak senang menerapkan kebenaran bagi diri sendiri. Orang lebih senang menerapkan kebenaran pada orang lain.
Untuk menetapkan penerapan kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
–    Apakah ada perintah untuk ditaati?
–    Apakah ada janji untuk dimiliki?
–    Apakah ada bahaya untuk dijadikan peringatan?
–    Apakah ada kebenaran yang perlu direnungkan?
–    Apakah ada kebenaran yang perlu dibagikan?
–    Apakah ada dorongan untuk masa depan?
–    Apakah ada dosa yang perlu diakui di hadapan Tuhan?
–    Apakah ada doa atau ucapan syukur kepada Tuhan?
–    Apakah ada teladan hidup untuk diikuti?
–    Apakah ada kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan?
Mari mencari penerapan dari Kis.3:1-10
–    Perintah untuk ditaati:
Beritakan Kristus!
Nyatakan kuasanya dengan memberdayakan orang-orang tak berdaya. Bantu mereka agar mandiri.
–    Janji untuk dimiliki:
Pembaruan hidup melalui kuasa Nama Yesus.
–    Kebenaran yang perlu direnungkan:
Apakah pola pikirku sudah diperbarui? Dari memikirkan perkara-perkara lahiriah pada memikirkan perkara-perkara rohani.
Apakah perilakuku sudah diubahkan?
Apakah tutur kataku memuliakan Tuhan?
Apakah hidupku menjadi kesaksian?
–    Doa atau ucapan syukur:
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memperbarui hidupku.
–    Teladan hidup yang harus diikuti:
Dari rasul Petrus: memberi perhatian dan menolong orang demi nama Yesus Kristus.
Dari orang lumpuh yang disembuhkan: memuliakan Tuhan melalui perilaku, tutur kata dan hidup kita.
–    Kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan: orang yang telah diperbarui hidupnya harus menjadi kesaksian.

MENEMUKAN TEMA

Kesimpulan atau hasil akhir dari pengamatan dan pencarian arti dari nas disimpulkan dalam sebuah kalimat tema. Artinya, tema keluar dari nas. Tema disarikan dari ayat-ayat nas.
Alkitab memiliki tema besar, yakni “Sejarah penyelamatan dalam Yesus Kristus.” Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mempunyai tema tersendiri, tapi tetap searah dengan tema Alkitab. Tiap-tiap kitab memiliki tema khas sesuai dengan pimpinan Roh Kudus yang diberikan kepada penulis kitab. Tiap-tiap pasal, perikop atau paragrap, memiliki temanya masing-masing, tetapi masih berhubungan dengan tema sentral Alkitab. Demikian pula nas yang kita pilih memiliki tema yang telah diilhamkan. Jadi, mari kita temukan tema dengan menggali sedalam-dalamnya nas yang kita akan khotbahkan.
Menemukan tema merupakan pekerjaan sangat sulit, tetapi banyak berkat rohani diperoleh melaluinya. Pengkhotbah harus melewati proses ini.
Tema adalah gagasan utama dari nas yang tersusun dalam sebuah kalimat lengkap.
Tema terdiri dari pokok (topik atau subjek) ditambah pelengkap (penekanan).
Setelah mempelajari nas dengan mengajukan banyak pertanyaan, kini kita akan menemukan tema dengan mengajukan dua pertanyaan yang akan membantu kita menentukan tema.
Pokok menjawab pertanyaan:
Apa yang dibicarakan dalam nas.
Atau, nas berbicara tentang apa?
Pelengkap menjawab pertanyaan:
Apa yang dikatakan tentang pokok dalam nas.
Mari melihat tema: Kis.3:1-10
Nas ini berbicara tentang apa?
Pembaruan oleh Nama Yesus Kristus
Pembaruan dalam hal apa?
Dalam pola pikir (ay 1-6)
Dalam perilaku (ay 7-8)
Dalam tutur kata (ay 8-9, memuji Allah)
Dalam kesaksian (ay 9-10)
Rumusan tema:
Nama Yesus Kristus berkuasa memperbarui hidup kita dalam pola pikir, perilaku, tutur kata dan kesaksian.

Mari kita perhatikan lagi: Rm.5:1-11
Nas ini berbicara tentang apa?
Bermegah di dalam kasih karunia.
Atau: Di dalam kasih karunia kita bermegah.
Kita dapat bermegah dalam hal apa?
Dalam pengharapan (ay 2)
Dalam kesengsaraan (ay 3)
Dalam Allah oleh Yesus Kristus (ay 11)
Rumusan tema:
Di dalam kasih karunia kita dapat bermegah dalam pengharapan, dalam kesengsaraan dan dalam Allah oleh Yesus Kristus.

MENYUSUN BAGAN KHOTBAH

Bagan, struktur atau skema adalah rancangan susunan khotbah yang dibuat untuk menjadi penuntun khotbah kita.
Menyusun bagan khotbah merupakan bagian penting dalam menyiapkan khotbah.
Alkitab telah ditulis Allah dengan struktur atau garis besar yang indah. Tiap-tiap kitab memiliki struktur yang menakjubkan. Bagan khotbah dapat kita temukan dalam nas yang akan kita khotbahkan. Tidak perlu kita mereka-rekanya.
Bagan khotbah harus keluar dari nas, bukan dari pikiran atau kehendak pengkhotbah. Isi khotbah haruslah serasi dengan tema nas. Sesungguhnya, tema yang sudah digali dari nas yang menuntun pengkhotbah menyusun bagan khotbahnya.
Bagan khotbah seharusnya menunjukkan ciri-ciri berikut:
Kesatuan.
Seluruh rangkaian khotbah merupakan satu kesatuan yang kait-mengait. Khotbah terdiri dari sebuah ide atau gagasan besar yang dijelaskan sepanjang khotbah.
Keteraturan.
Bagian-bagian khotbah harus berhubungan secara teratur dengan keseluruhan khotbah. Ini menolong kita agar dapat menyampaikan khotbah secara teratur dan jelas. Cara ini menghindarkan kita dari berbicara berputar-putar.
Keterukuran.
Tiap-tiap bagian khotbah harus memiliki ukuran panjang yang serasi.
Kemajuan.
Atau perkembangan. Menunjukkan agaimana setiap bagian bergerak maju, sehingga khotbah mencapai puncaknya tanpa lompatan-lompatan yang membingungkan pendengar.
Unsur-unsur dalam Bagan Khotbah
Unsur-unsur penting yang harus terdapat dalam bagan khotbah, yang tak boleh diabaikan, adalah sebagai berikut:

1.    Judul

Khotbah memerlukan judul.
Judul khotbah akan muncul atau disebut beberapa kali dalam khotbah.
Jika kita sudah bekerja keras menemukan tema, kita dapat mempergunakan bagian tema sebagai judul.
Judul harus menjadi sebuah “iklan” dengan dampak memperoleh perhatian pendengar.
Judul adalah identitas khotbah.
Judul adalah intisari khotbah. Ia harus mewakili seluruh isi khotbah. Ia adalah mahkota khotbah.
Ia menarik karena unik, akurat, jelas dan pendek. Ia harus menarik perhatian pendengar agar terarah kepada khotbah. Unik artinya khas, berbeda dengan yang lain, tetapi tidak perlu nyentrik atau nyeleneh. Akurat artinya benar-benar mewakili isi khotbah. Jelas artinya terdiri satu gagasan sederhana.
2.    Nas
Nas yang akan kita khotbahkan diambil dari satu bagian Alkitab dan harus ditulis secara jelas. Nas khotbah tidak terdiri dari ayat-ayat yang terpencar-pencar.
Mungkin kita memerlukan ayat-ayat lain, tetapi itu akan kita gunakan sebagai referensi.
3.    Tema
Tema adalah intisari khotbah dalam satu kalimat lengkap. Tema khotbah ditentukan setelah mengadakan penelitian terhadap nas.
Pendengar tidak akan mengingat semua khotbah kita, tetapi mereka harus mengingat temanya. Jika mereka tidak dapat mengingat temanya, maka kita gagal berkhotbah.
Tema khotbah ibarat sekrup yang harus diulirkan beberapa kali putaran supaya menancap lebih dalam. Tema harus diungkapkan beberapa kali, dalam pendahuluan, garis-garis besar, kesimpulan dan mungkin penerapan.

4.    Pendahuluan

Pendahuluan menentukan keefektifan khotbah. Jika kita tidak memperoleh hasrat pendengar (dalam beberapa menit awal) sebagai sandaran khotbah, mereka mungkin segera tertidur.
Pendahuluan harus menarik perhatian pendengar. Mereka sudah tertarik pada khotbah melalui penyampaian judul, kini mereka semakin tertarik melalui mendengar pendahuluan khotbah.
Pendahuluan harus membangkitkan kebutuhan pendengar. Melalui pendahuluannya pengkhotbah membuat pendengar merasakan kebutuhan akan firman Tuhan yang dikhotbahkan. Ketika pendahuluan disampaikan mereka akan berkata dalam hatinya: “Aku perlu mendengar khotbah ini! Aku perlu mengerti kebenaran yang disampaikan!”
Pendahuluan memperkenalkan tema. Pendahuluan berfungsi untuk mengarahkan pendengar pada tema. Dalam pendahuluan tema dikemukakan sehingga pendengar mengetahui arah khotbah.
Dalam pendahuluan kita mengumumkan nas dan latar belakangnya.
Pendahuluan juga menyatakan tujuan khotbah. Pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan atas pendengar.
5.    Tujuan

Tujuan ditentukan oleh tema yang telah ditemukan dari nas.
Tujuan juga harus sesuai dengan isi khotbah.
Tujuan ditempatkan di bagian akhir pendahuluan. Disampaikan kepada jemaat agar mereka mengetahui sasaran apa yang hendak dicapai oleh pengkhotbah.
Dari sisi akal budi pengkhotbah memiliki tujuan agar jemaat memahami kebenaran yang dikhotbahkan.
Dari sisi kehendak pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan agar jemaat menghendaki untuk hidup dalam kebenaran yang disampaikan.
Dari sisi tindakan pengkhotbah berharap agar jemaat menerapkan kebenaran yang diterimanya.

6.    Isi/ Tubuh

Isi khotbah terdiri dari dua atau lebih bagian atau garis besar. Banyaknya garis besar ditentukan oleh nas. Bagian-bagian ini ditentukan oleh penekanan-penekanan pada kalimat tema. (Bukan kita yang menentukannya!).

ISI GARIS BESAR KHOTBAH:

KALIMAT TRANSISI: Kalimat transisi menghubungkan tema dengan tubuh khotbah, atau menghubungkan garis besar sebelumnya dengan sesudahnya, atau menghubungkan garis besar dengan kesimpulan.
PERNYATAAN KEBENARAN: Garis besar merupakan pernyatan kebenaran dalam sebuah kalimat lengkap.
BAGIAN NAS yang dijelaskan. Garis besar harus mencantunkan bagian nas yang dijelaskan.
PENJELASAN:
Bisa berupa definisi kata seperti “kebenaran,” “pembenaran,” “dosa” dan sebagainya.
Bisa berupa keterangan suatu proses seperti penyangkalan Petrus atau pertobatan Paulus.
REFERENSI (jika memerlukan peneguhan ayat-ayat lain).
ILUSTRASI
Pengaruh khotbah selalu berhubungan dengan ilustrasi di dalamnya. Komunikasi yang baik mempergunakan banyak ilustrasi yang efektif. Ilustrasi membawa pendengar dari yang diketahui (ilustrasi tersebut) pada yang tak diketahui (kebenaran Alkitab).
Nilai ilusrasi
Adalah salah menggunakan ilustrasi dengan tujuan memperpanjang khotbah. Ilustrasi dipergunakan untuk menambah kejelasan, bukan menambah panjangnya.
Ilustrasi membuat halnya dapat dimengerti. Ilustrasi dipergunakan untuk menolong pendengar memahami isi atau materi atau bagian khotbah yang diilustrasikan.
Ketika menemukan ilustrasi yang kuat kita kadang-kadang tergoda untuk membuat khotbah cocok dengannya. Khotbah kemudian diarahkan pada ilustrasi, dan pendengar akhirnya mengingat ilustrasinya ketimbang gagasan yang sebenarnya mau diperjelas dengan ilustrasi tersebut.
Kita tidak boleh mengkhotbahkan ilustrasi. Ilustrasi harus digunakan pada tempat yang tepat, waktu yang tepat serta alasan yang tepat.
Keuntungan mempergunakan ilustrasi
Menghindarkan kesalahmengertian. Ilustrasi menerangi. Ia menambah terang pada konsep dan arah khotbah. Ia menolong pendengar mengerti dan menolong pengkhotbah menjelaskan khotbahnya. Ilustrasi menolong rincian khotbah dalam pikiran pendengar.
Menghindarkan kesalahan dan kekacauan. Tugas kita adalah untuk meringankan apa yang terasa berat dari khotbah kita dengan mengilustrasikan semua rincian yang memerlukan ilustrasi. Ilustrasi kita dapat membangkitkan dan memelihara atau mempertahankan ketertarikan hadirin selama khotbah.
Menghindarkan kelalaian. Ilustrasi juga membangkitkan imaginasi ketika pendengar menghubungkan kebenaran dengan apa yang telah diketahuinya. Dalam cara seperti ini mereka tetap mendengar khotbah dalam pikiran mereka, bahkan sesudah khotbah berakhir.
Menghindarkan kedataran isi dan argumen. Kita harus kreatif. Kita harus berkhotbah dengan cara yang menarik. Kita harus menaburi khotbah dengan berbagai ilustrasi. Ini diperlukan dalam memperluas gaya berbicara.
Menghindarkan kelesuan. Sering dalam penerapan kita menggunakan ilustrasi untuk menantang orang agar bertindak. Ilustrasi dalam penerapan atau pada kesimpulan benar-benar mempertunjukkan khotbah yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata, sehingga jemaat tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak mentaati.
Menemukan ilustrasi
Menemukan ilustrasi yang tepat merupakan bagian dari pembimbingan Roh Kudus atas pengkhotbah sementara menyiapkan khotbah. Kita harus mencari dan mendoakannya.
Hanya ada satu jalan untuk memperoleh ilustrasi. Kita harus mengamati kehidupan. Amati, amati dan amati! Maka, kita akan menemukan ilustrasi-ilustrasi yang cocok untuk khotbah kita.
Sumber ilustrasi
Kehidupan pribadi kita merupakan ilustrasi yang baik, dan sering menjadi yang terbaik, sebab kita mengenalnya dengan baik. Tapi jangan berlagak menjadi pahlawan!
Kita dapat mengilustrasikan dari pengalaman seseorang – jemaat, tokoh Alkitab, tokoh sejarah atau kesusasteraan. Hati-hatilah agar tidak membeberkan keburukan orang.
Pikirkan seluruh khotbah dan bertanyalah dimana ilustrasi diperlukan.
Ilustrasi apa yang dibutuhkan untuk menambahkan penjelasan pada bagian tertentu?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melihat dan menerima kebenaran yang kita kemukakan?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melatih implikasi dan aplikasi dari kebenarannya?

7.    Kesimpulan

Kesimpulan melengkapi khotbah. Kesimpulan menyatukan berbagai hal, mengungkapkan kembali tema, mengatasi keraguan atau kebingungan, dan menantang pendengar untuk mentaati.
Kesimpulan berisi penerapan.
Kesimpulan adalah kesempatan terakhir untuk mengulirkan sekrup, menancapkan firman Tuhan ke pikiran dan hati jemaat.
Kesimpulan adalah puncak khotbah, maka ia mendaki menuju klimaks. Pengkhotbah mengulang atau menyatakan kembali tema untuk memfokuskan kembali pikiran pendengar pada kehendak Allah bagi mereka.
Dalam kesimpulan, pendengar kini mendengar pernyataan-pernyataan pendek tapi penuh makna mengenai seluruh kebenaran yang disampaikan oleh pengkhotbah.
Juga melalui kesimpulan pendengar merasakan bahwa tujuan yang dinyatakan dalam pendahuluan akan menjadi kebenaran yang dapat diterapkan.
Kesimpulan yang salah
Kesimpulan yang salah adalah yang tidak mendorong atau tidak bersemangat. Inilah cara untuk menghindarinya:
–    Jangan berhenti begitu saja.
–    Jangan menutup Alkitab sebelum khotbah berakhir. Jangan berkata “akhirnya,” tetapi masih berbicara panjang lebar.
–    Jangan memberi kesimpulan ganda. Kelihatannya mau mendarat tetapi naik lagi. Kelihatannya mau selesai, ternyata nyambung lagi.
–    Jangan menyampaikan gagasan baru.
–    Jangan menyampaikan kesimpulan lebih panjang dari khotbah.
–    Jangan menyampaikan kesimpulan sebelum tiba pada kesimpulan.
–    Jangan lemah, bersemangatlah! Kesimpulan bukanlah bagian tidak penting dari khotbah. Jika kesimpulan nampak tidak penting, pendengar tidak akan memberi perhatian.
Kesimpulan yang tepat
Beberapa gagasan cara membuat kesimpulan yang cerdas:
–    Pernyataan yang jelas dari tema dengan ringkasan garis-garis besar.
–    Pengertian ditenun dengan komitmen pribadi untuk menerapkan menjadi kesimpulan yang efektif.
–    Sebuah kalimat yang meneguhkan kebenaran. Ungkapan tema dalam kata-kata lain akan menjadi kesimpulan yang sangat bagus.
–    Suatu cerita yang mengilustrasikan tema (atau garis besar akhir) akan dapat digunakan untuk mendorong kemauan pendengar.

8.    Penerapan

Berkhotbah bukan hanya memindahkan informasi. Berkhotbah mentransfer informasi yang mentransformasi manusia. Apa yang kita khotbahkan haruslah mengubah hidup. Itu harus menantang jemaat untuk menerapkan kebenaran Alkitab dalam hidup mereka. Tanggung jawab pengkhotbah adalah melukiskan tidak hanya prinsip-prinsip untuk diterapkan tetapi juga petunjuk-petunjuk untuk menerapkannya.
Penerapan harus dipikirkan dengan serius. Jangan biarkan jemaat memahami kebenaran tanpa tantangan untuk menerapkannya. Penjelasan Alkitabiah tanpa penerapan menghasilkan kerohanian kosong. Tidak ada faedahnya menjadi akurat secara akademis jika kebenarannya tidak ditransformasikan pada hadirin. Penerapannya adalah jika kita menggerakkan pendengar dari menerima kebenaran kepada dorongan yang kuat untuk menerapkan kebenaran Allah.
Penerapan haruslah khusus dan kongkret. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa Tuhan menghendaki jemaat menjadi kudus. Kita harus mengkomunikasikan apa arti menjadi kudus. Kita harus memberi contoh spesifik dari kekudusan yang akan menjadi relevan pada situasi masa kini.
Penerapan dipergunakan untuk menantang pendengar agar berkomitmen menaati Firman Tuhan.
Menempatkan penerapan.
Kita harus membuat penerapan dalam khotbah. Kita dapat menempatkannya kapan dan dimana kita memerlukan. Penerapan tidak boleh menjadi sekadar “tambahan” pada khotbah. Ia harus diberi tempat dan waktu yang semestinya.
Membangun penerapan.
Pada akhir khotbah pendengar harus mempunyai jawaban atas tiga pertanyaan penting:
Tentang apa pengkhotbah berbicara?
Lalu, apa yang harus saya lakukan atau perbuat?
Sekarang, apa yang akan saya lakukan?

Kesimpulan Bab Ini
Sebelum menyiapkan khotbah pengkhotbah harus mempersiapkan dirinya terlebih dulu dengan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dalam sikap doa dan komitmen untuk diajar oleh Roh Kudus selama proses menyiapkan khotbahnya.
Pengkhotbah juga harus menyiapkan peralatan seperti Alkitab dalam beberapa versi terjemahan, konkordansi, kamus Alkitab, kamus teologi, atlas Alkitab dan buku-buku tafsiran.
Menyiapkan khotbah berarti memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya, menyusun bagannya, menghayatinya dan menyampaikannya kepada pendengar.
Memilih nas bisa dilakukan melalui saat teduh. Juga bisa dilakukan dengan memilih kitab untuk dikhotbahkan secara berseri dan memperhatikan kebutuhan jemaat. Menggali arti dari dalam nas adalah mengamati atau mempelajari dengan melihat hubungan-hubungan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menafsirkan artinya dan menetapkan penerapan darinya.
Menemukan tema adalah menyarikan (memadatkan) nas menjadi sebuah kalimat tema. Tema harus muncul dari nas dan bukan dari pengkhotbah. Setelah tema ditemukan bagan khotbah dapat disusun.

Penerapan Bab Ini
Mari bersungguh-sungguh menyiapkan khotbah kita dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam sikap doa dan komitmen untuk bersedia diajar oleh Roh Kudus.
Milikilah peralatan yang diperlukan untuk menyiapkan khotbah, sisihkanlah dana untuk membelinya.
Pilihlah nas yang terdiri dari ayat-ayat yang berdekatan, atau dalam satu paragrap atau perikop. Amatilah dengan sebaik-baiknya dan temukanlah kebenaran dari dalamnya.
Jangan malas untuk menemukan kalimat tema, karena itu proses yang paling penting dalam menyiapkan khotbah.
Susunlah bagan berdasarkan tema dan hasil penelitian terhadap nas. Jangan lupa memperlengkapinya dengan ilustrasi, kesimpulan dan penerapan.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | | Tinggalkan komentar

3. Menyampaikan Khotbah Alkitabiah

Khotbah bukanlah khotbah jika tidak dikhotbahkan.
Jadi setelah memahami hal-hal yang berkaitan dengan khotbah Alkitabiah dan cara menyiapkannya, kini kita akan mempelajari hal-hal yang berkenaan dengan cara menyampaikannya.
Dalam bagian ini kita akan mempelajari empat hal:
–    Menulis khotbah
–    Mendalami khotbah
–    Menyampaikan khotbah
–    Menyampaikan undangan
Menulis, mendalami, menyampaikan khotbah dan mengundang jemaat untuk menanggapi kebenaran yang disampaikan merupakan proses terakhir dari rangkaian khotbah.

Menulis Khotbah

Agar dapat berkhotbah dengan baik, pertama-tama, tulislah khotbah. Menulis khotbah menolong kita memberi sentuhan terakhir pada isi khotbah.
Tuliskan tiap-tiap kata yang mau dikhotbahkan. Boleh jadi yang terjadi tidak persis seperti itu di mimbar. Roh Kudus bisa mengubah apa yang kita katakan. Ia berhak melakukannya. Ia aktif dalam seluruh proses pembuatan khotbah – dari awal ketika kita berkomitmen memberi waktu untuk belajar, sampai akhir kita mengundang jemaat untuk mentaati firman Tuhan.
Menulis naskah khotbah memiliki beberapa keuntungan:
–    Kita dapat melihat perkembangan khotbah, yang menolong kita untuk mempertinggi kualitasnya.
–    Kita dapat mendalami, bukan mengingat, khotbahnya sebelum mengkhotbahkannya.
–    Kita dapat memperbaiki naskah khotbah ketika kita menyadari adanya informasi yang baru atau yang lebih baik.
–    Naskah khotbah kita akan menyatakan bagian yang perlu diperkuat dengan ilustrasi, transisi dan aplikasi. Kita juga bisa membuang bagian-bagian yang tidak relevan atau tidak jelas.
–    Kita akan memiliki perkiraan berapa lama khotbahnya dan dapat mengontrolnya.
–    Penulisan naskah khotbah akan menggugah ingatan kita ketika berada di mimbar.
–    Kita dapat mengkhotbahkannya lagi tanpa meninggalkan hal-hal penting (meskipun kita harus mengerjakan kembali untuk mencocokkannya dengan pendengar lain).
–    Kita mempunyai catatan ilustrasi-ilustrasi yang siap digunakan.
–    Kita mungkin ingin menerbitkan khotbah dalam bentuk buku. Dalam keperluan lain, kita mempunyai catatan permanen untuk penggunaan berikutnya.
Mungkin kita merasa tidak memiliki ketrampilan menulis, tetapi paling tidak kita harus membuat bagan khotbah dengan kalimat-kalimat lengkap agar dapat menuntun kita menyampaikan khotbah secara jelas dan beraturan.
Jika kita ingin memberi makan domba-domba dengan makanan yang baik dan mantap, jangan berkhotbah tanpa persiapan, kecuali dalam keadaan darurat.
Gaya bahasa
Yang dimaksud dengan gaya bahasa adalah menggunakan bahasa untuk mengkomunikasikan dengan efektif apa yang harus kita katakan. Dalam berkomunikasi, gaya menunjuk pada pilihan dan penggunaan bahasa yang memberi bentuk pada pemikiran kita. Gaya bergantung pada kepribadian, sifat, keahlian dan imaginasi pengkhotbah.
Pergunakan kata-kata yang berdayaguna dan berdampak.
Sebaiknya kita menggunakan kalimat-kalimat yang jelas, yaitu pendek, sederhana dan khas.
Mengembangkan aspek ini dalam persiapan khotbah, kita harus mengenal pendengar. Ingat, kita menulis khotbah atau berkhotbah untuk mereka. Pikirkanlah pengalaman mereka untuk menentukan apa yang akan menolong kita berkomunikasi dengan kuasa. Pergunakan ungkapan-ungkapan atau istilah-istilah yang mereka kenali dan yang kita sukai.
Selagi menulis khotbah pakailah pertanyaan ini untuk menguji gaya: “Adakah ini dapat dimengerti dan menarik?”
Jika kita memiliki rasa humor, pakailah humor untuk berkomunikasi dengan bijaksana. Jangan menggunakan humor untuk mengisi waktu atau berlagak atau memperbesar reputasi.
Humor dapat menjadi sangat efektif bagi pengkhotbah untuk mendapatkan kredibilitas dengan menunjukkan kelemahan pribadi, untuk memelihara ketertarikan dan menciptakan pengharapan melalui khotbah, untuk melucuti sikap defensif pendengar, dan untuk menerangi kebenaran.
Dengan menunjukkan kelemahan pribadinya pengkhotbah menyatakan bahwa dirinya bukan “superman.” Kita tidak dapat menempatkan kerohanian kita di atas jemaat. Kita mengakui memiliki kelemahan dan pergumulan yang sama dengan mereka. Dengan cara ini kita terhindar dari sikap angkuh.
Pendengar cenderung bersikap defensif jika mereka menyangka bahwa kita akan menghakimi mereka. Sikap itu akan menghilang jika mereka merasakan persahabatan yang kita nyatakan melalui humor yang kita sampaikan.
Mendalami Khotbah

Dengan menulis khotbah, kita akan mendalami atau menghayati  (internalized) Firman yang akan kita khotbahkan. Hal yang bagus, ketika kita menyusun khotbah, mulai dari kita memilihnya, nas itu telah menjadi bagian dari jiwa kita. Kelak nas dan persiapan kita akan bertindak sebagai penunjuk ingatan ketika kita berkhotbah.
Kita tidak perlu mengingat khotbah kata demi kata, tetapi kita perlu bekerja untuk mengingat ilustrasi tertentu dan kita perlu mempraktekkan gaya penyampaiannya. Jika kita akan menggunakan anekdot lucu kita perlu mempelajari cara menceritakannya. Jangan sampai hadirin justru menertawakan kita.
Dari segi isi mendalami berarti mengijinkan firman Tuhan bekerja dalam hidup kita sebelum kita harapkan akan memperbarui hidup jemaat. Menghayati berarti mengijinkan Firman itu mengoreksi, menegur menasihati dan memperbaiki kita terlebih dulu sebelum kita menyampaikannya untuk mengoreksi, menegur, menasihati dan memperbaiki hidup jemaat.
Dari segi penyampaian menghayati berarti memikirkan atau membayangkan gaya kita ketika berkhotbah. Bagaimana judul kita umumkan… Bagaimana pendahuluan kita ungkapkan… Bagaimana garis besar demi garis besar kita sampaikan… Bagaimana ilustrasi-ilustrasi kita paparkan…  Bagaimana kesimpulan kita berikan… Bagaimana kita mengajukan tantangan… Jika perlu, lagu apa yang akan dinyanyikan di akhir khotbah…

Menyampaikan Khotbah

Cara menyampaikan khotbah berhubungan dengan raut wajah, gerak tubuh dan suara pengkhotbah. Penggunaan wajah, tubuh dan suara kadang-kadang lebih berdampak daripada isi yang kita katakan. Tubuh kita berbicara bersama mulut kita, dan kita perlu menjadikannya seimbang.
Media nonverbal ini mengkomunikasikan kegairahan kita pada khotbah, meningkatkan wibawa kita di mimbar dan menciptakan sebuah sarana emosional yang penuh terhadap khotbah kita.
Khotbah kita harus cemerlang, tetapi jika kita tidak menggunakan media nonverbal dengan mahir dan cocok mereka akan menolak apa yang kita katakan. Jika pendengar tidak tertarik pada pengkhotbahnya, maka ia tidak akan tertarik pada pesan yang disampaikannya.
Wajah
Orang tidak hanya mau bertahan dengan wajah kita, tapi sebenarnya mereka memperhatikan bagaimana perasaan kita terhadap khotbah kita, terhadap diri kita sendiri dan terhadap mereka.
Wajah adalah ekspresi luar dari keyakinan di dalam. Gunakan wajah untuk mendemonstrasikan seluruh perasaan yang akan mendukung khotbah kita. Arahkan penggunaan wajah agar lebih efektif dalam berkhotbah.
Orang dapat membedakan tentang perbedaan wajah bersinar dan wajah marah, bersukacita dan menderita, bersemangat dan membosankan.
Jagalah agar wajah kita tetap ramah. Jangan berkhotbah dengan marah-marah. Ingatlah, kita sedang menyampaikan anugerah Tuhan dan wajah kita harus mencerminkan kemurahan-Nya.
Perhatikan agar wajah kita tetap bersukacita, bukan berdukacita. Ingat, kita adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dan sedang menyampaikan berita pembebasan. Wajah yang kelihatan menderita akan melemahkan berita sukacita yang kita sampaikan.
Tersenyumlah sekali-kali. Adalah bagus tersenyum di mimbar. Maju terus dan tersenyumlah pada saat yang selaras dengan pembagian khotbah, sesuai terhadap isi, dan tepat dengan budaya kita.
Jika kita mengatakan sesuatu dengan senyuman, sembilan dari sepuluh pendengar akan ikut tersenyum bersama kita.
Bolehkah pengkhotbah tertawa ketika berkhotbah? Tertawalah dengan tepat. Jangan tertawa tanpa arti. Jangan sekadar tertawa. Jangan tertawa sinis. Jangan tertawa berlebihan. Jangan tertawa jika itu bisa berdampak negatif bagi khotbah kita.
Mata atau Kontak Pandang
Mereka yang memiliki nurani bersih dan benar mampu melihat orang lain dengan tatapan mata langsung tanpa masalah.
Gunakan mata untuk menyambut hadirin dan usahakan kontak mata secara langsung. Kehangatan emosional yang kita pancarkan akan menarik dan membuat mata mereka tetap tertuju kepada kita.
Gunakan kontak mata sebagai metode untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dengan membangun suasana saling mempercayai dan menyatakan kejujuran.
Kontak mata dengan pendengar harus dipelihara. Arahkan mata langsung pada hadirin. Jika hadirin banyak jumlahnya, pilihlah satu di setiap sisi, satu di depan, satu di belakang dan berbicara kepada orang-orang tersebut secara pribadi.
Jangan memandang ke atap! Jangan memandang ke tanah! Pandanglah hadirin yang sedang mendengar di hadapan kita!
Suara
Nada suara berkomunikasi lebih daripada isi. Jadi sangat penting untuk menggunakan suara dengan efektif.
Kita harus menemukan pola dan kualitas titi nada dan membangun variasi dalam kecepatan dan volume.
Pitch – titi nada
Apakah suara kita dalam atau tinggi?
Adakah kita memvariasi pola nada?
Dapatkah kita mengubah suara kita untuk mengkomunikasikan perasaan sukacita, keadaan yang mendesak, perintah atau penegasan?
Kualitas
Apakah suara kita sengau, kasar atau keras?
Apakah kita berbicara lembut dan rileks?
Artikulasi dan lafal
Apakah kita berbicara dengan jelas dan dengan hati-hati?
Apakah kita mengucapkan kata-kata dengan tepat?
Kecepatan
Apakah kita berbicara cepat sehingga hadirin tidak menangkapnya?
Apakah kita berbicara sangat perlahan sehingga hadirin bosan?
Apakah sela terlalu cepat?
Apakah kita berbicara bervariasi: cepat, lambat, sela?
Volume
Adakah kita berbicara cukup keras sehingga setiap orang bisa mendengar kita tanpa mengalami ketegangan?
Apakah kita berbicara cukup pelan sehingga tidak terdengar?
Apakah kita memvariasi volume?
Jangan biarkan suara kita diperlakukan sebagai obat kurang tidur. Pakailah suara lebih dari sekadar berbicara!
Berbicaralah dengan gairah luar biasa! Jika khotbah kita memiliki gairah ini di dalamnya, hal-hal yang berhubungan dengan penyampaian akan mengambil tempat dengan cocok.
Gerak isyarat
Tubuh juga berbicara. Ia akan menambah atau mengurangi komunikasi verbal. Dalam beberapa situasi, gerak isyarat mampu mengkomunikasikan sesuatu seefektif kata-kata, bahkan mungkin lebih.
Tiga kemungkinan hubungan antara tubuh dan kata-kata:
–    Lamban. Tubuh terlambat mengikuti irama khotbah.
–    Berlebihan atau salah gerak. Kita gak boleh overacting, dan tidak boleh salah tingkah.
–    Gerak tepat. Tubuh harus alami dalam berkomunikasi dan gerak isyarat harus memberi kesan yang sama dengan kata-kata yang disampaikan.
Bahasa tubuh dapat dengan efektif menguatkan gagasan: Jari telunjuk, kening yang berkerut, alis yang meragukan, lengan yang dilebarkan, genggaman atau kepalan, telapak tangan terbuka dan seterusnya, jika dilakukan secara alami dan tempat yang tepat dalam khotbah, dapat memperkaya penampilan.
Gunakan gerak isyarat dengan cekatan dan tepat.
Praktikkan gerak-gerak isyarat yang tidak biasa kita lakukan saat ini, maka hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan.
Postur – gerak tubuh
Kita memiliki sebuah peranti untuk menyampaikan isi hati kita, yaitu tubuh kita. Kita harus mengabdikannya untuk melayani pendengar.
Ekspresi tubuh dan sikap tubuh sangat menentukan dalam suatu komunikasi.
Penampilan
Pakaian dan penampilan pribadi kita berbicara bagi kita sebelum kita mengatakan sepatah kata pun. Pastikan pakaian kita menjadi bingkai yang baik bagi pesan yang kita sampaikan.
Pakaian tidak menentukan manusianya, tetapi membuat pesan yang disampaikan menjadi lebih baik.
Gerakan
Yoh.2:15 – Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
Tuhan Yesus mengajar tentang tarikan dosa dengan bergerak, berlari, menghamburkan uang, menjungkir-balikkan meja dan mengusir binatang. Energi gerakan-Nya memperkuat pesan-Nya.
Gerakan merupakan tanda kehidupan dalam diri seseorang. Gerakan yang tepat dan menarik akan membuat pendengar tidak merasa bosan.
Berkhotbah memerlukan gerakan-gerakan tubuh, tetapi kita harus menjaganya agar tidak berlebihan yang justru menimbulkan kesan berlagak.
Bergeraklah secara alamiah sesuai dengan pesan khotbah.

Menyampaikan undangan

Undangan adalah bagian dari penyampaian khotbah. Mengundang jemaat untuk menanggapi khotbah adalah Alkitabiah.
Setelah Adam dan Hawa melanggar firman Tuhan dengan memakan buah yang dilarang memakannya, Allah mengundang mereka yang berada di tempat persembunyiannya untuk menghindari pertemuan dengan-Nya. Kej.3:8 berkata, Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya:”Di manakah engkau?”
Allah memangil Abraham untuk menjadi hamba-Nya. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu…” (Kej.12:1-3).
Pada masa Yosua ketika bangsa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, Allah memanggil, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini, kepada siapa kamu akan beribadah… Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yos.24:15).
Pada zaman raja-raja Allah juga sering mengadakan undangan agar Israel bertobat. Salah satunya adalah Elia yang berkhotbah dan mengundang mereka: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutlah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia” (1Raj.1:21).
Undangan juga disampaikan oleh nabi Yesaya: “Marilah kita berperkara! – firman Tuhan – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes.1:18).
Perjanjian Baru juga mencatat tentang undangan Allah kepada umat-Nya. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan undangan. “Waktunya sudah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! (Mrk.1:15).
Di tengah pelayanan-Nya pun Tuhan melakukan undangan. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat.11:28). “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum. Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh.7:37-38).
Penulis Kisah Para Rasul juga mencatat undangan yang dilakukan Petrus. “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis.2:38).
Juga undangan Paulus. Ia mengantar mereka keluar, sambil berkata: “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kis.16:30).
Bahkan di bagian akhir dari Perjanjian Baru Allah juga mengundang umat-Nya melalui rasul Yohanes. Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma! (Why.22:17).
Cara melakukan undangan
Menyiapkan undangan dengan teliti
Undangan harus sesuai dengan tema khotbah. Alat-alat yang diperlukan harus disiapkan sebaik-baiknya. Apakah meminta jemaat untuk angkat tangan, berdiri dan atau maju ke depan? Apakah memerlukan kartu tanggapan?
Melakukan dengan iman
Jangan melakukan undangan tanpa keyakinan bahwa Tuhan menyuruh kita melakukannya. Pekalah terhadap pimpinan Roh Kudus.
Kita meyakini bahwa Tuhan memanggil kita untuk berkhotbah. Kita meyakini bahwa Tuhan memakai kita untuk membawa jiwa-jiwa kepada-Nya. Ketika kita menyampaikan undangan kita harus meyakini bahwa Roh Kudus telah mempersiapkan orang-orang untuk diselamatkan, dipulihkan atau diperbarui.
Mengundang secara kongkret
Kita harus menyatakan kalimat undangan secara jelas. Undangan keselamatan? Undangan peneguhan keyakinan? Undangan pelepasan dari beban? Undangan untuk menanggapi pelayanan sepenuh waktu?
Mengundang dengan bersemangat
Undangan yang disampaikan dengan tidak semangat menunjukkan bahwa pengkhotbahnya tidak meyakini kebenaran Firman yang disampaikannya.
Lihat contoh dari Yesus. Betapa bersemangat Dia mengundang umat-Nya. Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yoh.7:37).
Berdiri dan berseru, sungguh, ungkapan semangat yang luar biasa!
Mari, sampaikanlah undangan kita dengan bersemangat!
Kesimpulan
Menulis khotbah menolong kita memberi sentuhan akhir pada khotbah. Jika kita merasa tidak memiliki ketrampilan menulis, kita tetap harus menulis bagan khotbah dengan kalimat-kalimat lengkap. Kita harus memperhatikan penggunaan dan pemilihan kata-kata agar khotbah kita dapat dimengerti oleh pendengar.
Kita harus menghayati khotbah sebelum mengkhotbahkannya. Menghayati berarti mengijinkan Firman itu mengoreksi, menegur dan menasihati kita terlebih dulu sebelum kita menyampaikannya untuk mengoreksi, menegur dan menasihati jemaat.
Dalam menyampaikan khotbah kita harus memperhatikan raut wajah, suara, kontak pandang, gerak isyarat, gerak tubuh, penampilan dan semua yang bisa kita gerakkan dari anngota tubuh kita.
Khotbah Alkitabiah diakhiri dengan undangan, menantang jemaat untuk menerapkan Firman yang telah didengarnya. Kita harus menyiapkan undangan dengan teliti, melakukannya dengan iman bahwa Tuhan memanggil kita berkhotbah dan meyakini bahwa Roh Kudus telah mempersiapkan orang-orang untuk diselamatkan.
Kita harus menyampaikan undangan dengan jelas dan dengan bersemangat.
Penerapan
Mari menulis khotbah kita agar kita dapat menghayatinya secara mendalam. Setidaknya, mari tulis bagan khotbah kita dalam kalimat-kalimat lengkap.
Mari mempergunakan seluruh tubuh dan anggota tubuh kita, termasuk raut wajah, mata dan suara, dalam berkhotbah, agar khotbah kita dapat disampaikan dengan efektif.
Jangan lupa, sampaikan undangan untuk menantang jemaat menerapkan Firman yang telah didengarnya.
Sampaikanlah undangan dengan bersemangat dan dengan keyakinan bahwa Tuhan telah menyiapkan orang-orang yang akan diselamatkan-Nya melalui khotbah kita.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | | Tinggalkan komentar

1. Memahami Khotbah Alkitabiah

Banyak khotbah telah disampaikan dari mimbar, tetapi seberapa banyak yang benar-benar Alkitabiah?
Banyak pengajaran tentang Yesus Kristus telah diberikan, tetapi apakah benar-benar pengajaran seperti yang diberitakan Alkitab?
Sebagai pengkhotbah pertama-tama kita harus memahami arti khotbah, tepatnya artinya yang Alkitabiah.
Mengapa harus khotbah Alkitabiah, memangnya ada khotbah yang tidak Alkitabiah?
Menurut beberapa pengajar dan penulis buku tentang khotbah terdapat cara berkhotbah yang harus kita hindari karena tidak Alkitabiah. Khotbah yang tidak Alkitabiah antara lain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
–    Menggunakan sedikit firman Tuhan. Ayat(-ayat) hanya dipakai sebagai pendahuluan dan kemudian pengkhotbah berbicara “ngalor-ngidul.”
–    Menyampaikan pendapat dan filsafat manusia. Bicara “ini-itu,” lalu mengutip ayat(-ayat) untuk membenarkan pendapatnya.
–    Menyampaikan ilustrasi, kemudian garis besar khotbah disesuaikan dengan jalan cerita ilustrasi tersebut.
–    Menyampaikan kesaksian tentang dirinya sendiri. Menjadikan dirinya sebagai pusat pemberitaan.
–    Mempromosikan pandangan dunia tentang sukses yang diukur dengan angka, ukuran dan penampilan.
–    Menyajikan Injil Kristus yang tidak akurat dan komplit.
–    Menyarankan solusi tidak Alkitabiah.
–    Memanipulasi tanggapan pendengar melalui daya tarik, kecakapan dan kepandaian berbicara.
–    Kurang menekankan pertobatan dan kelahiran baru, hanya menekankan penyesalan dan perbaikan karakter.
–    Kurang menekankan anugerah dan lebih menekankan usaha-usaha manusia dalam memperoleh keselamatan dan keharusan mempertahankannya.
Untuk dapat menghindarkan diri dari khotbah yang tidak Alkitabiah pengkhotbah harus memahami pengertian khotbah Alkitabiah.
Sebelum pengkhotbah menyiapkan khotbahnya tentu saja ia harus menyiapkan dirinya terlebih dulu dengan memahami hal-hal yang berhubungan dengan khotbah Alkitabiah, supaya ia tahu dengan pasti apa yang harus dilakukannya.

Mengapa harus berkhotbah?

Kita harus melakukan pekerjaan kita dengan dasar atau alasan yang kuat dan jelas, yaitu alasan yang diberikan oleh Alkitab. Berikut ini alasan-alasan mengapa kita harus berkhotbah.
Karena kita diperintahkan untuk berkhotbah
Alasan pertama kita berkhotbah karena Tuhan memerintahkannya kepada kita.
2Tim.4:2 – Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakan apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
Allah memberi perintah kepada kita seperti Paulus memberi tugas  kepada Timotius: “Jadilah bentara Raja, sampaikan segala sesuatu yang telah, sedang dan akan diperbuat-Nya bagi rakyat-Nya. Lakukan itu apa pun keadaannya. Lakukan apa pun tanggapan mereka. Lakukan apa pun resikonya.”
Berkhotbah adalah sebuah amanah, tugas yang sangat besar. Alangkah ajaibnya dan tentu saja membuat kita rendah hati dan berlimpah dengan syukur menyadari bahwa Allah memilih debu tanah seperti kita untuk membawa kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya.
Khotbah adalah bagian penting dari ibadah, bahkan yang terpenting, karena melaluinya Allah berbicara kepada umat-Nya. Jantung ibadah atau inti penyembahan Kristiani adalah khotbah. Tak ada yang dapat disebut ibadah tanpa pemberitaan Firman.
Karena manusia berdosa perlu mendengar firman Kristus
Rm.10:17 – Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Karena semua orang telah berdosa dan perlu keselamatan dan keselamatan hanya dapat diperoleh melalui beriman kepada Tuhan Yesus. Dan untuk dapat beriman mereka harus mendengar firman Kristus.
Rm.10:13-14 – Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Inilah logika iman yang terkandung dari ayat-ayat di atas: untuk dapat diselamatkan harus berseru, untuk dapat berseru harus percaya, untuk dapat percaya harus mendengar, untuk dapat mendengar harus ada yang memberitakan.
Kalau kita balik urutannya menjadi: Saya mendengar Injil – saya percaya kepada Kristus – saya berseru kepada-Nya – saya diselamatkan oleh anugerah-Nya – saya memberitakan Injil supaya orang lain mendengar! Lalu mereka percaya, diselamatkan dan kemudian memberitakan Injil…! Demikian seterusnya!
Untuk itulah kita dipanggil, untuk memberitakan Injil-Nya! Untuk berkhotbah!
Karena perlu untuk memperlengkapi orang-orang kudus.
1Ptr.2:2 – Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.
Berkhotbah adalah menyampaikan firman Allah sebagai makanan rohani jemaat agar mereka bertumbuh sesuai kehendak-Nya.
Pengkhotbah harus benar-benar memperhatikan bahwa yang disampaikannya adalah firman Allah, bukan kata-kata atau pikirannya sendiri. Setiap gembala mempunyai tanggung jawab mengkhotbahkan isi Alkitab. Artinya, ia harus menggali, meneliti dan menikmati kebenaran Alkitab untuk pertumbuhan rohani dirinya sendiri terlebih dulu, baru menyampaikannya kepada jemaat.
Setiap gembala harus benar-benar memperhatikan menu rohani yang akan dia sajikan demi kesehatan dan pertumbuhan rohani jemaat yang dilayaninya.
Mat. 28:19-20 – Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Penginjilan bertujuan untuk memperkenalkan Kristus sebagai Juruselamat. Mereka yang mendengar dan menanggapi Injil dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus disebut murid-murid Tuhan. Mereka harus terus belajar agar semakin memahami kebenaran dan hidup dalam kebenaran yang diyakininya itu.
Tujuan pengajaran atau khotbah Alktabiah bukan melulu menyampaikan informasi tentang firman Tuhan, tetapi agar jemaat melakukan segala perintah-Nya. Tujuan pengajaran Alkitabiah berhubungan dengan penggenapan Amanat Agung agar semua bangsa menjadi murid Kristus.
Penginjilan memanggil orang berdosa untuk bertobat. Pemuridan membentuk orang percaya menjadi murid Tuhan, yakni orang percaya yang rela diajar, yang bertumbuh imannya dan berkomitmen mengabdikan hidup untuk melayani-Nya.
Ef.4:11-12 – Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.
Arti berkhotbah adalah menyampaikan firman Tuhan agar jemaat bertumbuh menjadi dewasa dalam iman dan melayani sesuai karunia yang diterimanya dari Dia.
Tanpa khotbah atau pengajaran jemaat tidak mungkin bertumbuh. Untuk dapat bertumbuh mereka harus mengenali karunia mereka masing-masing dan mengembangkannya dalam pelayanan. Tujuannya agar melalui pengembangan karunia-karunia yang dimilikinya mereka secara pribadi bertumbuh dan berdampak pada pertumbuhan jemaat.
Pengkhotbah harus menyadari perannya untuk memperlengkapi dan mengembangkan jemaat sesuai karunia masing-masing.

Mengapa harus khotbah Alkitabiah?

Jantung dari penyembahan atau ibadah Alkitabiah adalah khotbah Alkitabiah. Jika khotbahnya tidak Alktabiah, maka ibadahnya pun tidak Alktabiah.
Mengapa khotbah Alkitabiah perlu? Karena jemaat perlu mendengar dan diajar dengan Injil murni, bukan injil yang lain. Inilah keprihatinan Paulus terhadap jemaat di Galatia yang mulai terpengaruh oleh khotbah tidak Alkitabiah:
Gal.1:6-9 – Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
Injil adalah berita keselamatan melalui anugerah Kristus. Menerima Injil berarti menerima keselamatan, memperoleh pembenaran dan pendamaian, berdasarkan anugerah dan bukan berdasarkan perbuatan. Injil lain yang dimaksud Paulus dalam ayat-ayat ini adalah pengajaran yang disampaikan oleh guru-guru Yahudi yang mengajarkan keselamatan melalui perbuatan, yang menambahkan kebenaran Kristus dengan keharusan melakukan hukum Taurat.
Orang-orang dari jemaat di Galatia telah mulai berpaling kepada injil lain itu dan Paulus merasakan dukacita luar biasa dan menganggap perlu untuk mengembalikan mereka kepada kebenaran Kristus. Bagi Paulus penganjur injil lain itu adalah orang-orang yang terkutuk dan pantas dimurkai Tuhan.
Seorang pengkhotbah harus benar-benar memahami berita yang disampaikannya. Berkhotbah secara Alkitabiah adalah menyampaikan Injil Kristus dan bukan injil lain. Injil lain itu mengajarkan bahwa keselamatan diterima melalui anugerah dan perbuatan. Sedangkan Injil murni memberitakan keselamatan melalui anugerah semata.
Berkhotbah secara Alkitabiah, menyampaikan Injil sejati, tidak berarti mengabaikan “perbuatan.” Sebab, Injil berarti pembaruan, termasuk pembaruan pola pikir (Rm.12:2, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna). Juga pembaruan karakter (Gal.5:22-23, Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu). Dan secara lebih luas, pembaruan gaya hidup (1Kor.6:20, Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu).
Kebenarannya di sini adalah “perbuatan” tidak menjadi syarat untuk memperoleh keselamatan, karena keselamatan diterima melalui anugerah, tetapi sebagai buah atau akibat dari keselamatan.

Apa arti khotbah Alkitabiah?

Khotbah Alkitabiah adalah Yesus Kristus sendiri sebagai Pengkhotbah berbicara melalui pengkhotbah.
2Kor.4:5 – Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu.
Berkhotbah adalah memberitakan Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat dan Raja. Berkhotbah secara Alkitabiah adalah menawarkan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus.
Khotbah Alkitabiah adalah khotbah tentang Kristus; tentang Dia dan panggilan-Nya kepada orang-orang berdosa agar berpaling pada-Nya untuk memperoleh kesalamatan dari-Nya. Berkhotbah yang Alkitabiah adalah menyampaikan Injil untuk memanggil orang berdosa agar datang dan menyerahkan hidup kepada-Nya.
Berkhotbah secara Alkitabiah berarti memberitakan Kristus. Memproklamirkan Dia. Pengkhotbah memfokuskan pemberitaannya  pada Dia. Tugas pengkhotbah adalah menunjukkan bagaimana Kristus dinyatakan melalui seluruh Kitab Suci, dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Setiap kitab atau bagian dari Alkitab berbicara tentang Kristus. Pengkhotbah harus menemukan benang merah yang menghubungkan nas yang dipilih dan disampaikannya dalam khotbah dengan Salib Kristus.
Kol.1:28 – Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
Hidup Paulus seluruhnya dipersembahkan untuk Tuhan dengan memberitakan Kristus, menasihati dan mengajar orang kepada kesempurnaan dalam Dia.
Ketika kita memberitakan Injil yang kita beritakan adalah anugerah keselamatan dalam Kristus. Ketika kita menasihati yang kita sampaikan adalah jalan keluar yang diajarkan oleh anugerah Yesus. Ketika kita mengajar yang kita ajarkan adalah keagungan kasih karunia-Nya yang terus dilimpahkan-Nya kepada umat-Nya.
Berkhotbah secara Alkitabiah berarti menyampaikan Kristus seperti dinubuatkan atau digambarkan dalam Perjanjian Lama, yang dilahirkan oleh perawan Maria, yang melayani dan mati disalib seperti diberitakan oleh Injil-Injil, yang bangkit, menampakkan diri kepada banyak orang dan naik ke surga dan kelak akan datang kembali menjemput umat-Nya seperti diberitakan oleh seluruh Perjanjian Baru.

Siapa yang harus berkhotbah?

Ada panggilan khusus dan pangilan umum. Ada orang-orang percaya tertentu yang dipanggil secara khusus untuk berkhotbah (bernubuat) atau mengajar. Tetapi dalam taraf tertentu setiap orang percaya dikaruniai pemahaman firman Tuhan yang harus diajarkannya kepada orang lain terutama orang-orang dekatnya.
Lalu, siapakah mereka yang harus berkhotbah atau mengajar?
Kepala keluarga
Kepala keluarga adalah imam bagi keluarga. Selain berdoa untuk kesejahteraan anggota-anggota keluarganya, kepala keluarga juga harus mengkhotbahkan atau mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Ini tugas yang tak bisa diabaikan oleh setiap kepala keluarga.
Kej.48:15-16 – Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.”
Yakub, sebagai kepala keluarga, berkhotbah atau mengajar atau memberi kesaksian kepada anak-anak dan cucu-cucunya tentang Allah yang menjadi gembalanya. Ia berbicara tentang kakeknya dan ayahnya, Abraham dan Ishak, yang hidup beriman kepada Allah. Iman itu juga yang dihidupi oleh Yakub sendiri dengan menyebut Allah sebagai penjaga dan pemeliharanya. Dengan perkataannya Yakub menularkan iman dan keyakinannya kepada anak-cucunya, agar mereka hidup dalam iman kepada Allah yang sama dengan yang dipercayainya.
Di sini Yakub memberkati anak-cucunya dengan mengajarkan tentang kasih Allah yang senantiasa memeliharanya, bahkan memelihara ayah dan kakeknya. Yakub memberkati, artinya menyalurkan berkat Allah, kepada keluarga besarnya. Waktu itu Yakub tidak punya apa-apa, karena ia telah meninggalkan Kanaan untuk pergi ke Mesir dan hidup sebagai orang asing di sana. Tetapi ia tetap beriman kepada Allah yang mewariskan Tanah Perjanjian kepadanya, kepada anak cucunya. Harta yang paling berharga yang dapat diwariskan kepada anak cucu adalah iman kepada Allah yang disembah oleh ayah dan neneknya.
Kesuksesan atau daya tahan keluarga terhadap tantangan dunia bergantung pada iman serta pengajaran iman dari kepala keluarga. Dan kepala keluarga bertangung jawab atas kehidupan rohani anggota keluarganya. Ia harus menjaga keluarganya dengan mengajarkan keyakinan yang dipercayainya kepada mereka. Berkat yang paling berharga dari seorang kepala keluarga adalah pengajaran firman Tuhan.
Pemimpin rohani
Demikian juga para pemimpin rohani. Sudah menjadi tugasnya untuk berbicara kepada orang-orang yang dipimpinnya mengenai kehendak Allah bagi mereka.
Yos.24:13-15 – “Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Di akhir hidupnya Yosua berbicara kepada umat Israel tentang beribadah kepada Allah Yahweh yang telah melepaskan bangsa Israel dari Mesir dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian. Isi khotbahnya adalah bahwa negeri yang baik itu diberikan kepada mereka bukan atas jerih lelah mereka, bukan atas perjuangan mereka, melainkan oleh anugerah Allah. Untuk itu bangsa Israel diingatkan untuk tetap takut dan beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dan setia.
Sementara itu Yosua sendiri berkomitmen bahwa ia dan seisi rumahnya akan beribadah kepada Tuhan. Sejak awal kepemimpinannya membawa bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian kepadanya dipesankan agar terus merenungkan dan memperkatakan (mengkhotbahkan atau mengajarkan) Taurat Tuhan siang dan malam (lihat Yos.1:8).
Ezr.7:10 – Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
Bangsa Israel memerlukan tuntunan setelah keluar dari Mesir dan di padang gurun melalui Musa Allah memberikan hukum Taurat kepada mereka. Tujuannya, agar mereka mengerti kehendak Allah dalam hidup mereka.
Sepulang dari pembuangan mereka memerlukan tuntunan Tuhan. Maka Allah menetapkan Ezra, sebagai pemimpin rohani, mengajarkan tentang ketetapan dan peraturan Tuhan yang mereka butuhkan.
Pemberita Injil
Injil adalah berita baik yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia. Tangung jawab ini diberikan kepada pemberita Injil.
Kis.2:36 – “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Petrus berkomitmen untuk terus berkhotbah terhadap bangsa Israel sampai mereka semua mengenal dengan sungguh-sungguh Yesus Juruselamat mereka.
Tugas pemberita Injil bukan sekadar menyampaikan berita keselamatan, tetapi mengusahakannya sedemikian rupa agar keselamatan dalam nama Yesus dimengerti dengan pasti oleh orang-orang yang mendengar pemberitaannya. Jelas ini tidak terjadi dalam sekali kunjungan atau sekali khotbah, tapi merupakan pekerjaan yang bersinambungan.
Kis.4:12 – “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Petrus berkhotbah bahwa hanya ada satu Juruselamat yaitu Kristus yang telah mati di salib. Tidak ada nama lain yang melaluinya manusia dapat diselamatkan.
Khotbah Alkitabiah berpusat pada Kristus dan karya-Nya di kayu salib untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa.
Setiap orang percaya
Tetapi tugas memberitakan Injil tidak secara khusus diberikan kepada para penginjil. Setiap orang percaya sesuai dengan tingkat pemahamannya tentang Injil dipanggil untuk memberitakan atau bersaksi tentang keselamatan yang telah diterimanya kepada orang-orang lain. Petrus menyampaikan tugas pelayanan ini melalui surat yang ditulisnya kepada orang percaya yang tersebar di berbagai daerah.
1Ptr.3:15 – Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.
Maksud Petrus adalah agar tiap orang percaya bersiap sedia menjelaskan tentang imannya kepada setiap orang yang memintanya. Untuk dapat melakukannya diperlukan pemahaman yang benar tentang iman atau keselamatannya.
Ini berhubungan dengan dasar-dasar yang menjelaskan kepastian keselamatan kita didalam Kristus. Bukan sekadar pernyataan iman “aku percaya Yesus” atau “percaya Yesus, selamat,” tetapi pemahaman yang lebih dalam tentang “pribadi Yesus,” “bagaimana Dia menyelamatkan kita,” “apa yang dikerjakan-Nya dalam hidup kita masa kini” dan “apa yang kita harapkan akan kita terima dari Dia di masa kekekalan nanti” atau “bagaimana Ia memelihara kita agar kita tetap mengarahkan pengharapan kita pada-Nya.”
Setiap orang percaya harus terus mendalami imannya dan setiap pengkhotbah atau pengajar bertanggung jawab terhadap peningkatan pemahaman mereka tentang pribadi Kristus yang mereka percayai.
1Ptr.4:11 – Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah.
Petrus mengajarkan agar setiap orang berbicara tentang firman Allah, artinya bahwa setiap orang percaya mempunyai tugas untuk memberitakan Injil dan mengajar tentang iman yang mereka miliki. Bagi kita orang percaya, pembicaraan tentang firman Allah adalah prioritas utama dalam hidup kita sehari-hari.
Menurut Petrus setiap pengkhotbah hendaklah berbicara tentang firman Allah. Bukan tentang dirinya sendiri, meskipun pengkhotbah memiliki pengalaman hidup yang luar biasa. Jangan berlagak menjadi pahlawan dengan menceritakan diri sendiri. Pengalaman pribadi bisa ditambahkan ke dalam khotbah dengan tujuan meninggikan Kristus, bukan meninggikan diri sendiri.

Kepada siapa berkhotbah?

Mungkin timbul pertanyaan, kepada siapa kita berkhotbah? Yang pasti, kita harus berkhotbah kepada “semua orang.” Tidak ada pengecualian! Dan, siapa saja mereka?
Kepada keluarga.
Mengajarkan firman Tuhan kepada keluarga adalah tugas utama kepala keluarga.
Kepala keluarga wajib memikirkan kebutuhan rohani anggota keluarganya. Keluarga memerlukan pengajaran firman Tuhan secara teratur dan terencana. Kita harus secara teratur mengajar anak kita tentang iman kita dan merencanakan pengajaran sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan iman mereka.
Contohnya adalah Yakub seperti telah dikutip di atas.
Rasul Paulus berkata kepada Timotius mengenai penilik jemaat. Mereka haruslah “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya” (1Tim.3:4). Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa sebelum seseorang menjadi pengkhotbah, berkhotbah di hadapan jemaat, di hadapan orang-orang lain, terlebih dulu ia harus menjadi pengajar bagi keluarganya. Sebab, lanjut Paulus, “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (ayat 5).
Kepada Jemaat.
Contohnya Yosua, Ezra, Petrus, Paulus dan lain-lain.
Di dalam jemaat setempat tugas ini diserahkan kepada gembala, pengajar, termasuk majelis yang memperoleh karunia mengajar.
Kepada saudara seiman untuk saling menguatkan.
Setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mengajar saudaranya, khususnya yang baru percaya, tentang iman yang dipeluknya. Cara sederhana dari ini adalah bersaksi tentang satu ayat atau nas atau perikop yang memberkatinya, supaya saudaranya yang mendengar juga menikmati berkat yang telah diterimanya itu.
Kepada orang belum percaya.
Agar mereka mendengar Injil dan diselamatkan. Pelayanan ini dilakukan oleh Petrus, Paulus dan Penginjil lainnya. Dan semestinya dilakukan oleh semua orang percaya.

Apa tujuan berkhotbah?

Tujuan utama berkhotbah adalah memuliakan Tuhan dan firman-Nya. Peringatan sekali lagi, bukan memuliakan diri pengkhotbah, atau mencari popularitas bagi diri sendiri.
2Tes.3:1 – Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu.
“Beroleh kemajuan” artinya berkembang dengan pesat. Bukan sekadar maju, tetapi maju dengan cepat. Sebagai jalan keselamatan firman Tuhan diharapkan bahkan diusahakan agar bertumbuh makin meluas.
Kitab Kisah Para Rasul memberitakan tentang penyebaran dan perluasan firman Allah melalui para rasul. Hal itu diharapkan terjadi juga pada masa kini. Setiap pengkhotbah hendaknya menyadari tugasnya untuk menyebar-luaskan firman Tuhan dan memperbesar pengaruh Firman itu di jemaat dan kemudian di masyarakat.
“Dimuliakan” artinya firman-Nya dikuduskan dan dihormati, kerajaan-Nya semakin memperoleh tempat di hati manusia dan kehendak-Nya terjadi secara luas di antara umat-Nya.
Itulah yang menjadi kerinduan Paulus dan semestinya menjadi tujuan utama pelayanan kita. Pengkhotbah memuliakan firman Tuhan dengan memberitakannya dan pendengar memuliakan firman-Nya dengan menerimanya.
Alangkah tingginya hak istimewa yang kita miliki sebagai pengkhotbah Injil Yesus Kristus. Tuhan telah memberi kita kehormatan, panggilan, pelayanan dan mandat untuk mengkhotbahkan Injil pada dunia yang sedang menderita dan membutuhkan keselamatan. Dan semuanya itu dengan tujuan bahwa Yesus akan disembah sebagai Juruselamat oleh setiap lidah dari segala suku dan bangsa.
Tujuan termulia dari khotbah adalah memuliakan Allah dan menyatakan cahaya kemuliaan-Nya pada ciptaan-Nya.
Hal penting yang perlu dimengerti oleh pengkhotbah adalah Allah memanggil dia bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk kepentingan jemaat. Panggilan untuk berkhotbah adalah panggilan untuk melayani orang lain.
Lalu, bagaimana seharusnya kita berkhotbah demi memenuhi panggilan melayani jemaat?
Memberi informasi kepada pikiran.
1Yoh.5:20 – Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.
Kata ”pengertian” mempunyai persamaan arti dengan “akal budi,” yang mengandung arti “meditasi,” “refleksi,” atau “kontemplasi.” Artinya, Allah mempergunakan akal budi kita agar kita memahami kebenaran. Akal budi adalah alat atau tempat penerima informasi. Allah menaruh kebenaran-Nya ke dalam diri manusia melalui akal budinya, melalui pikirannya.
Kristuslah, melalui Roh Kudus, yang mengaruniakan pengertian kepada kita, tetapi itu dapat terlaksana melalui pengkhotbah yang memberitakan firman-Nya.
Rm.12:2 – Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Dari aspek akal budi, pemberitaan atau pengajaran firman Tuhan bertujuan untuk membangun pola pikir Alkitabiah. Artinya, mengubah orang yang tadinya memiliki pola pikir duniawi menjadi berpola pikir surgawi. Dalam arti ini khotbah juga berarti mengkonfrontasikan kebenaran Injil dengan pola pikir duniawi yang dimiliki oleh jemaat. Khotbah harus menyatakan kesalahan pola pikir duniawi.
Jadi khotbah pertama-tama harus bersifat informatif, menyampaikan kebenaran-kebenaran Alkitabiah, dengan penjelasan-penjelasan yang dapat dimengerti atau ditangkap oleh akal budi pendengar. Tetapi, itu saja tidak cukup!
Menggerakkan hati untuk bertindak.
Akan tetapi, khotbah tidak berhenti pada menyampaikan informasi kepada akal budi. Khotbah harus menyentuh hati pendengar, menggerakkannya untuk bertindak sesuai dengan kebenaran yang telah diterimanya.
Kis.2:37 – Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
Khotbah seharusnya ditujukan untuk memimpin orang-orang pada komitmen untuk berjalan dalam firman Tuhan. Setelah orang-orang Yahudi mendengar khotbah Petrus, mereka memperoleh pemahaman baru dan diyakinkan terhadap kebenaran bahwa Yesus adalah Tuhan, dan lalu mereka bertanya tentang apa yang mereka harus perbuat untuk dapat memperoleh keselamatan.
Gerakan hati pertama yang diperlukan bagi orang belum percaya adalah pertobatan. Pertobatan berarti menyadari perbuatan masa lalu yang memberontak terhadap Tuhan dan diganti dengan kehendak untuk berjalan dalam rancangan-Nya.
Gerakan hati bagi orang-orang yang sudah mengikut-Nya adalah kembali pada tujuan atau rancangan-Nya memanggil mereka. Mereka yang sudah percaya, tapi tidak hidup dalam kebenaran, kita dorong mereka untuk mentaati firman-Nya.
Setelah dua orang murid yang pergi ke Emaus bertemu Yesus yang telah bangkit dan mendengar pengajaran atau khotbah-Nya dengan hati berkobar-kobar, mereka mengambil keputusan kembali ke Yerusalem untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya yang lain (Luk.24:13-35). Mereka kembali pada rancangan yang telah ditetapkan-Nya.
Mengubah perilaku.
Tidak cukup hanya memberi informasi pada pikiran dan menggerakkan hati untuk bertindak, tetapi khotbah juga memiliki tujuan puncak yakni mengubah perilaku.
2Tim.3:16-17 – Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Khotbah bermanfaat untuk mendorong jemaat menerapkan firman Tuhan, karena pemahaman tanpa ketaatan adalah sia-sia.
Observasi dan interpretasi tanpa aplikasi adalah aborsi.
Pengamatan dan penafsiran tanpa penerapan adalah kesia-siaan.
Tujuan berkhotbah adalah menyampaikan firman Allah untuk mengoreksi kesalahan dan mengubah kelakuan, yang jahat berubah menjadi baik.
Khotbah pada tingkat ini hanya berlaku bagi orang yang sudah percaya kepada Kristus, agar mereka hidup di dalam kebenaran-Nya. Khotbah ini tidak dapat disampaikan kepada orang yang belum percaya. Khotbah yang perlu bagi orang belum percaya adalah penginjilan, pemberitaan tentang Kristus sebagai Juruselamat manusia.
Khotbah ini bukan mengajar orang untuk berbuat baik agar diselamatkan, tetapi mengajar orang percaya agar hidup berpadanan dengan jatidirinya sebagai pengikut Kristus.
Mari perhatikan, bukan perubahan karakter yang menyelamatkan kita, tetapi keselamatanlah yang memungkinkan kita mengalami pembaruan karakter kita.

Apa syarat-syarat bagi pengkhotbah?

Pengkhotbah harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk dapat berkhotbah secara Alkitabiah. Syarat-syarat itu harus dipenuhi secara mutlak, tak dapat ditawar-tawar lagi.
Lahir baru
Pengkhotbah haruslah seorang yang telah lahir baru. Artinya, ia adalah seorang yang telah mengerti dan mempercayai bahwa Kristus telah mati untuk dia, Ia dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga, telah menampakkan diri kepada banyak orang, telah naik ke sorga dan kelak akan datang kembali untuk menjemput dirinya.
Pengkhotbah haruslah seorang yang telah mengalami kasih Allah dan kini hidupnya dikuasai oleh kasih-Nya untuk hidup bagi Dia dan bagi orang lain yang juga dikasihi-Nya.
1Kor.15:10 – Tetapi karena kasih karunia Allah aku ada sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
Berkhotbah adalah memberitakan kasih karunia Allah yang dilimpahkan kepada manusia melalui karya penebusan dengan kematian Yesus di kayu salib.
Pengkhotbah haruslah seorang percaya yang memahami betapa luasnya, dalamnya dan tingginya kasih karunia Allah. Ia haruslah seorang yang telah menerima dan mengalami kasih-Nya. Ia haruslah seorang yang meyakini kepastian keselamatannya. Ia berkhotbah karena digerakkan oleh anugerah keselamatan yang telah dialaminya
Ia menyampaikan berita pendamaian karena telah berdamai dengan Allah. Paulus berkata kepada jemaat di Korintus: Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).
Pelayanan pendamaian dipercayakan hanya kepada orang-orang yang telah berdamai dengan-Nya.
Meyakini panggilan untuk berkhotbah
Pelayanan berkhotbah bukanlah profesi yang bisa dipilih dari beberapa profesi yang tersedia, melainkan panggilan yang harus ditanggapi. Ia berkhotbah oleh anugerah panggilan yang telah diterimanya.
Berkhotbah bukanlah pekerjaan ringan. Mereka yang dipanggil berkhotbah memikul tugas berat. Berkhotbah juga mengandung resiko mematikan.
Petrus dan Yohanes mengalaminya. Mereka ditangkap dan disesah oleh Mahkamah Agama. Tetapi Alkitab mencatat: Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama-Nya (Kis.5:41). Bagi mereka penderitaan adalah kehormatan!
Seperti dikatakan Paulus kepada Agripa: “Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat” (Kis.26:19). Di sini Paulus berbicara tentang ketaatannya menanggapi panggilannya berkhotbah yang disertai penderitaan yang harus dialaminya. Keyakinan panggilan berkhotbah yang teguh dimilikinya membuatnya tak surut sedikitpun pelayanannya memberitakan Injil Yesus Kristus.
Di tempat lain Paulus berkata: Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2Tim.1:11-12).
Memahami Alkitab
Tentu saja, pengkhotbah haruslah seorang yang memahami Alkitab yang ia khotbahkan. Inilah hal-hal yang perlu ia pahami:
Otoritas Alkitab.
2Tim.3:16 – Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Semua tulisan dalam Alkitab diilhamkan Allah untuk menjadi penuntun bagi hidup umat manusia. Artinya, Alkitab memiliki otoritas penuh atas kehidupan manusia. Di luar Alkitab tidak ada otoritas.
Pengkhotbah haruslah seorang yang percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah yang memiliki otoritas tertinggi dan satu-satunya pedoman hidup umat-Nya. Dengan keyakinan ini pengkhotbah terhindar dari mengkhotbahkan filsafat atau pengetahuan manusia.
Otoritas yang ada di balik khotbah bukanlah terletak pada pengkhotbahnya, tetapi ada di nas Alkitab itu sendiri. Karena tugas utama pengkhotbah berkait dengan penjelasan firman Tuhan, maka ia mengarahkan perhatian pendengarnya pada nas Alkitab. Sekali lagi, bukan pada dirinya sendiri!
Kesederhanaan dan kejelasan Alkitab.
Alkitab ditulis dalam bahasa sederhana dan dapat dipahami oleh orang sederhana. Masalahnya adalah bagaimana memahami arti nas pada saat ditulis untuk dapat diterapkan pada manusia masa kini.
Melalui Firman tertulis (Alkitab) Tuhan berkenan dikenali oleh umat-Nya. Ia tidak ingin membuat umat-Nya bingung dengan memberi Kitab Suci yang bahasanya sulit dimengerti. Jadi, pengkhotbah tidak perlu membuat penafsiran yang justru membingungkan orang.
Pengkhotbah hendaknya berkhotbah dengan bahasa sederhana agar dapat dimengerti oleh jemaatnya, sesederhana apa pun pemikiran mereka, serendah apa pun pendidikan mereka.
Kesatuan Alkitab.
Kitab-kitab Kejadian sampai Wahyu merupakan satu kesatuan, tidak berdiri sendiri atau bertentangan satu sama lain.
Pengkhotbah hendaknya mengenali prinsip “Alkitab menafsirkan Alkitab.” Artinya, bagian Alkitab yang sulit dimengerti akan dapat dijelaskan melalui bagian Alkitab yang lain.
Ambil contoh, tentang “pembenaran.” Paulus berkata antara lain di Rm.3:23-24 – Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Juga dalam ayat 26 – Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada-Nya.
Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa pembenaran terjadi melalui percaya kepada Kristus dan diperoleh secara cuma-cuma, bukan karena perbuatan kita. Tetapi Yakobus berkata: Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (Yak.2:21). Dan di ayat 24, Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Apakah Paulus bertentangan dengan Yakobus. Atau, ayat-ayat Alkitab saling pertentangan? Jawabnya: tidak! Ayat-ayat Alkitab tidak saling bertentangan. Para penulis Alkitab tidak saling bertentangan.
Pengertiannya seperti ini: Pembenaran diterima sebagai anugerah, oleh iman, bukan oleh perbuatan. Tetapi iman yang sejati adalah iman yang membuahkan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Yohanes berkata: Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1Yoh.5:4-5). Beriman kepada Kristus membuahkan kemenangan atas dunia. Artinya beriman terlebih dulu, baru dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Dilihat dari sisi posisi: pembenaran dulu baru perbuatan-perbuatan kebenaran. Dilihat dari sisi pengalaman: perbuatan membuktikan adanya pembenaran. Sekali lagi, bukan perbuatan menghasilkan pembenaran, tapi perbuatan membuktikan pembenaran!
Selain memahami prinsip “Alkitab menafsirkan Alkitab,” kita harus meletakkan setiap nas yang kita khotbahkan erat-erat dengan kisah yang agung, besar dan luas dari Alkitab, yakni kisah tentang Yesus Kristus, Pencipta dan Juruselamat dunia.
Ketika kita berkhotbah, kita harus mengingat bahwa kita memberitakan bukan sekadar kisah kecil, dan bukan sekadar seri dari kisah-kisah kecil, tetapi kita mengkhotbahkan sebuah kisah besar. Bukan tentang hal-hal sepele, tetapi kisah besar tentang karya penyelamatan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab.
Ketercukupan Alkitab
Alkitab itu sempurna. Allah yang menulis Alkitab adalah Allah yang sempurna. Isinya mencukupi kebutuhan manusia untuk hidupnya baik di masa kini maupun yang akan datang.
Mzm.19:8-12 – Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.
Keunggulan, kegunaan dan ketersediaan firman Allah menunjukkan ketercukupannya memenuhi hidup kita.
Dengan semakin sering mendengar Firman kita akan semakin memahami ketersediaan kebutuhan hidup kita. Kita akan semakin mengerti bahwa semua permasalahan manusia dapat diperoleh jawabannya dalam Alkitab.
Kegunaan dan manfaat Firman Allah jauh lebih besar dari keberadaan siang dan malam, dari udara yang kita hirup, dari sinar matahari yang kita nikmati, dari semua harta benda yang dapat kita miliki dan inginkan. Firman Allah itu sempurna; sempurna tanpa setitik pun cela, sempurna dipenuhi dengan segala kebaikan, sempurna ketepatannya untuk mencapai kegenapan rancangan-Nya, dan sempurna kesanggupannya untuk menjadikan umat-Nya bertumbuh menuju kesempurnaan. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2Tim.3:17).
Jika ada gembala jemaat yang sedang kebingungan mengenai apa yang mau dikhotbahkannya di hari Minggu, hendaknya ia memperhatikan kebenaran ini: Jemaat mempunyai kebutuhan dan Alkitab mempunyai jawabannya! Ini sarannya: Berdoalah lebih banyak lagi! Bacalah Alkitab lebih banyak lagi!
Wahyu yang bersinambungan.
Pengkhotbah harus memahami bahwa Allah memberikan firman-Nya secara bertahap dan bersinambungan. Itulah yang disebut dengan “progressive revelation.” Allah melakukannya mengingat kelemahan manusia untuk memahami kebenaran-Nya yang sempurna.
Mari kita melihat dua contoh alur kesinambungan penyataan Allah yang mengalir dalam seluruh Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu:
Contoh 1:
Alur Alkitab dengan tema “penyelamatan.”
–    Penciptaan (Kej.1-2)
–    Kejatuhan (Kej.3)
–    Program penyelamatan (Kej.3:15 – Mal)
–    Pelaksanaan penyelamatan (Injil-Injil)
–    Penggenapan (Kis – Why.20)
–    Pemenuhan (Why.21-22).
Contoh 2:
Dispensasionalisme memandang bahwa Allah berbicara kepada manusia melalui orang-orang tertentu, pada masa-masa tertentu, dalam situasi-situasi tertentu dan tentang hal-hal tertentu.
Dispensasi dimengerti sebagai cara Allah mengatur manusia menurut ketetapan-ketetapan-Nya. Pengkhotbah harus memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam dispensasi yang satu dan lainnya sesuai dengan waktu, situasi dan orang yang secara langsung berhubungan dengan aturan atau perintah tertentu.
Tujuh (atau delapan) dispensasi tersebut adalah:
–    Kesucian (Kej.1-2, masa tanpa dosa)
–    Keinsafan atau kesadaran hati nurani (Kej.3-6, sejak Adam dan Hawa diusir dari Eden sampai air bah)
–    Pemerintahan Manusiawi (Kej.6-11, sejak keluarga Nuh keluar dari bahtera sampai Menara Babel)
–    Perjanjian (Kej.12-Kel.19, sejak panggilan Abraham sampai pembebasan Israel dari Mesir)
–    Hukum Taurat (Kel.20-Kis.1, sejak pemberian Hukum Taurat sampai Kematian Kristus)
–    Kasih Karunia (Kis.2-Why.20, sejak berdirinya Gereja sampai pengangkatan Gereja)
–    Kerajaan (Kerajaan Seribu Tahun  Kerajaan Kekal).
Dengan memahami kesinambungan penyataan Alkitab pengkhotbah dapat menafsirkan dengan benar dengan cara melihat letak nas dalam bagian tertentu Alkitab.
Memiliki gairah dalam mempelajari Alkitab
Untuk dapat memahami Alkitab pengkhotbah harus memiliki gairah dalam mempelajarinya.
Pemahaman diperoleh melalui belajar, dan bukan sekadar belajar tetapi dalam kegairahan yang menyala-nyala.
Ezr.7:10 – Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.
“Bertekad,” artinya menetapkan, memaksudkan, menujukan, dengan segala kekuatan dan kasih sayang. Seorang pengkhotbah seharusnya menetapkan, menujukan hatinya dengan segala tenaga untuk menyelidiki Alkitab.
Kis.17:11 – Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.
Pengkhotbah haruslah seorang yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci. Pengajar haruslah seorang yang tekun belajar. Mereka harus memiliki gairah dan ketekunan belajar lebih tinggi dari yang dimiliki oleh orang-orang lain.
Paulus adalah seorang terpelajar. Ia seorang ahli Taurat didikan guru besar Gamaliel. Tetapi ia tidak pernah berhenti belajar. Ia berkata pada Timotius dalam 2Tim.4:13 – Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
Paulus sudah tua waktu menulis surat itu dan menyadari hidupnya segera berakhir, tetapi semangatnya untuk membaca atau belajar tak pernah kendor. Jika Paulus, seorang yang dituntun kuasa Ilahi yang luar biasa itu, menganggap perlu terus-menerus belajar, apalagi kita. Kita memerlukan gairah dan semangat yang lebih besar dari yang kita miliki sekarang untuk menyelami kedalaman firman-Nya.
Itulah yang dimaksud mengasihi Allah dengan segenap akal budi!
Itulah, gairah yang meluap-luap dalam mempelajari Alkitab!
Memiliki karakter yang diperbarui
Dalam Ezr.7:10 di atas dikatakan bahwa Ezra tidak hanya bertekad untuk meneliti firman Tuhan, tetapi juga melakukannya. Firman Tuhan harus bekerja terlebih dulu dalam diri pengkhotbah sebelum ia menyampaikannya kepada orang lain.
Yes.6:6-8 – Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
Dari ayat-ayat di atas dapat dilihat bahwa Yesaya terlebih dahulu disucikan lidahnya, kenajisan bibirnya atau hidupnya, diperbarui karakternya, dan kemudian barulah ia diutus. Pengampunan yang telah diterimanya, anugerah keselamatan yang telah diperolehnya, pembaruan karakter yang telah dialaminya, yang membuat dia memiliki kerelaan untuk pergi, diutus menjadi pengkhotbah.
Dalam 1Tim.4:11-12 Paulus menasihati Timotius bahwa pelayanan mengajar dan keteladanan karakter tak dapat dipisahkan. Menurut Paulus, selain mengajar Timotius harus menjadi teladan dalam integritas, dalam segala sisi kehidupannya.
Tetapi tak seorang pun pengkhotbah boleh merasa telah memenuhi syarat dari sisi ini. Karakter kita tak pernah cukup untuk memenuhi syarat sebagai penyampai Firman yang kudus. Kita berkhotbah bukan karena karakter kita. Kita berkhotbah oleh kasih karunia-Nya.
Memiliki gairah untuk menyampaikan firman Tuhan.
Bukan hanya gairah untuk giat belajar dan komitmen untuk melakukan firman-Nya serta karakter yang terus-menerus diperbarui, tetapi yang juga diperlukan bagi seorang pengkhotbah adalah semangat yang berkobar-kobar untuk membagikan berita keselamatan.
Yer.20:9 – Tetapi apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.
Yeremia pernah merasa gagal dalam pelayanannya. Bangsa Israel tidak mau mendengar khotbahnya bahkan berbuat sedapat-dapatnya untuk membungkamnya, dan ia dicobai untuk berhenti berkhotbah. Tetapi ia merasakan bahwa ada “api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangnya.” Ia tak sanggup menahannya. Inilah gairah yang harus dimiliki oleh para pengkhotbah.
Rm.1:15 – Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
“Ingin” menunjuk pada kesiapan yang besar dari hati dan pikiran, dan itu selalu menjadi semangat Paulus dalam memberitakan Injil. Bagi Paulus merupakan hal istimewa untuk siap sedia menjumpai setiap kesempatan untuk memberitakan Injil Kristus.
Seberapa besar gairah kita untuk berkhotbah, untuk mencari kesempatan menyampaikan kebenaran firman-Nya? Dengarlah nasihat Paulus lagi: Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Rm.12:11).
Jangan melempem seperti kerupuk terkena air! Jangan seret seperti mesin kurang pelumas! Bersungguh-sungguhlah mengikuti Roh, eagerly follow the Holy Spirit (CEV). Bergairahlah mengikuti pimpinan-Nya! Layanilah Tuhan! Beritakanlah Firman! Proklamasikanlah Injil-Nya!
Memiliki keyakinan akan hasil pemberitaan Injil
Tak akan ada pengkhotbah yang berkhotbah dengan bergairah tanpa mempercayai adanya hasil yang akan diperoleh melalui pelayanannya.
Rm.1:16-17 –  Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Meskipun Injil menurut pandangan dunia adalah remeh, menurut orang pandai merupakan kebodohan dan menurut orang yang tidak percaya sebagai kekejian atau kenajisan, tetapi rasul Paulus tidak merasa malu memberitakannya. Ia mempunyai keyakinan yang kokoh bahwa hanya Injil yang sanggup menyelamatkan dan mengubah dunia.
Marilah kita memiliki keyakinan terhadap Injil seperti rasul Paulus dan memiliki gairah berkhotbah seperti dia.
Mengandalkan Roh Kudus
Pengkhotbah berdiri di hadapan jemaat sebagai pelayan luar dari firman Allah, tetapi Roh Kudus bekerja di dalam atau bersama firman yang disampaikan itu. Hanya oleh kesaksian dari dalam oleh Roh Kudus yang membuat mereka dapat memahami kebenaran.
Roh Kudus berkarya melalui menginsyafkan, mendiami, melahir-barukan dan menyucikan sebagai pelayan dalam dari Firman. Tanpa kesadaran akan kebergantungan terhadap Roh Kudus menandakan bahwa pengkhotbah tidak mengerti tugasnya.
1Tes.1:5-6 – Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
Injil memang harus disampaikan dengan kata-kata, tetapi keberhasilan pemberitaan Injil sepenuhnya merupakan karya Roh Kudus. Firman dan Roh Kudus bekerja bersama-sama.
Hukum dua saksi berlaku di sini. Saksi pertama adalah pemberita Injil yang memberitakan keselamatan dalam Yesus Kristus. Saksi kedua adalah Roh Kudus yang bekerja dalam diri pemberita dan penerima. Atau bahkan sebaliknya, Roh Kuduslah saksi pertama, karena Ia telah bekerja terlebih dulu sebelum kedatangan pemberita Injil.
Pemberita tidak dapat mengandalkan kefasihannya berbicara, tetapi juga tidak boleh menjadi lemah karena merasa tidak mampu berbicara tentang Injil. Sampaikan saja Kabar Baik itu dan serahkan hasilnya pada kuasa Roh Kudus. Yakini bahwa Roh Kudus sedang bekerja dalam diri pendengar khotbah kita.
Kis.6:4 – Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.
Bagi Petrus, pelayanan doa dan pelayanan khotbah merupakan dua pelayanan yang tak terpisahkan.
Berdoa adalah setengah pelayanan kita. Tidak ada kuasa khotbah tanpa doa. Kuasa khotbah berakar dari doa. Berdoa merupakan pelayanan yang berat, tapi tak dapat diabaikan manfaatnya.
Berkhotbah adalah pelayanan publik, banyak orang mendengar. Berdoa adalah pelayanan pribadi, Tuhan saja yang mendengar. Kita cenderung lebih suka berkhotbah daripada berdoa, tetapi Tuhan mengajarkan keseimbangan dari keduanya.
Setiap pengkhotbah hendaknya mengandalkan Roh Kudus melalui kesungguhan berdoa. Tuhan dapat memakai kita jika kita percaya bahwa oleh anugerah-Nya, kita memliki keyakinan yang kuat akan kemampuan Roh Kudus untuk mengubah manusia.

Kesimpulan
Telah banyak disampaikan khotbah yang tidak Alkitabiah, yang tidak memberitakan Kristus, melainkan menyampaikan pikiran dan filsafat manusia. Kita harus memahami khotbah Alkitabiah agar dapat berkhotbah seperti yang difirmankan-Nya.
Kita harus berkhotbah karena Allah memerintahkannya kepada kita, karena manusia berdosa perlu mendengar Injil supaya dapat diselamatkan dan karena perlu untuk memperlengkapi orang-orang kudus.
Kita harus berkhotbah secara Alkitabiah agar dapat menyampaikan Injil murni, yakni keselamatan adalah anugerah melalui percaya kepada Yesus dan bukan karena perbuatan.
Kepala keluarga harus berkhotbah atau mengajar anggota-anggota keluarganya. Pemimpin rohani harus berkhotbah kepada jemaat yang bersamanya untuk mendewasakan mereka. Pemberita Injil harus menyampaikan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus kepada semua orang belum percaya. Setiap orang percaya harus bersaksi tentang keselamatan yang telah memperbarui hidupnya.
Khotbah bertujuan untuk memuliakan Allah dan firman-Nya, bukan memuliakan pengkhotbah. Berkhotbah berarti memberi informasi kepada pikiran pendengar agar memahami kehendak-Nya. Bukan sekadar memahami, tetapi supaya pendengar digerakan hatiya untuk melakukan kebenaran yang telah diketahuinya. Bukan sekedar menggerakkan hati, tetapi juga mendorong tindakan pendengar untuk melakukan firman-Nya.
Pengkhotbah harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Ia haruslah seorang yang telah lahir baru. Ia harus meyakini panggilannya untuk berkhotbah dan siap sedia menderita dalam menunaikan tugas pelayanannya tersebut.
Ia harus memahami Alkitab, otoritasnya atas umat-Nya, kesederhanaan dan kejelasannya, kesatuannya, ketercukupannya memenuhi kebutuhan manusia serta kesinambungan wahyunya.
Pengkhotbah juga haruslah seorang yang bergairah dalam mempelajari Alkitab, agar ia dapat berkhotbah memberi makanan rohani kepada jemaatnya dengan mantap. Ia harus memiliki karakter yang telah diperbarui. Ia harus memiliki gairah luar biasa dalam menyampaikan firman Tuhan. Ia harus memilki pengharapan akan keselamatan yang dikerjakan oleh firman Tuhan dan ia haruslah seorang yang mengandalkan Roh Kudus melalui penyerahan dalam doa yang tak putus-putusnya.

Penerapan
Mari kita tanggapi panggilan-Nya berkhotbah dengan memahami hal-hal yang berkenaan dengan khotbah Alkitabiah.
Mari bergairah dalam menyelidiki firman-Nya. Mari belajar juga dari hamba-hamba Tuhan lain yang telah berdoa dan bertekun mempelajari Alkitab dan menuliskannya untuk kita.
Mari bertekun dalam panggilan ini. Keluarga kita memerlukan kita. Jemaat memerlukan kita. Dunia menanti kehadiran kita untuk memberitakan Injil-Nya.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | , | Tinggalkan komentar

Pendahuluan: Menanggapi Panggilan Berkhotbah

Awal 2010 saya memperoleh tugas sebagai Koordinator Komsel. Jemaat memiliki enam komsel. Setiap anggota komsel memperoleh kesempatan untuk menyampaikan renungan. Dari sisi semangat dan ketulusan hati mereka memilikinya. Tetapi dari sisi pengetahuan Alkitab dan cara menyampaikannya tentu saja mereka sangat lemah. Saya merasakan kebutuhan mereka tentang cara berkhotbah atau menyampaikan renungan.
Ada alasan lain mengenai kebutuhan jemaat tentang berkhotbah. Tahun 2009 kami memiliki tema “Sukacita Pemulihan.” Tahun 2010 “Sukacita Pelayanan.” Sedangkan tahun ini bertema “Sukacita Penuaian.” Untuk menyongsong penuaian itu kami harus mempersiapkan diri. Persiapan harus dilakukan oleh Komsel-komsel, karena komsel merupakan salah satu ujung tombak pertumbuhan jemaat. Pertumbuhan Komsel menentukan pertumbuhan jemaat. Komisi-komisi (Kaum Bapak, Kaum Wanita, Pemuda, Remaja dan Sekolah Minggu) juga harus mempersiapkan diri untuk penuaian.
Tak kalah penting adalah peran pemimpin, lebih khusus dalam arti sebagai penyampai Firman Tuhan. Penyampai Firman adalah pemimpin yang memimpin orang-orang kepada Kristus. Kita, para penyampai Firman, Majelis, Diaken, Ketua-ketua Komisi, guru-guru Sekolah Minggu, bahkan semua yang rindu menjadi berkat melalui berbagi firman Tuhan, perlu memperlengkapi diri dengan kemampuan menyampaikan renungan, berkhotbah atau mengajar.
Untuk tujuan tersebut saya telah menyusun dan menyampaikan satu seri pelajaran bertema “Memahami, Menyiapkan dan Menyampaikan Khotbah Alkitabiah.” Kesaksian-kesaksian dari hasil pelajaran itu membesarkan hati saya.
Setelah mengikuti pelajaran ini, beberapa saudara bersaksi bahwa ketika menyiapkan dan menyampaikan renungan, mereka merasa “gentar,” “ciut nyali” dan “takut.” Mereka merasa khawatir kalau salah pengertian terhadap nas dan salah dalam menyampaikan renungan. Akan tetapi, mereka juga bersaksi bahwa dari sisi lain mereka terpacu untuk lebih giat belajar agar lebih memahami Alkitab dan lebih benar cara menyampaikannya kepada jemaat.
Perasaan gentar itu menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang benar. Dalam hal ini kita sudah bersikap benar terhadap khotbah Alkitabiah. Memang selayaknya kita menyadari ketidak-mampuan kita memahami firman Allah. Hati kita bergetar melihat keajaiban firman-Nya. Memang tak seorang pun dapat berkata bahwa dirinya telah sempurna memahami Alkitab. Juga tak seorang pun dapat berkata bahwa dirinya telah menguasai secara sempurna cara berkhotbah.
Kesadaran akan kekurangan dan kelemahan itu tidak boleh menghalangi kita untuk berkhotbah. Sebaliknya justru mendorong kita lebih giat meneliti firman-Nya. Allah menghendaki kita mengasihi Dia dengan segenap akal budi. Jika Tuhan memanggil kita untuk berkhotbah, tentu Tuhan juga memanggil kita untuk mengasihi firman-Nya dengan segenap akal budi kita. Artinya, kita harus mengerahkan segenap akal budi untuk meneliti Alkitab dan mempelajari cara berkhotbah. Kita juga harus menyadari bahwa pengertian yang dapat kita capai adalah karunia Allah, bukan karena kepandaian kita. Kerendahan hati ini sangat diperlukan dalam mempelajari Alkitab dan cara menyampaikan kebenaran firman-Nya kepada jemaat.
Kebutuhan untuk terus belajar yang kita miliki menyadarkan kita bahwa seri pelajaran yang telah kita pelajari bersama tidaklah mencukupi. Harus ada tindak lanjutnya. Maka sementara mengajar mereka dalam beberapa kali pertemuan di bulan September sampai Nopember 2010 saya berniat untuk mengembangkan bahannya dalam sebuah buku.
Niat itu semakin kuat setelah saya menerima lagi undangan mengajar mata kuliah Homiletik di semester awal 2011. Undangan mengajar itu datang dari Sekolah Tinggi Theologia (STT) Missio Dei Bali, almamater saya, dan lembaga pelatihan Promised Land Training Centre (PLTC) Denpasar.
***
Semestinya setiap orang percaya bertumbuh menjadi pengajar. Semua orang percaya harus menjadi pembuat murid. Itu seperti yang dikatakan Ibr.5:12 – Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Amanat Agung yang tertera dalam Mat.28:18-20 mengungkapkan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk mengajar. Sampai tingkat tertentu kita dikaruniai untuk mengetahui dan mengkomunikasikan kebenaran-Nya. Menerima Amanat Agung adalah menerima panggilan untuk berkhotbah dan atau mengajar.
Setiap orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil. Caranya dengan bersaksi tentang Kristus yang telah menyelamatkan kita. Kita mengungkapkan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Kita bersaksi tentang pengalaman hidup bersama Dia. Kita menyampaikan berkat-berkat firman Tuhan yang kita terima waktu bersaat teduh. Kita bersaksi tentang Kristus yang terus-menerus memperbarui hidup kita.
Tetapi meskipun Tuhan menetapkan semua orang percaya untuk bersaksi, Ia memanggil orang-orang khusus yang diberinya karunia untuk berkhotbah atau mengajar. Mereka adalah orang-orang yang diberi pengertian pada taraf yang lebih luas dan kemampuan yang lebih memadai untuk mengkomunikasikan firman-Nya.
Kebutuhan akan pelayanan berkhotbah atau mengajar sangat mendesak dan penting seperti diungkapkan dalam Kitab Suci dan dikisahkan dengan berlimpah-limpah dalam sejarah gereja melebihi pelayanan yang lain.
Ini berita besar! Kepercayaan besar! Panggilan besar! Ini menyangkut iman, meyakini bahwa Ia memanggil dan menghendaki kita berkhotbah bagi Dia.
Dalam pengertian Perjanjian Baru pengkhotbah adalah seseorang yang memiliki panggilan dari dalam dari Roh Kudus dan dari luar dari gereja, saksi Tubuh Kristus di bumi, yang dikhususkan sebagai guru yang diakui keahliannya dan memenuhi syarat.
Pengkhotbah sejati berkhotbah oleh dorongan Ilahi. Ia berkata sebagaimana Paulus: Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil (1Kor.6:19).
Pengkhotbah sejati juga berkomitmen sebagaimana Petrus dan Yohanes: Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: ”Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah; taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis.4:19-20).
Bagaimana kita meyakini terpanggil sebagai pengkhotbah?
Pertama, memiliki kehausan luar biasa untuk mempelajari Alkitab. Panggilan berkhotbah dimulai dengan panggilan untuk belajar. Tentu saja seorang pengkhotbah bukanlah orang yang sok tahu mengenai Alkitab. Ia haruslah seorang yang mengakui betapa luas, dalam dan tingginya hikmat Allah yang dinyatakan dalam Alkitab. Ia harus rendah hati, menyadari keterbatasan kemampuannya untuk memahami Alkitab. Ia harus menjaga gairahnya dalam mempelajari Kitab Suci.
Terutama kita harus belajar dari Alkitab sendiri, tetapi kita juga perlu belajar dari hamba-hamba-Nya yang lain. Mereka telah dengan tulus dan tekun menyelidiki Alkitab dan Tuhan memimpin mereka untuk menulis buku-buku. Petrus yang pernah hidup bersama Tuhan Yesus juga memiliki kerendahan hati untuk membaca tulisan Paulus (lihat 2Ptr.3:15-16).
Kedua, mereka yang terpanggil untuk berkhotbah memperoleh kemampuan luar biasa untuk memahami kebenaran Alkitab. Kemampuan memahami Alkitab adalah anugerah. Setiap orang percaya memperoleh anugerah untuk memahami Kitab Suci, tetapi orang yang dipanggil secara khusus untuk berkhotbah akan memahami Alkitab lebih dari yang dapat dipahami oleh jemaat lain.
Ketiga, panggilan berkhotbah membuat seseorang memiliki kerinduan untuk berkhotbah. Ada kerinduan untuk belajar. Lalu melalui kegiatan belajarnya ia menemukan kebenaran Alkitab. Kebenaran ini membuat hatinya bergetar dan ingin membagikannya kepada orang lain.
Salah satu ciri orang yang mengenal Tuhan dan kebenaran-Nya adalah kerinduannya untuk bersekutu dan bersaksi. Hatinya berkobar-kobar digerakkan oleh kebenaran yang diterimanya dan ingin membagikannya kepada orang lain.
Pada hari-hari penampakan Yesus dua orang murid pergi ke Emaus. Mereka berada dalam suasana duka karena kematian Yesus. Tetapi setelah Tuhan menjumpai mereka dan menjelaskan tentang Kitab Suci dan mereka mengenal Yesus yang bangkit, maka mereka kembali ke Yerusalem, menemui murid-murid yang lain dan bersaksi tentang pengenalan mereka terhadap Yesus yang bangkit dan menampakkan diri kepada mereka (Luk.24:33-35).
Juga perempuan Samaria yang sudah bertemu dan memperoleh penerangan dari Yesus, Sang Mesias. Ia meninggalkan tempayannya dan berlari menuju kampungnya dan bercerita kepada semua orang tentang Dia (lihat Yoh.4).
Keempat, panggilan berkhotbah akan diteguhkan melalui orang lain yang memperoleh manfaat dari khotbah kita. Peneguhan dari jemaat adalah penting. Tidak sewajarnya jika kita memaksa jemaat untuk menikmati khotbah kita. Jika khotbah kita mendatangkan pertumbuhan bagi mereka tentu mereka akan merindukan kehadiran kita untuk mendengar firman Tuhan melalui kita.
Ada perbedaan tipis antara bersaksi, berkhotbah dan mengajar. Bersaksi berarti menceritakan bagaimana Kristus menyentuh, memperbarui dan memproses kita menjadi makin dewasa dalam Dia. Kesaksian lebih bersifat pribadi. Perhatikan kesaksian pertobatan Paulus dalam Kisah Para Rasul pasal 9, 22 dan 26. Perhatikan juga 1Yoh.1:1-4.
Berkhotbah berarti menyampaikan berita bahwa Yesus adalah Raja, Juruselamat, Allah dan Tuhan bagi setiap orang dan mendorong pendengar untuk menanggapinya dengan berpaling kepada-Nya. Berkhotbah lebih tertuju kepada orang-orang belum percaya.
Sedangkan mengajar lebih ditujukan kepada mereka yang sudah percaya agar dapat lebih memahami pribadi Yesus dan karya-Nya dalam hidupnya. Juga agar dapat memahami isi Alkitab secara menyeluruh dan mendalam. Yang masih meragukan imannya agar diteguhkan melalui pengajaran-pengajaran yang diterimanya.
Akan tetapi, isi dari ketiganya secara prinsip adalah sama, yakni memperkenalkan Kristus seperti yang diberitakan Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu. Ketika bersaksi, saya bersaksi tentang Kristus yang telah memperbarui saya. Ketika berkhotbah, saya memperkenalkan Kristus kepada orang-orang lain agar mereka juga diperbarui oleh-Nya. Ketika mengajar, saya menyampaikan Kristus dari seluruh Alkitab agar orang-orang percaya semakin mengenal-Nya dan semakin diteguhkan imannya dan berkomitmen menyerahkan hidup untuk melayani-Nya.
Buku ini ditulis untuk mereka yang meyakini dipanggil untuk berkhotbah. Mereka seharusnya adalah hamba-hamba Tuhan yang bersedia mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk memenuhi panggilannya tersebut. Mereka adalah orang-orang percaya yang mau menjadikan berkhotbah sebagai pelayanan dengan penyerahan total.
Buku ini dibagi dalam tiga bab. Pertama, berbicara tentang memahami khotbah Alkitabiah. Kedua, tentang menyiapkannya. Dan terakhir, tentang menyampaikannya.
Kita mengambil gambaran dari bidang transportasi. Khotbah adalah kendaraan untuk memindahkan informasi dari Alkitab (penulis Alkitab) kepada pendengar. Berkhotbah adalah perjalanan atau prosesnya. Pengkhotbah adalah pengemudinya. Sebagaimana pengemudi mengenali kendaraannya, demikianlah pengkhotbah mengenali seluk beluk khotbah agar dapat mempergunakannya secara efektif. Sebagaimana pengemudi mengenali barang bawaannya, agar ia dapat memperlakukan dengan semestinya, demikianlah pengkhotbah seharusnya mengenali Alkitab dengan baik dan benar.
Memahami khotbah Alkitabiah meliputi apa arti khotbah Alkitabiah, mengapa harus berkhotbah, mengapa harus berkhotbah secara Alkitabiah, apa arti khotbah Alkitabiah, siapa yang harus berkhotbah, kepada siapa berkhotbah dan syarat-syarat menjadi pengkhotbah Alkitabiah. Itulah yang akan dibicarakan dalam Bab Satu. Dalam bab ini juga diberikan ciri-ciri khotbah yang dianggap tidak Alkitabiah, supaya kita dapat mengenali dan menghindarinya..
Dalam Bab Dua, “Menyiapkan Khotbah Alkitabiah,” diuraikan mengenai bagaimana cara memilih nas, lalu mengamatinya dengan seksama, mempelajarinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menafsirkannya, menemukan penerapannya, menemukan temanya dan menyusun bagan khotbahnya.
Dalam bab terakhir, “Menyampaikan Khotbah Alkitabiah,” dijelaskan mengenai menulis khotbah, menghayatinya, menyampaikannya dan mengundang tanggapan dari jemaat.
Tujuan utama mempelajari khotbah Alkitabiah adalah untuk memuliakan Allah melalui berkhotbah. Tujuan ini akan tercapai jika kita mencapai tiga tujuan berikut:
Pertama, kita memahami pentingnya khotbah Alkitabiah dan mengenali cara menyiapkan dan menyampaikannya.
Kedua, kita memiliki semangat atau gairah yang bernyala-nyala untuk menerapkannya dalam pelayanan. Sebab, sia-sialah pengertian kita jika tidak kita terapkan dalam kehidupan dan pelayanan kita.
Dan ketiga, kita terlatih dalam memilih nas, mengamatinya, menafsirkannya, menyusun khotbah dan menyampaikannya.
Berkhotbah adalah pelayanan penting karena Injil harus diberitakan kepada semua orang agar mereka dapat diselamatkan (Rm.1:17). Pengajaran merupakan pelayanan penting karena Kitab Suci bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, unuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Tim.3:16).
Dalam kehidupan pribadi pemahaman mengenai khotbah Alkitabiah dan penerapannya akan membentuk pengkhotbah menjadi orang percaya dewasa karena terus-menerus bergaul dengan Allah dan firman-Nya. Dalam pelayanan, pelajaran ini akan memantapkan dan memperbesar dampak khotbah kita. Dengan demikian, tentu saja jemaat pun akan mengalami pertumbuhan sejalan dengan pertumbuhan rohani pengkhotbahnya.
Mari, kita tanggapi panggilan berkhotbah dengan memahami arti dan maksud khotbah Alkitabiah, menyiapkannya dengan cara yang diajarkan oleh Tuhan sendiri dan menyampaikannya dengan semangat yang berkobar-kobar (bukan berkoar-koar) dan tetap mengandalkan pimpinan Roh Kudus.

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | , | Tinggalkan komentar

Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Tulisan  ini semula merupakan bahan pelajaran tentang berkhotbah yang disampaikan kepada para Majelis, Diaken dan Ketua Komisi di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Ekklesia Denpasar dalam enam kali pertemuan bulan September–Nopember 2010. Ada beberapa hamba Tuhan di luar jemaat kami mengikuti pelajaran itu.

Sementara mengajar para pelayan jemaat tersebut saya berniat untuk mengembangkannya menjadi buku. Dan gairah untuk membukukannya terpacu oleh undangan mengajar lagi mata kuliah Homiletik di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Missio Dei Bali, almameter saya. Gairah ini semakin dikobarkan oleh undangan mengajar ilmu berkhotbah di lembaga pelatihan Promised Land Training Centre (PLTC) Denpasar.

Tulisan ini dipersembahkan kepada Tuhan Yesus untuk memperlengkapi hamba-hamba-Nya dalam pelayanan berkhotbah.

Nama Tuhan Yesus saja dimuliakan!

Budi Kasmanto

Februari 2011

21 Januari 2012 Posted by | Homiletik | , , | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.